Aku Zarathustra yang tak bertuhan! Aku memasak semua kesempatan dalam periukku sendiri. Dan setelah matang barulah aku menerimanya sebagai makananku.

Potongan kutipan di atas adalah bentuk kegilaan Friedrich Nietzche dalam bukunya Sabda Zarathustra dengan judul asli "Thus Spake Zarathustra". Nietzche dengan lantang mengatakan, bahwa Tuhan telah mati. Dan kitalah yang telah membunuhnya.

Keberanian Nietzche kala itu, dikarenakan ia melihat tidak berperannya kepercayaan manusia akan Tuhan dalam kehidupan. Telah terjadi kesenjangan yang sangat lebar dalam kehidupan beragama manusia.

Metafor-metafor tersebut adalah upaya menggambarkan nyali manusia yang tak berserah diri kepada Tuhan. Mereka seolah menghadirkan Tuhan dalam diri dengan segala keburukan kualitas moralitasnya yang tersesat.  

Situasi-situasi paradoks yang digambarkan Nietzche dalam bukunya, seolah kembali lahir di zaman ini. Aksi-aksi intoleransi dan radikalisme sebagai dampak fanatisme belaka akan sesuatu hal yang berkenaan dengan agama, politik dan dimensi lainnya, justru semakin merajalela.

Diperparah dengan geliat politik yang menjadikan agama sebagai senjata kepentingan. Agama dijadikan dasar untuk menghina, menghasut, dan memprovokasi hingga melahirkan konflik-konflik sosial yang berkepanjangan. Tak perlu saya menjelaskan bagaimana bobroknya perang antarumat beragama di Indonesia hingga hari ini.

Setidaknya, aksi saling serang rumah ibadah dan pergunjingan di berbagai sentralitas kehidupan yang dapat disaksikan sendiri, bisa memperkuat interpretasi kita bahwa ada yang tidak selaras dan seimbang dari konsep beragama kita.

Sebuah buku Nietzche and the Modern Crisis of the Humanities (1976) yang ditulis oleh Peter Levine sebagai manifestasi gerak positif dari dampak dekadensi moral yang terjadi. Menguak fakta, bahwa kesangsian Nietzche akan kehidupan karena melihat skeptisme dan nihilisme yang terjadi dalam masyarakat Yunani Kuno kala itu.

Dalam tulisannya, Peter Levine menggambarkan Nietzche sebagai perempuan. Dalam membahas perempuan Nietzche, memaparkan bahwa perempuan mewakili sebuah model tentang masyarakat yang melampaui kebenaran dan kebohongan.

Bagi Nietzche, perempuan-perempuan diilhami kearifan. Dengan ketajaman insting perempuan yang luar biasa, kesopanannya bukan sama sekali kemunafikan yang secara sadar dilakukan. Ya begitulah Nietzche, kehidupan baginya adalah seorang perempuan.

Pemahaman Nietzche tentang perempuan yang abadi adalah sebuah himne pujian dan penggambaran diri, yang bersembunyi  di tengah pengalihan yang menunjukkan tentang perempuan sebagai juru masak, dan lain sebagainya.

Itulah gambaran ideal tentang bagaimana sejatinya kehidupan ini. Bahwa perempuan, adalah lakon sesungguhnya dari tingkah laku manusia. Jiprakan tentang ideologi dan toleransi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari menifestasi perempuan.

Perempuan merupakan penggambaran paling utuh tentang bagaimana menciptakan kedamaian, kecantikan, daya tarik, dan dandanan untuk menepis sebuah gelagak perpecahan.

Itulah mengapa, selama ini gerakan-gerakan  intoleransi dan radikalisme yang terjadi, sangat jarang kita menemukan perempuan menjadi aktor intelektualnya. Hampir setiap saat, kita menyaksikan bahwa laki-lakilah yang memulai segala kesemrawutan dan perpecahan selama ini. 

Realitasnya di Indonesia, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation, UN Women, dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilaksanakan pada Oktober 2017, kemudian dipaparkan media di akhir Januari tahun ini, tentang potensi intoleransi dan radikalisme khususnya di kalangan perempuan muslim sangat membanggakan.

Hasilnya sebanyak 80,7% perempuan di Indonesia mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama dan keyakinan. Bahkan, 80, 8% perempuan tidak bersedia menjadi radikal. Ini menjadi isyarat, bahwa perempuan merupakan aktor kunci untuk memotong laju intoleransi dan radikalisme di kalangan masyarakat.

Yeni Wahid selaku Direktur Utama Wahid Foundation menuturkan bahwa selama ini potensi perempuan dalam perdamaian seringkali diabaikan. Hal itulah yang membuat narasi perempuan jatuh ke lubang radikalisme lebih banyak. Menurut Yeni Wahid, dengan data tersebut menunjukkan bahwa upaya terus menurus mengarusutamakan gender serta pemberdayaan perempuan adalah agenda strategis dalam upaya penguatan toleransi dan perdamaian di kalangan perempuan. 

Meskipun, tak bisa dielakkan bahwa selama ini perempuan selalu saja berada di bawah bayang-bayang superior laki-laki. Simone de Beauvoir (1989) dalam bukunya Second Sex menuturkan, doktrin yang selama ini tertanam dalam akar kehidupan manusia, yakni kemanusiaan adalah laki-laki dan laki-laki mendefinisikan perempuan bukan sebagai dirinya, namun sebagai kerabatnya; perempuan dianggap sebagai makhluk yang tidak mandiri.

Juga ketika Sigmund Freud beranggapkan bahwa sumber identifikasi diri manusia adalah penis. Dengan kata lain, bahwa alat kelamin perempuan tidaklah penting.

Asumsi yang muncul dari pernyataan di atas,  bahwa begitu tidak pentingnya seorang perempuan dalam hidup ini. Perempuan hanya dijadikan sebagai simbol-simbol seksualitas belaka dan tidak memiliki kontribusi dalam perjuangan lain yang nyata. 

Bahkan, ketika semua agama menghadirkan dan merepresentasikan Tuhan sebagai seorang laki-laki dengan segala identitas keperkasaannya. Perempuan tidak pernah menuntut hal itu.

Begitupun dalam konteks peribadahan, perempuan selalu menyiapkan laki-laki untuk mengimami dirinya. Begitulah karakter perempuan. Menerima segala regulasi keagamaan sebagai sebuah ketetapan. Dan memuskilkan lakon untuk menertibkan hasrat "menguasai".

Lalu, ketika sebuah dogma seksisme dari umat muslim yang mempercayai bahwa ada 72 bidadari perawan yang dipersiapkan di surga, perempuan tidak pernah sama sekali menantang hal itu. Semua diterima sebagai suatu kepatuhan. Begitu tolerannya sosok perempuan.

Satu-satunya yang diperjuangkan perempuan selama ini, yakni mengolah pengharapan akan kesetaraan gender, sebagai hasil konstruk kultural dan realitas sosial yang memojokkan kaumnya. Tentang stereotip, marginalisasi, subordinasi, violence, dan label-label stigma lainnya yang melekat. Kesemuanya mengarah pada terbebasnya dari genggaman kuasa laki-laki.

Pertanyannya kemudian, berapa banyak kaum perempuan yang menjadi pucuk pimpinan dalam kehidupan beragama dan berbangsa kita? Tentu jumlahnya sangat nihil. Dominasi laki-laki dalam segala lini kehidupan manusia adalah pancang prasasti dari historikal kita.

Akan tetapi kenapa perebutan "kedamaian" belum juga menemui hasil yang memuaskan. Ini membuktikan peran laki-laki tidak begitu signifikan untuk memelihara toleransi dalam kehidupan. Maka dengan begitu, kita membutuhkan sosok perempuan sebagai agen alternatif untuk memupus disharmonis dalam masyarakat. 

Untuk itulah, mari kita sama-sama belajar dari perempuan. Tentang tuturnya yang lembut nan sopan, tentang caranya mengasihi, juga tentang cara menghargai dan menghormati dari setiap disparitas sosial yang ada.

Kita tidak boleh menafikkan bahwa Indonesia hari ini, membutuhkan sosok perempuan untuk terus merawat tenung kebangsaan kita yang mulai robek karena gerakan-gerakan intoleransi dan radikal. Agen penting untuk menjadikan Indonesia penganut toleransi dan penuh kedamaian, sehingga terbentuk kohesi sosial yang diidam-idamkan selama ini oleh agama dan bangsa kita. 

Menjadi perempuan bukan berarti merusak tatanan kemanusiaan kita dengan mengabdi dan mengilhami sebagai kesepakatan lahir dan batin. Bukan itu. Menjadi perempuan adalah mendengungkan kebesaran jiwa untuk menerima segala perbedaan yang terjadi dari situasi kebangsaan.

Seperti adegium yang selalu didengungkan oleh pemuka agama bahwa perempuan adalah tiang negara. Jika perempuan rusak maka rusak pulalah negara. Hal itu menegaskan, betapa pentingnya sosok seorang perempuan. 

Selama tidak melukai yang lain. Biarlah agama berjalan sesuai dengan kepercayaan yang dianut. Biarlah agama bekerja untuk memompa perbaikan moral umatnya. Dan perempuan tetaplah menjadi sumber keteduhan dari segala terik yang ada. (*)