Demokrasi langsung yang kekuasaan berada di tangan rakyat harus diperebutkan oleh capres dan cawapres. Perebutan ini tak bisa hanya bermodalkan asumsi semata, namun juga diikuti oleh modal yang lain guna memperoleh hegemoni rakyat. Dalam upaya merebut hegemoni simpati dan suara rakyat, menurut Antonio Gramsci, mereka memerlukan tiga moda,  yakni intelektual, sosial, dan ekonomi.

Modal intelektual menjadi dasar untuk menyusun strategi, baik menghadapi lawan politik maupun rakyat yang majemuk. Tentu strategi menghadapi kalangan tradisional akan berbeda dengan kalangan ningrat. Ketua tim pemenangan menjadi unsur vital dalam modal intelektual ini. Kematangan dan kelihaian melihat dinamika pemikiran rakyat tentang calon yang diusung serta sikap seperti apa yang harus diperlihatkan untuk menjaga hegemoni suara akan ditentukan oleh modal intelektual.

Modal intelektual memang lebih cenderung kepada tim pemenangan. Berbeda dengan modal sosial yang lebih kepada personal calon. Modal ini justru paling berpengaruh.

Teori modal sosial mengasumsikan, semakin kita terhubung dengan orang lain, semakin kita mempercayainya. Kepercayaan publik tentu tidak datang tiba-tiba, terutama dari pemilih rasional. Sebuah kepercayaan dibangun atas dasar hubungan yang baik, prestasi, jejak langkah perilaku, dan pendidikan. 

Dalam pilpres ini, memasukkan unsur agama dalam personal branding sangat terlihat. Kita melihatnya dalam diri cawapres Sandiaga Uno yang dijuluki awalnya santri post-Islamisme dan terakhir sebagai ulama.

Yang menjadi pertanyaan, usaha pemaksaan ini apakah berhasil memengaruhi pemilih atau tidak? Atau justru kontraproduktif?

Dalam modal sosial, yang paling ditekankan adalah kepercayaan. Sebuah kepercayaan tak bisa dipaksakan. Maka jika usaha membranding yang tak sesuai dengan latar belakang sosial ini terus dilakukan, pemilih rasional akan lari. Karena jelas hal itu tak sesuai dengan realitas. Karena kampanye yang baik dan mendidik adalah beradu program, wacana, dan prestasi, bukan dengan menonjolkan identitas yang tak sesuai.

Modal terakhir dan tak kalah menentukan adalah ekonomi. Barangkali karena faktor ini kubu penantang memilih Sandi. Karena dalam pilpres perlu modal ekonomi yang tak sedikit, mengingat cakupan wilayah Indonesia yang begitu luas untuk kampanye: menggerakkan mesin partai, biaya saksi, dan “membeli” suara. 

Modal ekonomi menjadi penting bagi kalangan tipe pemilih pragmatis. Kubu petahana memang diuntungkan sebagai pemegang kekuasaan saat ini. Namun kubu penantang juga mengimbangi dengan dicalonkannya Sandi yang memiliki modal ekonomi.

Dalam pemilu terkadang bisa dipandang dari teori pengetahuan Hegel, yakni ada tesis, antitesis, dan sintesis. Dalam pilpres kali ini bisa dilihat fenomena ini. Jika salah satu kubu melemparkan sebuah wacana program, maupun pelaksanaannya juga calon, bisa dibilang ini sebuah tesis, maka kubu yang lain akan merespons dan berusaha mencari antitesisnya.

Contohnya dalam adu tagar dalam media sosial, penunjukkan calon pendamping presiden antara ulama dibalas milenial, pelaksanaan program dan pengkritikan program. Hal ini adalah tesis dan antitesis. Sedangkan dari adu tesis dan antitesis antara petahana dan penantang akan membuahkan sintesis berupa asumsi pemilih tentang kedua kubu.

Dalam hal ini peran modal intelektual sangat diperlukan untuk memproduksi tesis ataupun antitesis untuk mengendalikan sintesis di masyarakat. Dari kedua kubu, yang lebih mengendalikan keadaan adalah petahana karena tesis yang diproduksi dan kekuatan mengendalikan keadaan. Karena kubu penantang senantiasa menunggu kubu petahana melangkah, baru penantang menentukan sikap. 

Hal ini jelas menguntungkan petahana sebagai pengatur tempo permainan. Sejauh ini, penantang hanya di belakang dan bisa dikatakan bertahan menunggu kompetitornya.

Sun Tzu mengatakan, “kecepatan adalah inti perang. Yang dihargai dalam perang adalah kemenangan yang cepat, bukan operasi militer yang berkepanjangan.” Ini mengisyaratkan siapa yang lebih cepat dalam mengambil keputusan akan mempunyai keunggulan.

Namun, terlalu percaya diri atau bahkan kejumawaan sering mengarah kepada kecerobohan, penilaian gegabah, dan kesalahan umum lainnya. Banyak pikiran-pikiran hebat telah menjadi mangsa kecerobohan.