Aku bukanlah siapa-siapa. Aku bukan dari kalangan tersohor atau terpandang sekalipun. Aku hanyalah anak seorang nelayan, yang optimis dan penuh dengan mimpi. Walau keadaan fisikku yang tak mendukung. Namun, ini bukan penghalang bagiku. Karena aku percaya, kesuksesan itu akan datang pada orang yang optimis, berusaha dan percaya pada-Nya.

Selain itu, dukungan dari Ayah sangat berguna untukku. Ia lah orang satu-satunya yang aku miliki saat ini. Tanpanya, mungkin aku takkan bisa menyentuh lantai panggung dan disorot cahaya lampu. Tanpa kehadirannya juga penampilanku takkan pernah sempurna bagiku. Walau berjuta-juta orang berdiri dan menepuk kedua tangan mereka hanya untukku.

***

Malam ini aktivitas masih terasa. Belum ada yang tidur saat ini. Hujan menyeruak turun membasahi permukaan yang kering. Semua orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Berbeda dengan orang-orang yang berada di dalam gedung. Mereka duduk di kursi merah nan empuk. Arah pandangan mereka tertuju ke arah panggung.

Tiba-tiba sorotan lampu beralih ke arah panggung  yang gelap tadi. Terlihat seorang gadis yang menundukan kepalanya dan memasangakn alat bantu pendengaran di telinganya. Alunan musik perlahan terdengar. Dalam hatinya ia menghitung ketukan musik itu. Seorang wanita berdiri di belakang kursi penonton. Ia sedikit merasa was-was dengan hal ini.

Ketukan ke empat Dinda mengangkat kepalanya. Sorotan mata yang tajam ke arah penonton yang berada di dalam gedung. Tak lupa sedikit senyum yang ia tunjukkan. Ia mulai menari dengan lembut dan anggun. Wanita itu terus memainkan tangannya. Memberikan arahan kepada gadis itu. Tubuhnya yang lentur, membuat setiap gerakan dalam tariannya begitu indah dan hidup.

Alunan musik perlahan mulai menghilang. Dinda ikut mengakhiri tariannya dengan baik. Semua orang yang berada di gedung bangkit dari tempat duduk mereka. Memberikan tepuk tangan yang gemuruh untuk Dinda. Dinda tersenyum dan memerhatikan semua orang. Namun, matanya kali ini tertuju ke arah kursi VIP yang kosong. Kembali sorotan lampu itu redup dan gelap. Perlahan Dinda beralih ke arah belakang panggung.

“Dinda, tadi itu bagus sekali” ujar Melina seraya membantu Dinda turun dari tangga. Dinda mencoba tersenyum, berusaha membuat keadaan menjadi lebih baik. Melina tahu kalau sahabatnya ini berbohong kepadanya. Pentas ini takkan pernah berarti baginya. Kursi istimewa itu seharusnya diisi oleh seseorang yang istimewa. Namun, malah kosong dan sepertinya orang yang ditunggu tak datang.

“Dinda”

Terdengar suara yang memanggil nama Dinda dari lorong kanan. Sontak pandangan mereka beralih ke arah wanita yang berlari ke arah mereka. Wanita itu tiba-tiba saja memeluk tubuh Dinda dengan erat. Dinda malah tersenyum geli dengan Bu Alia. Baru kali ini ia melihat Bu Alia sebahagia ini.

“Selamat, pentasmu malam ini sangat sukses” ujar Bu Alia yang melepaskan pelukkannya “tadi semua berdiri dan tepuk tangan hanya untukmu”

“Dinda, ganti baju dulu ya” Melina membujuk Dinda.

Dinda hanya menganggukan kepalanya secara perlahan. Ia pun beralih mencium punggung tangan Bu Alia, begitu pula dengan Melina. Mereka pun berjalan ke arah ruang ganti. Lorong di belakang panggung ini begitu panjang. Sepanjang lorong ini Dinda hanya terdiam dan menundukan kepalanya. Ia hanya melihat langkah kakinya yang menginjak lantai. Hingga akhirnya langkah kakinya berhenti di sebuah ruangan.

“Aku tunggu di sini ya, kalau sudah selesai ketuk pintunya” kata Melina yang beralih berdiri di depan pintu. Dinda pun tersenyum dan berjalan masuk ke ruangan itu.

Tak berselang lama pintu ruang ganti pun Dinda ketuk. Perlahan pintu itu pun terbuka. Namun, bukan Melina yang berada di depan pintu melainkan orang lain. Seorang pemuda dengan senyum yang manis berdiri di depan pintu itu. Alisnya yang tebal dan rambut hitamnya yang sedikit basah.

“Hai” sapanya dan memberikan sebaket bunga mawar merah muda kesukaan Dinda “Selamat ya, tadi tariannya bagus banget”

Dinda mengambil bunga itu. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Dandi dengan bahasa isyaratnya. Sejenak ia menyuruh Dandi masuk dan duduk di kursi merah. Begitu pula dengan Dinda. Dinda tahu ini pasti ulah Melina. Ia pasti menunjukan rekaman saat ia menari tadi ke Dandi. Dandi sahabatnya sejak kecil, yang dikenal super sibuk di sekolah karena ia adalah ketua OSIS.

“Tapi Din, tadi ada yang kurang loh” ujar Dandi membuat Dinda mengerutkan keningnya “tadi kamu kurang senyum” Dandi yang sedikit mencubit pipi Dinda. Dinda perlahan menepis tangan Dandi dari pipinya. Sedangkan ia sejenak beralih mengacak-acak rambut hitam Dandi.

“Ayah ngga datang” ujarnya dengan bahasa isyarat. Dandi mengerti apa maksud Dinda.

Ia beralih merogoh kantong jaketnya. Terlihat setangkai bunga dandelion, dan ia memberikan itu kepada Dinda. Ia mendapatkan bunga itu dari seorang anak kecil yang kehujanan. Anak kecil itu menjual beberapa bunga. Bunganya laku, namun hanya ada bunga itu di keranjangnya. Anak kecil itu harus pulang dengan keranjang yang bersih dari bunga dan membawa uang. Sehingga, itu membuat Dandi membelinya.

Dinda mengerutkan keningnya sehingga ia bertanya dengan bahasa isyarat, “Buat apa?” Dandi tersenyum, ia ingat saat masa kecilnya. Dulu Dinda pernah menghiburnya dengan bunga yang seperti gumpalan kapas.

“Gini, coba tutup matamu dan dalam hitungan ketiga tiup bunga ini. Lalu kamu buka matamu” Dinda paham apa yang dimaksud Dandi. Ia pun mengikuti perintah Dandi. Ia perlahan memejamkan kedua matanya. Pandangan Dandi tertuju di ambang pintu, sehingga ia pun bangkit dari tempat duduknya.

Dalam hitungan ketiga Dinda meniup bunga itu. Matanya yang terpejam kini ia membukanya. Pandangannya tertuju ke arah ambang pintu. Terlihat seorang pria yang cukup tua berdiri dengan senyum. Rambut yang sedikit putih terlihat basah. Begitu pula dengan pakaian pria itu yang lucut akibat air hujan. Pria itu menggigil, walau ia berusaha untuk tidak menunjukkan hal itu kepada putrinya. Dinda berdiri dan berlari kecil ke arah pria itu. Ia memeluk pria itu dengan erat, seolah tak peduli betapa basahnya pria itu.

Ia menangis dalam dekapan Ayahnya. Ia tak habis pikir jika ayahnya akan datang walau di luar tengah hujan deras. Ayah pun melepaskan dekapan putrinya. Ayah mencoba tersenyum, ia menepuk pundak putrinya dengan lembut.

“Ayah bangga sama Dinda. Dinda anak ayah paling hebat” ujar Ayah Dinda dengan menggunakan bahasa isyarat, walau ia tak seperti Dinda. Dinda tersenyum dan menghapus air matanya yang membasahi pipinya.

“Apa ayah lihat Dinda tadi?” tanya Dinda kepada Ayahnya. Ayah Dinda menganggukan kepalanya secara perlahan.

“Ayah datang hampir terlambat. Ayah berdiri di belakang” kata Ayah Dinda “maaf ya, ayah ngga duduk di kursi paling depan”

“Ngga apa-apa” ujar Dinda yang mencoba tersenyum “ayah, Ayah Dinda yang paling hebat. Tanpa Ayah, Dinda ngga bisa ada di sini. Dinda sayang ayah”

Ayah pun memeluk putri satu-satunya. Ayah mencium kening anaknya dan berkata, “Ayah juga sayang Dinda”

Tuhan itu adil kepada hambanya. Semua cobaan dan kekurangan yang kita miliki, tak selamanya dapat membuat kita semakin terpuruk. Hanya orang yang optimis, berusaha dan percaya pada-Nya lah yang akan mendapat hadiah istimewa darinya. Tak berhenti bermimpi dan berusaha salah satu usaha untuk menggapai apa yang ingin kami dapatkan.