Sejarah telah membuktikan bagaimana peran pemuda dalam membangun peradaban dunia yang di nilai sangat luar biasa, di antara para pemuda itu ada Ali Bin Abi Thalib r.a, Badiuzzaman Said Nursi, hingga M. Natsir. Mereka adalah orang-orang yang di usia mudanya sangat prestisius, pribadinya matang, dan hidupnya dipenuhi dengan perjuangan yang tidak kenal lelah.

Semua itu karena kedalaman iman dan luasnya pengetahuan baik agama dan ilmu alam serta rasa nasionalisme yang di miliki. Oleh karena itu, jika membicarakan tiga tokoh ini, mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat tepat untuk dijadikan sumber inspirasi, khususnya para pemuda masa kini, karena kepribadiannya yang matang sejak muda, memiliki pengaruh, bahkan mampu memberikan sumbangsih perubahan bagi umat, bangsa dan negara.  

Kita mulai dari Ali Bin Abi Thalib. Sebagaimana yang kita ketahui, Ali Bin Abi Thalib adalah pemuda yang sangat cerdas diantara para sahabat rasulullah lainnya. Salah satu kecerdasan Ali yang sangat diakui adalah kemampuan dirinya menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Misalnya, suatu ketika seorang pastor dari luar Arab mendatangi rumah Abu Bakar r.a, pastor itu hendak menanyakan perihal ‘apakah yang tidak dimiliki oleh Allah, apa yang tidak ada pada Allah dan apa yang tidak diketahui oleh Allah SWT?

Mendengar pertanyaan itu, Abu Bakar tidak berkutik, karena baginya pertanyaan tersebut baru dia dengarkan, sebaliknya Abu Bakar memuncak amarahnya dan seketika ingin menumpahkan darah pastor itu, hanya saja terhalang oleh perjanjian yang telah disepakati oleh keduanya.

Untungnya, Salman Alfarisi melihat kejadian itu dan menyegerakan diri memanggil Ali untuk menjawab pertanyaan sang pastor. Singkat cerita, Ali kemudian datang dan duduk dihadapan Abu Bakar dan pastor. Sang pastor kemudian berkata, siapa namamu anak muda dan apa hubunganmu dengan Muhammad? Ali kemudian menjawab, nama saya Ali Bin Abi Thalib, saudara, sepupu dan sekaligus menantu Muhammad SAW.

Baiklah, saya ingin menanyakan sebuah perkara, menurutmu apa yang tidak dimiliki oleh Allah, yang tidak ada pada Allah dan yang tidak diketahui oleh Allah? Mendengar pertanyaan itu, dengan tenang Ali menjawab bahwa ‘yang tidak dimiliki oleh Allah adalah istri dan Anak, yang tidak ada pada Allah adalah perbuatan zalim layaknya manusia dan yang tidak diketahui oleh Allah ialah Allah tidak akan mengetahui bahwa akan ada sekutu bagiNya di kerajaanNya’. Mendengar jawaban tersebut, sang pastor kemudian berdiri di hadapan Ali, seraya berkata bahwa ‘kamu adalah sumber agama dan hikmah sebagaimana yang telah kubaca dalam taurat dan injil.

Pastor itu kemudian memeluk Ali dan memberikan seluruh hartanya sebelum pulang kepada kaumnya.  Kisah ini menjadi salah satu bukti bahwa Ali Bin Abi Thalib adalah sahabat Rasul yang cerdas, dan dengan kecerdasan yang dimilikinya pula namanya termaktub di dalam taurat dan injil sebagaimana yang dikatakan pastor tadi sehingga berani memberikan pengakuan.

Rasulullah juga menjuluki Ali Bin Abi Thalib sebagai gerbang ilmu, sebagaimana Rasulullah mengatakan jika ada 10 orang ilmuwan dari kalangan kaum khawarij, mereka tidak akan mampu mengalahkan kecerdasan Ali meskipun dihujani dengan banyak pertanyaan.

Selain kecerdasan, Ali  juga memiliki keberanian yang luar biasa. Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam Jilid 1 dijelaskan bahwa salah satu keberanian Ali Bin Abi Thalib yang bisa kita lihat adalah saat menggantikan Rasulullah tidur di rumahnya untuk mengelabui  orang-orang Quraish ketika terdengar kabar bahwa mereka (orang kafir Quraish) hendak menghalangi perjalanan hijrahnya ke Yastrib (Madinah).

Padahal Ali saat itu sangat menyadari bahwa dirinya kemungkinan besar akan dibunuh apabila dia disangka sebagai Rasulullah. Keberanian Ali juga banyak digambarkan pada setiap peperangan yang dihadapi bersama Rasulullah, yang dengan tangguh berdiri di barisan depan menghalau musuh-musuh islam kala itu.

Ali Bin Abi Thalib lahir ketika usia Rasulullah menginjak 30 tahun (ada juga yang meriwayatkan 27 tahun). Ali termasuk di dalam golongan asabikunal ‘awwalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk islam dan mengakui kerasulan Muhammad SAW. Menariknya, saat itu Ali adalah satu-satunya orang yang masuk islam di usianya yang masih terbilang anak-anak.

Tentu, keputusan Ali adalah keputusan yang sangat berani apalagi dengan usianya yang masih anak-anak, belum lagi dengan keluarganya yang banyak yang menentang ke-Rasulan Muhammad saat itu. Tapi Ali tetap saja Ali, seorang sahabat nabi yang diberi gelar gerbang ilmu karena pengetahuannya yang luas, dan juga diberkahi dengan keberanian yang besar.

Yang kedua adalah Badiuzzaman Said Al-Nursi, pemuda yang di usianya baru menginjak 15 tahun telah menghafalkan sekaligus memahami 80 kitab tanpa cacat sedikitpun, di usia 12 tahun telah menghafal al-quran hanya dalam waktu 2 minggu. Berkat kemampuan dan kecerdasannya itu Said Nursi dia dijuluki Badiuzzaman (keajaiban zaman) oleh gurunya Syeik Fathullah yang kemudian diakui oleh masyarakat islam yang ada di Turki sebelum julukan itu sampai ke telinga seluruh umat islam yang ada di dunia seperti hari ini.

Memasuki usia 18 tahun, Said Nursi telah memiliki pengikut yang sangat banyak, dia telah menjadi ulama yang sangat digemari oleh masyarakat islam saat itu.  Dengan kecerdasan yang dimiliki, Said Nursi juga banyak ditantang oleh kalangan ulama untuk membuktikan kecerdasan beliau, dan semua yang menantang dirinya kalah dan akhirnya mengakui kecerdasan Badiuzzaman Said Nursi, dan beberapa di antaranya memilih menjadi murid seorang Badiuzzaman Said Nursi.

Salah satu kisah yang menarik adalah ketika Said Nursi ditantang oleh seorang dokter yang awalnya tidak percaya dengan kecerdasan Said Nursi, diberikannyalah buku tentang kedokteran dan Said Nursi diminta untuk membaca beberapa halaman lalu menjelaskannya kepada dokter tadi. Hanya lima menit, Said Nursi telah mampu menjelaskan satu bab di dalam buku itu tanpa kurang sedikit pun (Dikisahkan dalam Novel Api Tauhid, karangan Habiburrahman El Shirazhy).

Said Nursi juga merupakan seorang pejuang, karena beliau hidup pada periode akhir pemerintahan Turki Utsmani, di mana Turki saat itu mengalami masa kegelapan karena pengaruh sekularisme dan perang dunia 1. Perjuangan Said Nursi yang paling mahsyur adalah ketika dia berusaha untuk mengharmonisasikan antar agama dan ilmu dalam membangun sebuah peradaban umat islam.

Kedua hal itu tidak boleh dipisahkan, karena bagi Said Nursi agama adalah cahaya bagi hati manusia, dengan agama manusia bisa tentram, merasa damai dan bersemangat dalah ber-islam karena di dalamnya terdapat spirit ke-Tuhan-an (iman).

Sedangkan dengan ilmu, seseorang bisa menjadi lebih maju, memenuhi kebutuhannya, dan memberikan pembaharuan-pembaharuan ditiap lini kehidupan seperti ekonomi, politik dan kebudayaan. Dalam kisahnya, Said Nursi adalah sosok pemuda yang telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Turki dari bahaya sekularisme, di mana agama dan ilmu saling dipertentangkan. 

Di Indonesia, ada M. Natsir, seorang tokoh dari kalangan pemuda yang sangat berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia,dia  juga dikenal sebagai pemuda yang sangat cerdas dan sederhana, bahkan di usia ke-22 tahun dia telah mendirikan sekolah Pendidikan Islam, tepat pada tahun 1930.

M. Natsir juga dikenal sebagai tokoh islam di Indonesia, dia banyak bergaul dengan ulama-ulama cerdas seperti KH. Agus Salim, M. Natsir juga pernah menjadi seorang perdana menteri pada tahun 1950-1951 di era kepemimpinan Soekarno. Hingga akhir hayatnya, M. Natsir tidak pernah letih mengkritisi pemerintah yang dinilai banyak menyeleweng karena menegasikan Islam sebagai pondasi utama dalam membangun sebuah negara.

M. Natsir adalah tokoh cendekiawan Indonesia yang sangat akrab dengan dunia politik. Hampir mirip dengan Badiuzzaman Said Nursi, M. Natsir juga sangat gigih berjuang untuk melawan  ideology sekuler-sosialis yang melanda Indonesia kala itu.

Karena aksinya itu jugalah, M. Natsir baik dipemerintahan Soekarno maupun Soeharto, sama-sama dinilai pemberontak karena tidak sejalan dengan ideology yang dianut oleh negara. Padahal dalam perumusan Pancasila sendiri, islam-lah yang dijadikan sebagai rujukan utama.

M. Natsir merupakan pemuda yang sangat cinta dengan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang agama dan kenegaraan. Bahkan meskipun dia dinilai sebagai pemberontak oleh pemerintah, M. Natsir tetap menjaga nasionalismenya sebagai bangsa Indonesia.

Dia juga mengkritik pemerintahan yang menjauhkan islam sebagai nilai dasar dalam ideology negara adalah agar Indonesia tidak menjadi negara sekuler seperti yang dialami Turki. Alhasil, baik Turki maupun Indonesia, hari ini telah menjadi negara yang mampu menampilkan islam sebagai sebuah peradaban. Tentunya hal ini tidak lepas dari tangan-tangan dingin dari orang seperti Badiuzzaman Said Nursi dan M. Natsir.

Mencermati kisah tiga tokoh di atas, kemudian menjadikan mereka sebagai rujukan dalam beraktualisasi merupakan suatu hal yang wajib kita lakukan. Mereka bertiga merupakan para pemuda yang berhasil memberikan dampak pada perubahan sosial masyarakat, khususnya dalam aspek agama dan ilmu pengetahuan yang hari ini selalu banyak dipertentangkan. Tiga tokoh di atas adalah cermin yang tepat bagi seorang pemuda, apalagi pemuda dalam konteks era saat ini.

Hal ini menjadi penting karena melihat kondisi pemuda saat ini banyak mengalami disorientasi, mudah terpengaruh dengan produk zaman modern, miskin akhlak dan yang lebih parahnya lagi, pemuda hari ini sangat jauh dari semangat ber-agama dan berilmu yang sejatinya adalah pondasi utama manusia dalam memerankan dirinya sebagai khlaifah di muka bumi ini.

Kita tahu, bahwa pemuda adalah satu-satunya golongan yang akan dipercayai untuk mengemban amanat menjaga kondisi masyarakat, khususnya tugas yang berkenaan dengan masalah-masalah ke-ummat-an. Dengan melihat kondisi pemuda hari ini, yang mayoritas mereka terbawa arus zaman, terkikis keislamannya, bahkan merajalela penyimpangannya, membuat kita sangat khawatir.

Rasa-rasanya semangat kepemudaan yang dibawa oleh Ali Bin Abi Thalib, Badiuzzaman Said Nursi dan M. Natsir perlu untuk di reinternalisasi di dalam diri pemuda masa kini. Karena jalan satu-satunya adalah membangunkan semangat kepemudaan para pemuda sebagaimana yang telah diwariskan oleh tiga tokoh yang banyak kita bahas di awal.

Seorang pemuda agar mampu menjadi penggerak perubahan, mereka harus mencintai dua hal dan menjadikan dua hal ini sebagai bekal, yaitu agama dan ilmu.

Jangan sampai ada seorang pemuda yang sangat fasih berbicara tentang Das Capital, Kapitalis, dan Marxisme, tapi ketika dihadapkan pada  al-quran, membacapun mereka menjadi gagap. Sehingga yang terjadi adalah setiap persoalan dilihat secara parsial, melahirkan keputusan yang tidak jarang merugikan, bahkan berpotensi bertindak membabi-buta.

Oleh karena itu, pemuda harus bangkit, pemuda harus cerdas seperti Ali Bin Abi Thalib yang namanya termaktub di dalam Taurat dan Injil, harus seperti Badiuzzaman Said Nursi yang seimbang ilmu keagamaannya dan ilmu duniawiyahnya, sehingga mampu mengharmonisasikan agama dan ilmu dan membuat Turki akhirnya terselamatkan dari penjara gelap bernama sekularisme.

Dan pemuda pun harus seperti M.Natsir, yang sangat bergairah menjaga Pancasila agar tidak keluar dari nilai-nilai islam, sehingga hari ini hampir semua pemimpin negara dengan mantap mengakui bahwa Pancasila bersumber dari ajaran agama islam, atau intisari dari Pancasila sebagai ideologi negara adalah islam itu sendiri.