Dalam beberapa dekade terakhir, feminisme menjadi salah-satu isu penting yang banyak membawa perubahan progresif dalam skala global. Gerakan-gerakan kecil seperti #MeToo movement yang pertamakali diperkenalkan oleh Tarana Burke pada tahun 2016 lalu berhasil memberikan impact yang cukup besar terhadap kasus-kasus sexual harashment

Gerakan-gerakan kecil seperti di atas telah behasil menghadirkan ruang bagi perempuan untuk bersuara. Dari waktu ke waktu, feminisme berhasil mendorong perempuan untuk memerangi stereotype negatif dan mempertegas posisinya dalam tatanan masyarakat mereka.

Dalam skala besar, stereotype negatif terhadap perempuan mulai mendapat perhatian yang serius, bukan cuma dari kalangan perempuan, tetapi juga dari kaum lelaki. Justine Trudeau, Perdana Menteri Canada misalnya, telah melakukan gerakan besar-besaran berskala nasional dengan memperkenalkan feminisme sebagai variabel baru dalam membangun negara.

Trudeau percaya bahwa upaya untuk menghadirkan kesetaraan bukan hanya tugas perempuan. Menurutnya, untuk mewujudkan kesetaraan gender, laki-laki juga memiliki peran penting dan harus mereka ambil. Tetapi nampaknya tidak semua orang memiliki pemahaman tersebut, dalam skala tertentu laki-laki masih dianggap bukan bagian dari gerakan feminisme.

Keterlibatan laki-laki dalam isu-isu feminisme cenderung disalah-artikan sebagai upaya intervensif yang bertujuan mengembalikan dominasi mereka dalam isu-isu feminisme ini. Sehingga tidak jarang laki-laki dipandang sebelah mata dalam isu femisme.

Kekhawatiran perempuan terhadap intervensi laki-laki dalam isu feminisme tanpa disadari telah melahirkan jenis stereotype baru dalam lingkup relasi gender. menenpatkan laki-laki ke dalam situasi yang dicurigai dan dipertanyakan kesungguhannya.

Audre Lorde, seorang feminis liberal Amerika yang mempopulerkan frasa “the master’s tools will never dismantle master’s house”, menganggap bahwa laki-laki tidak mungkin bisa melepaskan surplus yang berabad-abad telah mereka nikmati dari budaya patriarkhi. Laki-laki, dalam pandangannya, bisa saja membiarkan perempuan untuk sementara berkuasa, tetapi tidak akan pernah membiarkan perempuan membawa perubahan sejati (genuine change).

Dalam skala yang lebih kecil, jenis stereotype baru juga diproduksi dan secara tidak langsung telah menempatkan laki-laki sebagai gender kelas dua dalam isu feminisme. Sekitar dua bulan lalu, saya  mengikuti kelas kajian gender yang diampu oleh dosen perempuan lulusan Mesir.

Ada hal menarik yang mendorong saya untuk menulis ini. Dalam kelas yang dihadiri sekitar 20 orang laki-laki itu, dosen pengampu saya enggan memakai istilah biologis untuk menyebutkan alat kelamin perempuan ketika menjelaskan kasus-kasus sexual harashment. Alasannya cukup sederhana, tetapi cukup membuat tidak nyaman. Ia menilai penggunaan istilah “vagina” akan cenderung mendorong sekitar 20 orang laki-laki yang tengah mengikuti kuliah kajian gender itu berpikiran ‘mesum’.

Tidak ada jaminan untuk mengatakan bahwa alasan dibalik enggannya dosen saya tersebut sepenuhnya salah ataupun sepenuhnya benar. Saya juga tidak bisa menafikan bahwa pikiran-pikiran ‘mesum’ seperti yang dikhawatirkannya itu hampir tidak mungkin bisa bersih samasekali.

Realitas di atas semestinya tidak menjadi alasan untuk menutup diri, memangkas kemungkinan untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang kasus-kasus sexual harashment. Diluar itu, ada problem yang secara fundamental telah mempertebal dinding dingin antara laki-laki dan perempuan.

Akibat dari cara berpikir semacam itu akan memberikan kesan bahwa feminisme adalah teritori yang hanya bisa dihuni, dibangun, dan dimengerti oleh perempuan. Sementara itu laki-laki berada di dunia lain bernama patriarkhi. Dengan perspektif itu, feminisme ditempatkan sebagai ‘antonim’ dari patriarkhi, bukan sebagai ‘kata sifat’ untuk memperhalus cara kita memandang satu-sama lain.  

Kisah seperti yang saya alami di atas, merupakan fakta yang harus kita terima, bahwa pemahaman tentang feminisme hanya berhenti sebagai sesuatu yang eksklusif di kalangan perempuan. Bahkan eksklusifitas feminisme itu terjadi di ruang akademis yang tengah mengkaji isu-isu kesetaraan gender.

Tentu akan sangat parsial jika apa yang saya alami menjadi satu-satunya tolak ukur untuk mengatakan bahwa kita belum berhasil memahami secara utuh makna dari menjadi sorang feminis sebagaimana yang Trudeau pahami. Tetapi memang bukan itu tujuannya. 

Tulisan ini  bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kegagalan pemahaman tersebut, meski dalam skala kecil, telah melahirkan “a new kind of stereotype” yang menempatkan laki-laki sebagai gender kelas dua. Sehingga menghambat keterlibatan laki-laki dalam mengambil peran pentingnya untuk mewujudkan kesetaraan.

Konsekuensi yang harus dikhawatirkan bukan tentang posisi perempuan yang semakin di atas dan laki-laki semakin di bawah, melainkan kehawatiran terhadap kemungkinan kita untuk menghsilkan kesetaraan gender semakin menipis. Kemungkinan tersebut terkikis oleh ketidakpercayaan kita satu sama lain.

Semestinya upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender itu bukan sekadar berbentuk pengembalian kembali hak-hak perempuan, tetapi juga berbentuk pengembalian kembali kesadaran laki-laki terhadap kesetaraan itu sendiri, dan hal tersebut hanya bisa tercapai jika arogansi dan eksklusifitas seperti di atas mulai kita cicil untuk dihilangkan.