Siang yang panas mendatangkan gerah. Jalanan lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Bising kendaraan-kendaraan dan suara para pejalan kaki naik ke telinga. Mereka tampak lebih terburu-buru, seakan hidup mereka berakhir hari ini. 

Di etalase, para pedagang sibuk menjajakan barang-barang dagangan. Beberapa lagu dangdut diputar dari radio dengan volume tidak penuh. Kota di bawah matahari siang ini sangat bising, ramai, dan gerah. 

Marianus mengendarai sepeda motor bututnya di bawah matahari. Sepeda motor ini diperolehnya dengan menukarkan seekor kuda jantan kepada seorang saudagar sehari setelah peristiwa pemakaman istrinya. 

Kematian istrinya membuat ia memikirkan banyak hal. Ia memikirkan ratap tangis keluarga, teman-teman, dan anak-anaknya. Mengapa kematian menyisahkan kesedihan? Jika hidup berakhir dengan kematian, maka apa yang membuat hidup ini bermakna? 

Pertanyaan-pertanyaan itu mendorongnya mendapatkan sebuah sepeda motor butut agar dapat menyaksikan kesibukan manusia, memikirkan dan menulisnya. Apa yang membuat hidup ini bermakna?  

Di jalanan, ia memerhatikan ketergesaan banyak orang. Meski demikian, mereka tetap patuh pada beberapa hal:

Pada langkah kaki yang tidak lebih cepat dari angan mereka,  pada jam yang terus berdetak menghitung  waktu yang berbeda melalui angka yang sama, dan pada lampu lalu lintas yang telah dahulu menyala di perempatan jalan.

Keadaan itu menggodanya untuk sekedar berdiri dan mengamati. "Ada sesuatu yang harus dipatuhi manusia dalam hidupnya yang sementara ini," bathinnya. 

Lalu, ia putuskan untuk merapatkan sepeda motor bututnya pada sebuah kios kecil dekat selokan penuh sampah musim hujan dan genangan air yang telah dahulu berubah warna. Ia ingin membeli sebungkus rokok dan menikmatinya.

Pemilik kios, lelaki paruh baya, berambut pendek kehitaman,  berkumis tebal dan berjanggut yang dicukur tidak rapi, tengah sibuk menekan tombol-tombol telepon genggam. Ia tidak memedulikan kedatangan Marianus ke kiosnya.

Anaknya, lelaki kecil beraut wajah mirip ayahnya itu, sedang memelototi film kartun pada televisi di hadapannya. Di pangkuannya, ada sepiring nasi yang sebagiannya berhamburan di lantai dan melengket di celananya.

Marianus menyapa secara sopan beberapa kali tanpa balasan. Ribut kendaraan dan musik tetangga menutupi sapaannya. Ia memutuskan melangkah ke dalam. 

Sang ayah baru sadar setelah disapa dari dekat, sementara anaknya tidak menoleh sama sekali. Barangkali, ia juga patuh pada televisinya. 

Marianus menyodorkan selembar uang lima puluh ribu dan menunggu kembalian. Laki-laki itu harus melayani istrinya yang keburu keluar jauh bersama anak perempuan mereka. 

Tepat saat itu juga,  seorang anak laki-laki, berumur belasan tahun memasuki kios dengan cemas dan lugu lagi polos. Ia berkeringat. Ia mengenakan topi kumal. 

Ia bermaksud membeli sebotol bensin untuk menghidupkan lagi motor yang dikendarai bersama temannya. Rupanya motor mereka kehabisan bensin pada siang itu. Sehingga keringat di jidatnya bisa jadi adalah hasil dari usahanya mendorong sepeda motor.

Di luar,  temannya menunggu penuh cemas. Ada rasa takut menempel lekat di wajah ovalnya. Mereka seperti telah bersepakat akan cara mendapatkan sebotol bensin. 

"Berapa harga sebotol bensin, Pak?" tanyanya penuh keluguan di hadapan pemilik kios. 

"Sepuluh ribu rupiah." Tuan kios menjawab singkat sambil menghitung uang kembalian Marianus. 

Calon pembeli itu diam. Ia seakan memikirkan sesuatu usai mengetahui harga bensin. 

"Pak, bolehkah aku menitipkan topiku ini untuk sebotol bensin karena aku lupa membawa uang? Aku segera kembali lagi untuk mengambil topi ini dan membayar sebotol bensin ini," tuturnya polos dan jujur. 

Kejujuran dan kepolosannya dibalas dengan senyuman sinis pemilik kios. Ia menyampaikan bahwa sudah terlalu banyak kebaikannya yang dibalas dengan rupa-rupa kebohongan pembeli. Alhasil, ia menolak permintaan lelaki kecil itu. 

Marianus menyaksikan peristiwa ini dalam diam. Ia melihat ada kejujuran di mata dan keberanian yang tumbuh dalam diri anak itu. Lalu, ia membayar sebotol bensin untuk mereka.

"Terima kasih sudah membantu kami berdua," ucap si penawar setelah mendapatkan sebotol bensin. 

"Tiap keberanian patut mendapat upah. Dan aku membayar keberanianmu," ucap Marianus seraya menepuk bahunya.

Mereka pergi setelah menyampaikan terima kasih yang menurut Marianus tidak berguna. Sebab, harga keberaniannya lebih mahal ketimbang harga sebotol bensin.

Di hadapan sepeda motornya, diam-diam Marianus mengagumi satu hal dari anak itu. Keberanian. Anak itu tahu sebuah topi kumal sangat tidak layak dan akan ditolak,  tetapi ia berani. Ia tahu ia akan gagal dan ditolak, tetapi ia tetap berani.

"Jika hidup berakhir dengan kematian, maka apa yang membuatnya bermakna? Barangkali keberanian," bathinnya di depan sepeda motor butut. Lalu, ia menyalakan sepeda motornya dan pergi.