Sore itu ia tengah asik bercengkrama dengan kerabat keluarganya di teras rumah berwarna coklat. Senyumnya pecah ketika menyambut kedatangan kami yang kala itu menggunakan Toyota Innova. “Selamat datang,” katanya disambut senyum merekah tampak dari raut wajahnya.

"Holmes Ginting,” katanya memperkenalkan diri kepada kami sambil berjabat tangan satu per satu. Sore itu Holmes membawa kami ke belakang rumahnya. Di sana terdapat ladang miliknya dengan tekstur miring ke bawah. Ladang tersebut ia tanami berbagai tanaman buah seperti jambu biji, pepaya madu, manggis beberapa pohon pisang serta ada kolam ikan lele, ikan mas dan ikan patin.

"Usaha utama saya jual buah jambu biji, sebutannya sih jambu biji Perawang namanya di sini, ada 200 pokok jambu biji,” kata Holmes yang sore, mengenakan baju berwarna hijau, berlengankan panjang berbalut warna hitam.

Holmes bercerita, awalnya buah jambu biji hanya tiga batang bibit yang diperoleh dari kampung asalnya yang berada di Deli Tua, Sumatera Utara. Holmes mengaku dirinya sama sekali tidak pernah membeli bibit jambu biji lagi hingga usaha ladang  buahnya berusia 15 tahun seperti sekarang ini.

“Jadi dari tiga bibit itu yang dikembangkan, seperti dicangkok hingga berjumlah 200 batang seperti sekarang, membawa berkah,” sebutnya.

Walaupun telah menanam jambu biji selama 15 tahun, usaha ladang jambu biji ini bukanlah usaha bercocok tanam pertama kali dirinya. Ia menyebut pertama kali menanam semangka dan manggis. Namun kala itu ia hanya menanam satu kali berbuah saja, kemudian tanaman itu diganti dengan buah jambu biji ini.

“Tanam-menanam ini awalnya hanya hobi,” katanya.

Holmes mengaku dari jambu biji ini saja dirinya bisa memanen hingga ratusan kilo tiap bulannya. Buah itu berasal dari dua hektar ladang yang kini ia miliki. Untuk harga jual, Holmes mematok sepuluh ribu per-kilo jika jambu biji sedang tidak musim panen. Saat musim panen, jambu biji itu ia jual lebih murah berkisar antara 7000 hingga 8000 rupiah per kilo.

“Beda lagi ke pengopor (pengepul). Kalau lagi ngga musim, tujuh ribu per kilonya. Kalau lagi musim, sekitar bulan April, harganya anjlok banget, karena petani lain juga panen, jadi buahnya melimpah, harganya jadi di bawah 5000 rupiah per kilonya. Petani rugi,” katanya dengan logat khas Bataknya.

Walaupun telah menanam jambu biji sejak 15 tahun silam, Holmes baru mendapat bantuan dari Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas sejak 2008. Kala itu, dia mendapat bantuan berupa bibit dan sejumlah uang dari APP Sinarmas.

“Jumlahnya saya lupa,” sambil mengingat-ingat.

Tahun 2016, melalui program APP Sinarmas yang bernama Desa Makmur Peduli Api (DMPA), Holmes mendapat bantuan sebesar 24 juta rupiah. 12 juta untuk menanam, dan 12 juta sisanya untuk usaha kolam ikan yang tepat berada di sebelah tanaman buah miliknya.

“Jadi uang itu diputar-putarlah beli bibit ikan, beli pupuk kompos, pupuk kimia, terus perawatan jambu biji juga,” katanya sambil menunjuk sebuah rumah kayu yang ia jadikan tempat menyimpan pupuk, bibit tanaman yang berada di sebelah kolam ikannya itu.

Holmes menyebut dirinya sangat terbantu dengan adanya anggaran DMPA ini. Program ini bisa menjadi pemacu semangatnya dalam bercocok tanam.

Sambil bercerita, Holmes mengajak kami mencicipi buah jambu biji yang ia tanam. Menurutnya, rasa jambu biji berbeda-beda, tergantung pupuk dan bagaiman cara petani merawatnya.

“Kalau banyak pupuk kimianya, rasanya berbeda dengan yang menggunakan pupuk kompos, apalagi yang pakai racun rumput. Itu bisa membuat cacing tanah mati. Jadi unsur hara berkurang dan berdampak pada rasa buah,” katanya sambil berjalan ke arah sebuah ruangan di sebelah kiri rumahnya. Holmes mengaku, di tempat inilah ia menjajakan hasil panennya kepada warga yang lewat.

Kembali Holmes bercerita terkait dana bantuan program DMPA oleh APP Sinarmas. Ia menjelaskan, berdasar Memorandum of Understanding (MoU), dana akan dikembalikan dua tahun setelahnya. Namun menurutnya itu hanya formalitas hitam di atas putih saja. Dirinya menyebut APP Sinar Mas tidak meminta dana itu kembali.

“APP Sinarmas tidak berharap dana itu kembali sepertinya, saya saja belum bayar. Yang penting buat APP Sinarmas, apakah usaha DMPA itu berhasil atau tidak,” katanya sambil tertawa.

Namun Holmes mengaku, yang kini menjadi masalah adalah sistem pemasaran buah saat sedang musim panen. Saat panen, petani jambu yang ikut program DMPA bisa memanen hingga dua sampai empat ton. Mereka bingung mau memasarkan di mana?

“Paling solusinya jualan di sekitar PT Indah Kiat. Kalau jumlahnya banyak, terkadang susah,” keluhnya.

Holmes mewakili petani jambu biji yang ikut dalam program DMPA meminta APP Sinar Mas ikut membantu pemasaran jambu biji hingga manca negara. Sebab menurutnya, APP Sinarmas pasti bisa melakukannya, karena mereka terbiasa melakukan itu untuk bidang lain. Kan kalau sampai ke luar negeri kita semakin terbantu," katanya.

Saat ini, di ladang Holmes ada 200 batang pohon jambu biji. Ia juga memiliki 40 pohon buah belimbing serta pepaya madu dan pisang yang tampak hanya beberapa batang. Dari ladangnya ini saja ia bisa meraup omzet hingga 10 juta rupiah per bulan.

“Kalau pas lagi panen, bisa lebih dari itu,” katanya sambil memberi beberapa potong buah jambu biji sebagai oleh-oleh kepada kami karena telah berkunjung.

“Terima kasih ya, semoga bisa ter-ekspos melalui komunitas menulis ini,” ujarnya sambil menyalami kami.