Yuval Harari dalam bukunya yang terkenal, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2016), menyebutkan bahwa semenjak manusia Homo Sapiens mulai bercocok tanam, terjadi pergeseran paradigma dalam narasi kehidupan manusia. Narasi kehidupan kita berubah dari narasi ekosentris, di mana manusia merupakan salah satu pemeran di dalamnya, menjadi narasi antroposentris, di mana manusia adalah tokoh utama.

Pergeseran paradigma ini menyesuaikan dengan keadaan di mana manusia tidak lagi bergantung pada alam dengan berburu dan meramu, namun menjadi penguasa atas nasibnya sendiri melalui bercocok tanam. Dengan bertani dan berternak, manusia telah bertransformasi menjadi tuan atas alam (atau setidaknya merasa seperti itu). Untuk mendukung perubahan itu, narasi antroposentris menjadi hal yang umum dalam banyak hal kepercayaan dan mitologi.

Agama-agama Samawi menempatkan manusia sebagai pusat dari narasi keagamaannya. Manusia adalah pengganti Tuhan di muka bumi dan berada di puncak dari segala ciptaan-Nya, begitu kira-kira isi narasi itu. Drama dalam narasi itu hanya berkisar pada pertentangan antara Tuhan dan manusia, “ciptaan-Nya yang paling sempurna”. Makhluk hidup lain dikepinggirkan dan hanya berdiri di latar belakang.

Apa konsekuensi dari narasi tersebut? Manusia kini merasa berhak memanfaatkan alam untuk kebutuhannya karena kedudukannya yang “khusus” itu. Fatalnya, manusia sering menyalahi “hak” itu dengan melakukan eksploitasi yang merusak dan menyakiti ekosistem yang kita miliki. Perkembangan agrikultural akan terus berhadap-hadapan dengan kelestarian lingkungan.

Tidak heran jika salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku pro-lingkungan adalah dengan mempertimbangkan ulang antroposentrisme tersebut. Sebagai landasan dalam menentang narasi antroposentris tersebut adalah dengan menciptakan narasi di mana manusia berinteraksi dengan alam sekitarnya, baik secara langsung maupun melalui lewat perwujudan-perwujudan tertentu.

Dalam dunia perfilman, salah satu studio yang aktif dalam menciptakan narasi tersebut adalah Studio Ghibli di Jepang. Melalui beberapa karya animasinya, seperti My Neighbor Totoro (1988), Spirited Away (2001) dan Ponyo on the Cliff by the Sea (2008), Ghibli membangkitkan kembali hubungan antara manusia dan lingkungan hidup lewat narasi yang tidak kaku ataupun formal. Salah satu karya Ghibli yang terkenal adalah My Neighbor Totoro (1988) merupakan contoh klasik dalam pembentukan narasi kontra-antroposentrisme.

Dijelaskan dalam buku Studio Ghibli: The Films of Hayao Miyazaki and Isao Takahata (2015) yang ditulis Colin Odell dan Michelle Le Blanc, film My Neighbor Totoro berkisah tentang petualangan gadis muda, Satsuki, dan adik perempuannya, Mei. Mereka pindah bersama ayah mereka sebuah pedesaan Jepang pada tahun 1950an agar mereka bisa dekat dengan rumah sakit di mana ibu yang dalam masa penyembuhan dirawat. Mereka menempati suatu rumah yang telah lama tak dihuni dan dipenuhi hantu debu (susuwatari) yang berkeliaran ketika cahaya masuk ke dalam ruangan.

Dikisahkan bahwa suatu hari Mei mendapati makhluk-makhluk kecil penunggu hutan Tsukamori di dekat desa dan mengikuti mereka hingga ke dalam hutan, ke sebuah tempat di bawah pohon barus besar yang dianggap keramat. Di sana Mei mendapati Totoro, sang penghuni pohon keramat berwujud makhluk besar berbulu. Alih-alih takut, Mei mendekati Totoro yang saat itu sedang tertidur untuk berteman. Setelah nantinya Mei berhasil meyakinkan Satsuki tentang pengalamannya, keduanya kemudian memulai petualangan dengan Totoro dan beberapa arwah penunggu hutan lainnya, seperti siluman kucing berwujud bus.

Dilatari oleh perkembangan ekonomi Jepang pasca-Perang Dunia II, My Neighbor Totoro disajikan untuk mereka ulang hubungan masyarakat Jepang dengan lingkungan di tengah meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi. Totoro dan teman-temannya menyajikan realisme di balik fantasi yang ditawarkan melalui latar pedesaan dan hutan. Latar dalam film didasarkan oleh desa di mana Hayao Miyazaki, sang produser dan kreator Totoro, tinggal ketika kecil.

Masyarakat Jepang sendiri awam dengan konsep satoyama, hutan yang dekat dengan pedesaan, seperti pada film Totoro. Catherine Knight pada penelitiannya yang dimuat dalam Asian Studies Review pada 2010, “The Discourse of “Encultured Nature” in Japan: The Concept of Satoyama and its Role in 21st-Century Nature Conservation”, menjelaskan satoyama sebagai konsep masyarakat Jepang mengenai sekat alami antara pemukiman manusia dan hutan yang belum terjamah.

Desa-desa di Jepang menggunakan satoyama sebagai sumber kayu bakar dan tanaman-tanaman liar yang bisa dimakan. Sebelum mengenal pertanian, satoyama telah dipakai masyarakat pra-sejarah Jepang sebagai sumber penting bagi bahan makanan mereka. Ketika Jepang mengalami urbanisasi dan industrialisasi, hutan-hutan berubah menjadi area perumahan terutama di area perkotaan besar, dan bersamanya satoyama mulai terlupakan.

Totoro sendiri yang ditampilkan di pohon besar dekat desa merupakan penjelmaan dari satoyama; Totoro pada dasarnya adalah suatu kami, dewa atau roh, pelindung hutan. Hal ini selaras dengan kepercayaan Shinto yang dianut masyarakat Jepang umumnya. Totoro adalah penjelmaan alam, wujudnya tidak seperti suatu binatang atau makhluk hidup lain. Sosoknya yang asing namun familiar seakan menggambarkan bagaimana manusia memandang alam.

Jeff Lenburg dalam Hayao Miyazaki: Japan's Premier Anime Storyteller, Legends of Animation (2012) menyebut jika hubungan itu digambarkan tidak terjadi begitu saja. Totoro hanya penasaran dengan Mei awalnya, namun berkembang menjadi persahabatan setelah baik Satsuki dan Mei menunjukkan rasa hormatnya kepada Totoro. Film tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap lingkungan hidup dapat menghasilkan keselarasan dan timbal balik.

Ketika Mei pertama kali bertemu dengan Totoro, Totoro digambarkan sedang tertidur. Saat Mei, mewakili suatu generasi baru masyarakat Jepang, menunjukkan ketertarikannya kepada sang pelindung hutan, Totoro terbangun dari tidurnya hingga nantinya aktif menjadi teman bermain dan pelindung bagi Mei dan Satsuki. Ghibli menyiratkan bahwa ketika manusia menemukan kembali hubungannya dengan alam, alam akan memberikan apapun termasuk perlindungan bagi keberlanjutan hidup kita.

Sekalipun manusia mengetahui seperti alam itu, manusia sudah memisahkan dirinya selama berabad-abad. Manusia yang dulunya akrab dengan alam di awal periode evolusionernya, kini merasa asing, bahkan mungkin takut, untuk berinteraksi lagi dengannya. Interaksi hangat yang ditunjukkan Totoro dengan Satsuki dan Mei menggambarkan usaha Ghibli untuk mempertemukan kembali alam dan manusia dalam suatu narasi yang baru.

Melalui Totoro, masyarakat Jepang diingatkan kembali terhadap kehidupannya yang selaras dengan alam. Narasi yang berusaha dibangun adalah ketika manusia berhenti merasa berkuasa atas alam dan mulai bersikap hormat atasnya, keseimbangan yang baru akan tercipta. Pada dasarnya, manusia tengah menghitung mundur kehancurannya sendiri dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Drama yang nyata menurut My Neighbor Totoro adalah drama bagaimana manusia dan alam menemukan cara untuk hidup bersama, bukan drama mengenai manusia yang berseteru atas hak dan kekuasaannya kepada Tuhan.

Setelah pemutarannya, My Neighbor Totoro berhasil menginspirasi gerakan lingkungan hidup besar-besar di Jepang. Le Blanc dan Odell menyebut jika My Neighbor Totoro telah menjadi menginspirasi perasaan positif rakyat Jepang terhadap hutan pedesaan atau satoyama dan kehidupan pedesaan secara umum. Hal itu menunjukkan bahwa untuk menumbuhkan kesadaran dan perilaku pro-lingkungan, kita pertama perlu mengubah paradigma kita dari berperan sebagai “penguasa atau khalifah Tuhan atas alam” menjadi “teman terhadap alam” di mana kita berdiri setara, bukan di atas, dari alam itu sendiri.