Beberapa bulan belakangan ini Bangsa tengah mengalami pertikaian dari banyak lini. Tak lain dan tak bukan adalah tentang agama dan etnis. Yang satu teriak bukan soal etnis, tapi yang beretnis mayoritas tak digugat. Yang satu teriak bukan soal agama, tetapi yang beragama mayoritas tak digubris.

Iya, maksud saya adalah hal-hal yang beririsan dengan kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama. Tak lama setelah itu, muncul kasus gerakan salat yang salah (salam ke kiri dahulu, baru ke kanan) dalam sebuah opera sabun di televisi swasta. Tapi yang kemarin berbondong-bondong menggugat Ahok di jalan-jalan, kini seakan tak menyentuhnya.

Dan bagaimana dengan kasus penistaan lainnya? Bagi saya, kasus korupsi pengadaan Al-Qur’an juga termasuk penistaan. Dan yang terbaru adalah kasus pembangunan Masjid. Ini yang kemarin sibuk melabel penggemar Ahok menfitnah Ulama, ke mana, Kawan?

Lalu Kawan-kawan pendukung Ahok yang di media sosial mengejek soal Fitsa Hats. Belum lagi yang mengejek mereka yang mudah melabel orang lain Kafir tapi masih bermain media sosial karya orang-orang Kafir. Ditambah oleh Kawan-kawan Muslim yang mengucapkan selamat berhari raya kepada Kawan-kawan yang berbeda agama, hanya supaya dianggap toleran?

Belum lagi yang teriak para kontributor Aksi Bela Islam itu tidak toleran, loh memang kalian itu toleran? Atau tidak peduli? Atau yang hanya diam dan mengatakan, “Sudahlah, Tuhan enggak perlu dibela. Sudahlah, mereka ini, yang penting aku tidak.” Ini toleran atau tidak peduli?

Memang kalian pikir, kalau kita teriak orang lain tidak toleran, lantas menjadikan kita adalah orang yang toleran? Mengapa sibuk menghakimi orang lain? Mengapa tak coba cek diri sendiri? Masihkah suka berpikir di dalam benak, “Ah dia mah Cina. Ah dia mah Kristen. Ah dia mah Islam. Ah dia mah penggemar Ahok. Ah dia mah penggemar Riziq.”

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” kata Pramoedya Ananta Toer.

Bersikap toleransi itu bukan menghina kaum yang berbeda, bukan juga menghina orang-orang yang berbeda pendapat, bukan juga menghina orang-orang yang tidak toleran dari sudut pandang diri sendiri.

Bersikap toleransi itu bukan dengan mengucapkan selamat berhari raya kepada penganut agama lain. Bersikap tegas juga tak bisa ditunjukkan dengan melarang mengucapkan selamat berhari raya kepada penganut agama lain. Bersikap toleransi itu bukan diam saja ketika apa yang menjadi kehormatan kita diusik. Bersikap tegas juga tak bisa ditunjukkan dengan teriakan-teriakan penghinaan terhadap orang-orang yang bersalah dari sudut pandang kita.

Menyoal ucapan selamat berhari raya, saya rasa Kawan-kawan Kristiani, Budha, Hindu, dan lainnya tidak akan merasa terganggung, atau kesal, atau bahkan ngambek ketika tidak kita ucapkan selamat berhari raya. Yang justru mengusik mereka adalah ketika seruan larangan mengucapkan selamat berhari raya itu diserukan di tempat umum.

Bagi saya, bertoleransi adalah dengan duduk bersama dengan mereka yang berbeda, menerima, berdiskusi, menangkap apa yang bukan sebagai keyakinan kita sebagai ilmu pengetahuan baru, tak mengusik keyakinan mereka, tak juga merasa terusik keyakinan kita hanya karena sebuah penghinaan.

Bagi saya, bertoleransi adalah dengan mencoba memahami sesuatu pada berbagai sudut pandang. Seperti mencoba memahami sosok Yesus dari sudut pandang Kristen, tetapi tidak meninggalkan sosok Yesus dalam sudut pandang Islam.

Kita tidak bisa mengatakan apa yang Kristiani yakini itu salah, jika kita masih menggunakan sudut pandang ke-Islam-an kita. Kita pun tidak patut berharap kalau Kristiani menganggap ajaran Islam itu benar.

Bukan juga berarti kita tak patut menyebarkan agama yang kita yakini paling benar. Tidak ada salahnya dengan Islamisasi, tidak ada salahnya dengan Kristenisasi, atau Budhaisasi, atau Hinduisasi. Tetapi apa esensinya mengajak orang-orang menjadi sepaham dengan mengejek apa yang sudah mereka pahami?

Silakan saja sebarkan agama yang Anda yakini. Namun gunakan langkah yang arif. Tunjukkan toleransi, dan biarkan mereka yang bertindak atas diri mereka sendiri. Tunjukkan ketegasan, dan biarkan mereka yang beralasan.

Toleransi atau tidak peduli? Tegas atau geragas? Coba tengok lebih dalam. Coba kenali lebih dekat. Setiap jengkal pikiran, setiap doa yang terpanjat, masihkah kita menyudutkan orang lain? Masihkah kita menghakimi kaum lain? Masihkah kita diam saja? Masihkah kita menyakiti hati manusia lain?