Ketika pertama kali saya memtuskan untuk hijrah ke Bali dari Jakarta, hal pertama yang saya bayangkan adalah ketenangannya. Berikutnya lagi adalah pantai, lalu berikutnya lagi adalah suasananya yang lebih santai dibandingkan dengan Jakarta. 

Pindah ke pulau tropis seperti Bali adalah bagian dari mimpi sejak lama.

Saya tidak merencanakan seberapa lama akan tinggal di Bali. Sebab kedatangan saya ke Bali seperti akan menjadi sebuah liburan yang panjang dan menyenangkan seperti pengalaman yang saya punya sebelumnya. 

Tetapi tentu, itu semua hanya pengalaman mengenai liburan saja. Artinya, tidak tinggal dalam jangka waktu lebih dari dua minggu.

Singkat cerita, sampailah saya di pulau ini dan tinggal selama kurang lebih satu setengah bulan, waktu yang cukup untuk mengetahui dan mengenal kehidupan di Bali. Manis dan pahit kehidupan di Bali setidaknya sudah saya alami melalui miniatur pengalaman ini.

Ada hal yang saya sukai dan yang tidak. Sepertinya itu adalah sesuatu yang wajar dan setiap orang memilikinya.

Mari memulai dari hal yang saya sukai. Pertama, saya tidak terjebak macet berjam-jam seperti di Jakarta. Hal itu tidak berarti di Bali tidak macet. Tentu saja ada macet, tetapi tidak separah Jakarta yang bisa berhenti di satu titik sampai lebih dari dua jam. Kalau iya, pasti hanya dalam rangka liburan panjang atau acara tertentu saja.

Kedua, saya tidak harus memikirkan pakaian apa yang akan saya kenakan saat keluar rumah. Cukup kaos tanpa lengan, celana pendek, dan sandal jepit. 

Ketiga, tentu yang seperti sudah saya bayangkan sebelumnya, setiap akhir pekan, saya bisa melihat pemandangan alam yang indah. Hal yang terakhir adalah yang paling saya butuhkan.

Keempat, saya bertemu banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Bahkan ketika baru sampai di Bali, teman baru yang saya punya adalah orang Jerman. Melalui hal itu juga saya sangat bersyukur bisa tinggal di Bali.

Mengapa begitu? Alasan paling dasar karena bahasa asing saya terasah. Jika bisa dinilai sebelum dan sesudah, saya yakin kemampuan mendengarkan, menulis, dan berbicara akan lebih baik sekarang.

Lanjut ke inti tulisan saya. Sejujurnya, memulai untuk hidup di Bali tidak mudah. Banyak hal yang harus diketahui tentang pulau ini, terutama mengingat sifat kedaerahannya yang masih sangat kuat. Tentu itu adalah suatu hal yang bagus, tetapi tidak semua orang bisa beradaptasi dengan hal itu.

Banyak orang datang dari berbagai negara untuk melihat keaslian budaya Bali. Sungguh menjadi sesuatu yang menguntungkan untuk kehidupan pariwisata di Bali. Tetapi karena hal itu juga, kehidupan saya di Bali menjadi sangat terganggu. Jujur saja, saya terkena imbas dari kehidupan pariwisata di Bali.

Apa itu? Paling besar pengaruhnya adalah soal biaya hidup. Mulai dari harga sewa tempat tinggal, makanan, listrik, bahkan jasa tertentu, saya bisa membayar dua kali lipat dibandingkan dengan harga di normal. 

Padahal, melihat kualitas barang atau jasa yang mereka tawarkan seringnya tidak selalu lebih baik. Saya menamainya diskriminasi harga.

Seiring dengan berjalannya waktu, bertemu dengan banyak orang, dan bercerita mengenai kehidupan di Bali, ternyata saya bukan orang pertama yang mengalami hal seperti diskriminasi harga. Banyak dari mereka yang mengalami perkara serupa. Terutama kalau mereka adalah ekspatriat, seperti menjadi sasaran empuk bagi mereka.

Tidak hanya teman-teman saya yang ekspatriat saja, saya juga sering mengalami hal tersebut. Contohnya, jika membeli makan nasi, telur, dan sayur, saya membayar dua puluh lima ribu rupiah, sedangkan teman saya (ekspatriat) membayar tiga puluh ribu rupiah. Padahal makan di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula.

Dua puluh lima ribu rupiah saja, bagi saya, sudah tidak wajar dengan menu yang saya pilih. Apalagi jika harus membayar dengan harga bule. Bisa dibayangkan seberapa banyak uang yang dikeluarkan untuk makan. Belum lagi kebutuhan lainnya yang juga dipukul habis-habisan secara harga.

Kebanyakan dari mereka memperlakukan kami seperti turis yang sedang berlibur di Bali. Padahal kami sedang tidak berada di kawasan wisata. 

Ada pula yang beranggapan bahwa bule selalu punya lebih banyak uang dibandingkan dengan orang Indonesia atau lokal. Hal itu tentu saja tidak benar. Sungguh tidak masuk akal.

Banyak teman saya yang mengeluhkan hal ini. Pengeluaran memang tergantung biaya hidup. Tetapi, jika begini caranya, segala kebutuhan pokok pun akan menjadi berat di kantong, bukan?

Hal berikutnya yang juga menyusahkan adalah sulitnya kendaraan umum di Bali. Sebagian besar orang yang datang ke pulau ini menyewa motor sebagai alat tranportasi harian mereka, rntah dalam rangka liburan atau tinggal. Jika tidak, pasti menjadi sulit untuk bepergian di kemudian hari. Dan pasti hal itu akan menambah pengeluaran.

Belum lagi budget untuk bahan bakar. Selama tinggal di Bali, saya banyak membandingkan kehidupan yang saya jalani di pulau ini dan Jakarta. Di Jakarta, saya hanya menghabiskan sedikit uang untuk transportasi. Transportasi juga tidak sesulit dan semahal di Bali.

Kedua, kesempatan berkarier lebih banyak dan bermacam-macam di Jakarta. Tidak ada yang bermalas-malasan atau membawa perasaan pribadi saat bekerja 

Terakhir dan yang paling penting adalah mengenai biaya hidup. Saya tidak mengalami diskriminasi harga di mana pun selama di Jakarta, baik soal tempat tinggal, makanan, atau jasa tertentu..

Jujur, ketiga hal itu adalah hal yang paling saya rindukan dari Jakarta. Terlepas dari macet dan polusi yang tidak ada hentinya, kehidupan di Jakarta tidak seburuk yang ada di benak saya.

Bagi saya, mengalami diskriminasi harga adalah hal yang tidak lebih baik daripada macet, apalagi jika harus mengingat standar pendapatan minimal di Bali lebih rendah dari Jakarta. Bagaimana bisa bertahan dengan diskrrminasi harga yang keterlaluan?

Dari pengalaman pribadi itu, saya menarik kesimpulan bahwa tinggal di Bali tidak seindah liburan di Bali, dan tinggal di Bali tidak seindah tinggal di Jakarta. Akhir dari kesimpulan itu bahwa, bagi saya pribadi, Bali adalah tempat yang cocok untuk liburan saja, bukan pulau yang cocok untuk saya tinggali dalam jangka waktu yang lama atau mengejar karier.