Presiden Jokowi yang terhormat.

Habis sudah kesabaran saya melihat cara Anda menangani Hak Asasi Manusia, termasuk kebebasan beribadah bagi semua pemeluk agama dan keyakinan di Indonesia tercinta ini.

Selalu saja ada masalah intoleransi meletup di sudut-sudut bumi pertiwi ini. Tapi Anda hanya diam seribu bahasa. Di saat yang sama, Anda menjual "toleransi umat beragama Indonesia" di panggung politik dunia. Seakan-akan di Indonesia ini tidak ada malasah intoleransi.

Anda menipu dunia.

Pada priode pertama, saya dan hampir semua minoritas menjadi pemilih Anda. Setiap Anda berkampanye di daerah-daerah minoritas, Anda dielu-elukan bak mesias, sang juru selamat yang akan menjadi pengayom minoritas.

Kaum minoritas terutama Kristen berharap bila Anda jadi Presiden, pembakaran gereja dan pelarangan umat untuk beribadah tidak terjadi lagi seperti periode sebelumnya. Di samping minoritas, pemilih Anda adalah muslim moderat yang toleran.

Kami merasa tertipu oleh kesantunan Anda.

Tahun 2019, saya tetap memilih Anda walaupun kecewa karena Anda memilih Ma'ruf Amin menjadi wakil. Saya dan sebagian minoritas saling membesarkan hati bahwa Anda masih layak dipilih walaupun dengan wakil yang menakutkan.

Saya ceritakan sedikit mengapa saya dan banyak minoritas pesimis dengan wakil Anda. Bermula dari saat Ahok diadili, Ma'ruf Amin adalah tokoh yang mengeluarkan fatwa dan memperberat dakwaan terhadap Ahok.

Beberapa kali Anda mengatakan bahwa Ahok adalah sahabat Anda, tapi sebagai sahabat, Anda kok tak pernah memberikan dukungan secara terbuka kepada Ahok selama persidangan? 

Anda pun tidak pernah menjenguknya di Rumah Tahanan Brimob. Apakah Anda terlalu terhormat untuk memberikan dukungan moral kepada seorang sahabat yang sedang terpuruk?

Demi takhta, dengan perhitungan suara yang bisa direbut dan tetek bengeknya, Anda memutuskan memilih Ma'ruf Amin sebagai wakil, padahal tokoh itu sudah menyakiti sahabat Anda dan juga para pendukung Ahok.

Pendukung Ahok itu tidak hanya di Jakarta, tapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Ketidakadilan yang ditimpakan kepada Ahok dirasakan oleh semua pendukungnya. Betapa malangnya Ahok dikhianati berulang-ulang oleh sahabatnya sendiri.

Pilpres 2019 kemarin, sebenarnya saya ragu untuk memilih Anda. Tapi pilihan sangat sulit, rasanya seperti antara memilih macan atau buaya. Akhirnya saya tetap memilih Anda.

Sejak Anda mengumumkan nama-nama Menteri Kabinet, saya sudah punya firasat bahwa priode kedua ini akan berantakan. Anda dengan tegas mengatakan tidak ada visi-misi Kementerian, yang ada hanya visi-misi Presiden.

Saya menerjemahkannya: meteri-menteri yang bekerja di bawah Anda itu adalah robot-robot yang sudah diprogram. Saya menangkap apa pun yang dikatakan atau dilakukan para Menteri sudah sejalan dengan visi-misi Anda. Demikian, bukan?

Jadi, bila ada Menteri yang selalu bikin keributan di masyarakat, maka menurut saya itu sudah sejalan dengan visi-misi Anda.

Jika Menteri Dalam Negeri tidak menangani Gubernur-Gubernur di bawahnya, yang berlaku semena-mena terhadap minoritas, itu pun sejalan dengan koridor tugas yang Anda berikan. Itu persepsi saya.

Kenapa Menteri-menteri Anda itu selalu bertindak setelah sebuah kasus heboh? Perangkat pemerintah ada dari pusat sampai daerah, tapi tidak mampu menangani keamanan dan kenyamanan warga? Harus ribut dulu baru Menteri bekerja? Apakah Anda tidak malu?

Kemarin rakyat diributkan dengan isu bahwa negara mengkaji pemulangan kombatan ISIS dan keluarganya. Isu sensitif yang menyakitkan diungkit lagi. Banyak korban bom gereja merasakan sakit lagi setelah mendengar rencana tersebut. Ketakutan kembali muncul. Berapa gereja lagi yang akan dibom supaya kalian puas?

Tahukan kalau deradikalisasi itu hanya berhasil 30%? Yang 70%-nya akan beraksi lebih mengerikan. 

Target pertama kaum radikal itu ya kami, kelompok minoritas. Ini teror bagi kami. Haruskah kami senantiasa diperiksa setiap kali memasuki gedung gereja untuk beribadah karena ditakutkan ada teroris yang menyusup?

Pemeriksaan setiap kali memasuki rumah ibadah itu merupakan teror tersendiri bagi kami. Kalau bisa mengurangi potensi teror dengan tidak memulangkan mereka, kenapa opsi itu dipertimbangkan? Apakah memang berniat kembali meneror kami kaum minoritas?

Kami yang baik-baik di sini tidak melakukan aksi makar dan rajin membayar pajak, mengapa kami juga yang harus jadi korban ketakutan? Kapan Anda berpihak kepada minoritas yang ikut mendudukkan Anda di kursi kepresidenan itu untuk kedua kalinya?

Hari ini beredar video ribuan warga Batak berdemo damai dengan tagar #SaveBabi yang dilakukan di Medan, Sumatra Utara. Hal ini dipicu oleh keinginan Gubernur Sumut untuk menghapuskan babi di Sumatra Utara. Tahun lalu juga Gubsu pernah melemparkan ide untuk menjadikan Danau Toba wisata halal.

Tengoklah gubernur Anda ini sama sekali tidak sensitif. Dengan label wisata halal, maka tidak boleh ada unsur-unsur haram di sana. Dengan kata lain, babi yang menjadi makanan favorit dan juga makanan untuk menjalankan adat Batak juga harus harus dihilangkan dari penglihatan.

Orang Batak hanya boleh makan babi secara sembunyi-sembunyi di rumahnya sendiri. Ini penjajahan! Isu yang tidak bijak ini kembali menyakiti hati warga Batak yang cinta terhadap budaya dan kulturnya. Apakah wisata halal Danau Toba dan penghapusan babi di Sumut itu juga visi-misi Anda?

Anda sebagai Presiden tidak pernah kudengar memberi peringatan keras kepada Pemda yang daerahnya sedang mengalami gejolak intoleransi untuk menindak tegas pelaku intoleransi.

Maafkan saya, pernah dua kali anak buah Anda dengan sangat sigap dan cepat mengatasi intoleransi, yaitu ketika ada pembakaran masjid di Papua dan pengrusakan musala di Bitung. Keduanya segera diselesaikan. Pembangunan kedua masjid itu pun disegerakan.

Bagaimana dengan pembakaran dan penutupan gereja? Oh, itu tidak masuk dalam visi-misi Anda?

Pembakaran banyak gereja di Aceh Singkil sampai sekarang tidak ada pembangunan lagi. Warga dibiarkan beribadah di tempat yang tidak layak. GKI Yasmin yang selalu mengadakan ibadah di seberang istana tidak sedikit pun menggerakkan hati Anda untuk membantu mereka. Padahal dulu katanya Anda sangat mau mendengarkan keluhan orang kecil dan yang tertindas.

Masalah Gereja Paroki Santo Joseph di Karimun yang saat ini sedang memanas pun Anda diam saja. Padahal gereja itu memiliki nilai-nilai historis yang tinggi karena sudah berdiri hampir 100 tahun, lebih tua dari NKRI ini.

Kenapa perangkat Anda tidak bergerak memberikan penjelasan pada pihak pendemo tentang status gereja tersebut, sehingga tidak sampai memasukkan gugatan ke pengadilan?

Pemerintahan Anda ini acakadut sampai ke bawah. Anda hanya figur sebagai presiden; tapi di lapangan, Anda bukan siapa-siapa. Tidak ada yang takut dan menghormati Anda. Mereka melakukan intimidasi kepada minoritas dan Anda diam saja. Apakah Anda memang merestui tindakan mereka?

Presiden Jokowi, tolong jangan jual kata-kata “masyarakat beragama di Indonesia sangat toleran” kepada pemimpin-pemimpin negara lain. Toleransi di negeri ini sudah terbakar. Anda tidak usah mempromosikannya di panggung dunia. Malu saya.

Tak perlu juga membangun terowongn toleransi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Permainan simbol-simbol itu menyakitkan. Bila Anda memang ingin toleransi menjadi kenyataan di akar rumput, didik perangkat pemerintahan Anda untuk menjaga toleransi itu.

Saya takutkan mereka tidak paham batasan-batasan toleransi. Tugas Anda menggariskannya dan mengedukasi Pemda dan kepolisian daerah untuk memelihara toleransi itu di akar rumput.

Jangan sampai saya dan puluhan jutaan pendukung Anda—termasuk muslim toleran yang sudah muak dengan diamnya Anda—menganggap bahwa Anda sebenarnya musang berbulu domba.

Ekstremis yang berpakaian nasionalisme, yang membiarkan perlakuan sewenang-wenang terhadap warga minoritas. Anda yang menentukan citra diri Anda. Bila bukan itu sesungguhnya Anda, segera perbaiki aturan dalam pemerintahan Anda, terutama dalam hal berkeyakinan dan HAM.

Saya akan menganggap Anda PRESIDEN INTOLERAN sampai Anda memperbaiki keadaan.

Dari saya,
Pemilih Jokowi yang kecewa.