Eksosfer

Pada rindu yang semakin menganga. Rintik hujan turun sengaja. Menjelaskan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Bergema, bergaung, bersahutan macam ribut dalam telinga.

Cerita Atmosfer

Apa guna sesal, kata hati. Mengapa diam, jiwa berontak. Teruskan maumu, hidup sebentar, kau akan lihat nanti nilainya. Di hari pengambilan rapor. Tapi, tanpa dampingan orang tua. Sendiri saja.

Sudah siap? Tentu belum. Banyak hari yang harus kau remedial, Puan. Terkait kata, tata, bicara, janji, ucap, laku, juga limitasi. Segala parsial. Semesta berpihak pada mereka yang menganggap ada kebaikan Kuasa. Bukan pada mereka yang diam saja lalu mengarah telunjuk pada asal kepala.

Jangan begitu. Perbaiki sana-sini. Kunjungi satu-satu yang engkau tahu. Pahami lekat-lekat segala adab. Lalu, bersinarlah dengan cahayamu sendiri. Dunia memang lari begitu cepat. Tapi, bukan berarti kau harus mengejar tanpa adat. 

Isu seperempat abad memang masa kritis paling menyakitkan. Namun, keajaiban selalu ada bagi sesiapa yang berusaha. Sebabnya, jangan lagi sepi. Ramaikan dunia dengan tajuk baik. Setelahnya, biar yang lain ikut mengisi kolom kosong cerita itu.

Saat jenuh pikir melayang. Saat senang perih terabaikan. Kadang kesal datang mengganjal. Sering amuk pasrah tertahan. Kau harus tahu, mencegah lebih baik dari mengobati. Kata pepatah demikian. Juga soal percaya. Banyak orang mudah buat percaya, namun tak pandai seni mempertahankan rasa percaya itu.

Thermosfer

Kau pernah meminta dengan sangat pada seseorang agar ia memberimu sepenuh hati. Tentang cinta, rasa, persahabatan, atau bahkan relasi kerja. Namun, pernahkah kau ambil bagian untuk merasa bahwa ia pun sedang dilema. 

Menimbang saksama, memerhatikan portofolio, meninjau baik-baik. Layakkah engkau? Bersanding sebagai: pasangan, kawan, sahabat, atau rekanan.

Sejenak, engkau lihat kembali matanya. Engkau beri senyum termanis yang kau punya. Engkau beri segala positifmu. Sebanyak apa. Selayak bagaiman. Engkau yakinkan lagi. Engkau bisa. Bahkan segala delegasi akan mampu kau ampu. Engkau bisa. Begitu. Sampai ia melihatmu tak lagi muskil. Awan cerah menaungimu. 

Burung bercicit. Daun melambai. Ombak bergulung pelan. Metari menitip genit. Semesta bersorak. Bergembira. Standing ovation! Hanya untukmu. Diiringi sorak-sorai kebanggaan. Satu lagi, prestasi kau tambah. Deretan kalimat gemilang semakin membuatmu (sedikit) jumawa. Kau sejenak lupa, sedari awal ada sang Esa mengawasi dengan saksama.

Semenit, dua menit, tiga, sepuluh, enam puluh menit kemudian, kau sadar. Lelah bereuphoria. Kau bisik dalam hati memujiNya sebisanya, seingatnya. Kembali lagi keruangan. Bertanya hal ini-itu terkait waktu, dan segala hal remeh-temeh lainnya. Intinya kau senang, tanpa pernah kau bayangkan apa yang akan terjasi didepan pandangan. Luar jiwa kau tertawa, dalam jiwa kau drama. 

Mesosfer

Dia menitipkanmu beberapa hal. Tentang gambaran besar, sedang dan kecil. Kau diajak lihat peta jalan. Diharap hati-hati. Dengan anggota tim baru pun engkau disambut meriah. Mereka sukacita melihat air mukamu. "Selamat Datang, kawan!" seucap mereka. Kau tersenyum. Manis sekali. Membayangkan kedepan terus begini. Asyik, riuh rendah, dan gembira. 

Tantangan awal dimulai. Performa usaha mulai di uji coba. Kau diberitahu sesiapa saja yang berada di panel juri tak terlihat. Mereka seperti kawandihadapanmu, namun terus melaporkan segala tingkah polahmu seharian itu. Ya, kau masih terus bereuforia. Kau masih mengganggap itu hanya gimik saja. Dengan kata lain, engkau percaya sepenuhnya. Bahwa mereka baik saja. Sempurna malah. 

Kau selalu begitu. Kelemahan kau saat bertemu orang baru adalah mengkultuskan bahwa mereka sangat amat baik, setelah mereka buat salah kau seperti memblokade hubungan dan duniamu semakin sempit. Jangan begitu lagi, Puan! Anak cucu Adam musykil sekali bisa sempurna. Sekalipun itu dalam tokoh cerita.

Hari pertama jalinan tiba. Kau mulai dengan sepenuh optimisme. Bercengkrama, tebar pesona dan berdandan seadanya. Ah, ternyata doamu sedari masa bangku kuliah dikabulkan Sang Maha Kuasa. Persis. Presisi. Tak meleset sedikitpun. Dan, selamat! Janjimu pada mendiang Ayah tuntas sudah. 

Ah, kala itu kau sangat bangga. Tapi jiwamu masih terus meretas harap-harap cemas. Kau tak juga paham. Hati dan jiwamu bagai air dan minyak saat itu.

Siang hari pertama, kau tambah bahagia. Serentetan menu utama telah hadir diatas meja. Rekan kerja membawakanmu dengan penuh wibawa. "Silakan, Nona!" katanya lembut. "Terima kasih, Tuan!" sahutmu halus. 

Kau lumat pelan-pelan makanan itu. Kau rasakan ada semacam sinkronisasi antara lada, bawang putih, bawang merah, kecap manis, dan sedikit bumbu rahasia yang entah apa. Begitu lekat dengan tusukan daging ayam yang tak lagi bergerak. 

Selanjutnya kau icip menu disampingnya. Cukup menyatu untuk ukuran makan siang. Baiklah, kau nilai ini begitu mewah.

Jelang suapan ketiga, ada yang membutuhkan pertolonganmu. Tidak bisa tidak. Reputasimu terancam gagal saat kau mengelak. Dengan hati mengkal, tapi wajah primadona kau hadir memenuhi panggilan. Kau tutup sate ayam yang menawan itu. "Nanti, aku kembali. Meneruskan petualangan rasa mencecap tusukanmu." 

Tanpa kau pernah tahu, rezekimu hanya sampai suapan jelang ketiga. Selebihnya, kau harus membagi pada yang lain. Ah, memang takdir tak pernah bisa terterka barang sedikitpun. Namun bisa tetap bisa melambungkan doa agar apa-apa yang baik terus melekat pada takdir kita. Begitu, ceritanya pasal ini.