Lelaki memang pada dasarnya tidak bisa dipegang ucapannya, tapi untunglah adanya fitur screenshot menjadi penghadang dari kemelut hal demikian. Para wanita sedikit lega dengan ucapan ini, setidaknya kelak, tak timbul narasi melankolis ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Terlalu pagi sebenarnya untuk sebuah kesedihan. Merujuk pada trending topic twitter pagi ini yang sedikit menghebohkan, akan adanya 7 kontainer surat suara dalam pemilu mendatang yang telah dicoblos di daerah Tanjung Priok benar-benar mengernyitkan urat saraf masyarakat.

Cuitnya kurang lebih seperti ini, “Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos di tanjung priok. Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya. Karena ini kabar sudah beredar.” Pukul 20.05 WIB tertanggal 02 Januari 2019.

Cuitan Andi Arif yang dilansir dari akun twitter pribadinya @AndiArief_ selaku wasekjen partai demokrat benar-benar membangunkan nalar sehat masyarakat. Kekhawatirannya sehingga mencuitkan, bisa saja didasarkan pada keinginannya dalam mengawal jalan sehat pesta demokrasi bulan Juni nanti. Namun, setingkat elite politik negeri kok bisa-bisanya ngecuit hanya berdasar desas-desus kabar yang belum jelas arah muaranya? Ibarat kata jomblo yang mencuitkan mungkin saja diniatkan agar yang membaca, balik men-chatting serta dapat perhatian teruntuknya. Bapak?

Narasi gerakan mahasiswa belakangan ini memang sedikit redup sejak diksi sebutan Kampret dan Cebong marak dalam beranda media. Terbukti adanya terpaan media yang mengharuskan kembali citra mahasiswa mengepalkan tangan dalam setiap swapoto yang ada. Hati-hati, acungan jari bisa jadi kendaraan politisi dalam menciptakan fiksi.

Gelagat elite yang kian kemari kian menertawakan, mulai bikin perut mual tak karuan. Sampai pada press release KPU hadir menumbangkan cuitan Andi Arif yang telah dihapus saat ini. Ingat bapak, kemajuan tekhnologi dewasa ini menghasilkan sebuah temuan fitur yang dinamakan screenshot.

Komisioner KPU Pramono Ubaid segera mengklarifikasi isu yang beredar lewat laman berita Jawapos.com.

"Tidak ada (soal temuan tujuh kontainer). Surat suara itu belum dicetak. Jadi dari mana surat suaranya, pemenang lelangnya saja belum ada," ujar Pramono di Gedung KPU, Jakarta, Rabu (2/1).

Alhasil, kata hoax kembali muncul dipermukaan. Apakah akan ada peringatan hari hoax nasional kembali? Kalau iya, coba diusulkan pula untuk dibuat libur, sehingga masyarakat disibukkan dengan agenda penenangan diri. Bukan disibukkan membahas ujaran benci disetiap sudut warung kopi.

Ada keuntungan karena cuitan tersebut, setidaknya pemanasan dan mawas diri KPU dan Bawaslu dalam mengawal jalannya pesta demokrasi nanti yang sekarang greget pada tahap kampanye.

Derasnya arus informasi yang tidak dibarengi oleh kejelasan faktual membuat bergidik ngilu peredaran informasi. Berita-berita yang hadir dalam sosial media tidak semua mengandung fakta. Selektif dan harus adanya peran elite yang hadir untuk mengabarkan dan mengklarifikasi kepada rakyat benar-benar harus dioptimalkan. Bukankah telah disandangkan kepada mereka tugas guna mewakili kepentingan rakyat. Nah kalau yang memberikan kabar hoax elite politik?

Tumbuh suburnya pemberitaan hoax dalam media informasi sebenarnya didasari pula pada pola pikir masyarakat yang masih bangga menjadi penyebar berita pertama, lebih suka membagi tinimbang membaca, gemar membuat sensasi, tidak tahu menahu bahwa berita tersebut hoax, serta turut andilnya dalam mengikuti tren.

Pecut gerakan literasi kian kemari kian dinanti. Marwah masyarakat yang menghadap pada perdamaian dan kesejahteraan menjadi salah arah menuju ujaran kebencian. Kekurangsiapan para tetua yang menjadi elite dalam mengawal garda bangsa mulai dirundum berbagai macam pertanyaan. Ketiadaan komitmen dalam meredam permusuhan dalam kontestasi politik makin meruak.

Era globalisasi benar-benar membutakan masyarakat, kebimbangan dalam menerka mana yang wajib dan sunnah sampai pada tataran klimaks. Kewajiban dalam pemilu yang seharusnya memilih pemimpin yang visioner dalam menyejahterakan rakyat terbalik dengan ke sunnah an akan siapa orang yang akan dipilih. Walhasil, kemelut dan desas desus makin menjerembab dalam tubuh masyarakat.

Tentu muda-mudi yang hari ini akan menjadi pemimpin dan pengawal bangsa dimasa yang akan datang sedikit demi sedikit chaos. Keharusan melatih secara intens dalam membaca situasi kondisi pastinya harus dihadirkan dalam diskusi-diskusi panel kalangan muda. Sehingga puncaknya jika harus menentukan sikap, tak akan mengulang jalan cerita demikian. Screenshot its real. 

Deras dan pesatnya berita harus disikapi secara dewasa, sehingga tak ada lagi timbul kecemasan di masyarakat yang notabenenya sebagai raja dalam ranah bernegara.

Syahdan, tantangan kembali muncul dalam linimasa. Bahwa ternyata pantangan cobaan dan godaan akan Harta, Tahta dan Wanita, bertambah satu lagi dengan pantangan "Berita" yang tak kalah pentingnya.

Hati-hati dalam menaruh hati, jika hati tak hati-hati, akan menyakiti hati yang tersebar luas dibumi pertiwi.