"Tatkala perempuan di dunia Barat sudah sadar, sudah bergerak, sudah melawan, maka perempuan di dunia Timur masih saja menderita pingitan dan penindasan dengan tiada Protes sedikit pun juga."

(Ir. Soekarno)

Mengapa dunia Barat? Lagi-lagi dunia Barat, dari mulut wanita Baratlah, Katharina Brechkovskaya mula-mula muncul seruan “Hai wanita Asia, Sadar dan melawanlah!”. Awal mula mengatakan 'pergerakan wanita' saat pecahnya revolusi Perancis dan revolusi Amerika abad ke-18, dari sini muncul semboyan kebebasan, persaudaran, dan kesetaraan. Keseteraan di gadang-gadang sebagai perjuangan melawan ketidakadilan gender seperti stereotip (pelebelan negatif), marjinalisasi (permiskinan ekonomi, pendidikan, dan politik), subordinasi, kekerasan, dan kebebasan intelektual.

Buku Wanita Bergerak menjadi salah satu bab di buku Sarinah: Kewegunaan Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia. Bung Karno dalam buku ini mengemukakan gagasannya tentang perempuan, femenisme, tipologi gerakan perempuan di dunia, dan bagaimana bentuk gerakan perempuan di Indonesia. Dari dunia Baratlah, Bung Karno memetakan tiga tipologi gerakan wanita di Indonesia.

Gerakan wanita tipologi pertama hanya menyempurnakan sosok ‘kewanitaan’ membentuk sebuah perserikatan. Berkutat pada aktivitas yang lebih mengukuhkan posisi wanita yang menjadi objek, subordinat, dan di bawah laki-laki.

Gerakan wanita tahap kedua, ditandai dengan lahirnya gerakan feminisme yang menjunjung perjuangan berbatas masalah dengan laki-laki, baik itu dalam politik dan pekerjaan. Banyak tokoh yang memperjuangkan tipologi ini antara lain. Mercy Otis Warren, Abigail Smith Adams dan Betsy Bakker Nort. Gerakan ini dikritik oleh Bung Karno, dianggapnya gerakan lingkaran menengah atas (bangsawan dan hartawan). Kritik ini disampaikan oleh Bung Karno, karena kaum feminis hanya memperjuangkan hak-hak wanita di atas politik.

Bung Karno menganggap bahwa kalangan wanita di atas, pada hakikatnya memperjuangkan dirinya sendiri. Ingin bekerja hanya untuk mengisi waktu luang, bosan di rumah (kerajaan), dan melupakan memperjuang kaum kelas bawahnya.

Pada pergerakan wanita, tipologi adalah peremajaan terakhir. Pergerakan sosialis, dalam gerakan ini kepentingan yang diperjuangkan tidak hanya dari wanita, akan tetapi juga kepentingan laki-laki. Tipologi akhir diharapkan lahirnya masyarakat yang setara. Perempuan dan laki-laki harus saling mengimbangi dan melengkapi dalam perjuangan apa pun, tidak bisa saling menghilangkan atau merendahkan satu sama lain.


Judul: Wanita Bergerak

Penulis: Ir. Soekarno

Tebal: x + 142 halaman

ISBN: 978-602-9020-47-2