Aku menarik nafas panjang, himpitan beban terasa kian memberatkan hatiku sehingga bulir-bulir bening jatuh dari pelupuk mata dan menetes deras membasahi kedua pipi.

Aku sedih dan lelah. Sedih dengan keadaan kerajaan yang begitu hampa, seakan citranya bagus, padahal tanpa totalitas kerja, semua dihitung sebagai pamrih: demi uang yang datang secara gampangnya.

Friksi dan manuver sering kali terjadi, malah seolah-olah dicitrakan damai sentausa. Aku sedih melihat orang-orang hanya pandai memoles, entah dengan kata maupun perbuatan untuk menutupi busuknya setiap tindakan.

Lelah...Melihat orang-orang sudah terbius dengan tumpukan materi yang datang secara instan, tanpa ada pertanggungjawaban yang berarti. 

Aku merasa hanya sendirian di dunia ini, aku mencoba berpikir idealis, berusaha bekerja baik di istana, namun reaksi orang langsung menyebutku 'sok idealis dan sok tahu'. Aku terdiam dalam kekecewaan sebab bilamana aku berteriak keras, mereka makin menginjak-injakku dengan kejamnya.

Mereka berdiri angkuh dengan mengatakan 'lihat backingku siapa?'. Aku sedih, kenapa ada banyak orang hanya bisa pamer kekuasaan di kerajaan ini dan menunjukkan keserakahannya tanpa malu-malu?

Aku sendiri berada di kerajaan ini karena ayah angkatku yang dinobatkan sebagai salah satu Menteri. Tapi aku tidak pernah meminta kekuasaan itu...

Aku datang ke istana karena ayah tahu bakat dan kemampuanku sehingga aku diminta pindah kesini. Namun, sekarang hubungan kami kian jauh dan terasa hambar. 

Aku merasa sendirian di tempat yang asing ini, kendati aku sudah beberapa tahun tinggal di istana dan memiliki cukup banyak teman. Namun sayangnya, teman terkadang hanya ingin memanfaatkanku saja, aku jadi kecewa, seolah ketulusan mahal harganya.

Ayah angkat juga terasa makin jauh, bukan hanya karena di istana ini aku ditempatkan jauh dengan ayah, aku bekerja untuk panglima, yang tak kusangka bermain securang itu, ia manipulasi kehidupanku sehingga aku terus-menerus terkurung disini.

Aku seolah menjadi burung dalam sangkar emas, seakan-akan aku bahagia dan merasa betah dalam istana yang super megah. Padahal setiap hari adalah air mata bagiku.

Aku sulit untuk bertemu dengan ayah, sekalinya dapat bertemu kami hanya sedikit bicara karena ia sangat sibuk dengan urusan pekerjaan. 

Akhirnya, aku hanya bisa memendam semua masalahku ini dan ayah tidak pernah tahu atau tidak mau tahu? Terkadang aku merasa ayah tidak pernah ada untukku karena memang siapalah aku ini. Aku harus sadar diri bahwa aku hanyalah anak angkatnya saja.

Orang selalu memojokanku terutama para dayangnya sang panglima..Jika tidak karena ayahmu yang menteri itu, kamu tidak akan pernah bisa tinggal di istana yang mewah ini? Kamu itu tidak bisa apa-apa, hanya segitu saja kemampuanmu. Kamu hanyalah si penjual bunga...

Mereka melecehkanku dan bagaimana bisa kutunjukkan kemampuanku bilamana setiap selesai atau hampir selesai pekerjaanku, langsung diambil orang untuk disebut sebagai hasil pekerjaannya? Semua adalah dalam titah panglima.

Aku memang bekerja untuk panglima yang rakus dengan 3 dayangnya. Dayang-dayang yang malah suka memperkeruh setiap suasana dan memonopoli situasi untuk keuntungan mereka sendiri, belum lagi para prajurit yang sering mencari celah untuk mengalahkanku, bukan malah bekerjasama untuk membangun kerajaan, namun ingin tampil sebagai yang terbaik. 

Aku tahu omongan orang sering berlebihan tentangku, mungkin saja ayah tak percaya lagi akan kemampuanku karena termakan omongan mereka, seolah-olah kini ia sudah meragukanku.

Akh, padahal orang-orang yang dipilih istana untuk mengawasiku adalah orang-orang yang iri denganku dan mencari setiap titik kelemahan untuk diserang sehingga aku bisa dijatuhkan dengan berbagai cara. 

Kenapa aku seakan diawasi terus? Aku menangis dengan sangat keras. Ya, aku tahu...Aku adalah orang biasa dan berasal dari rakyat jelata, aku bukan bagian dari orang-orang istana sehingga mereka melihatku sebagai orang luar dan hanya bawaan ayahku yang menteri itu.

Aku memang orang biasa, tapi seandainya mereka tahu...Dahulu kerabatku mati ditangan penjajah ketika berjuang untuk kemerdekaan kerajaan, kakekku juga pejuang yang memberi makan para pejuang lainnya, sampai-sampai rumah kakek sebagai gudang logistik bagi perjuangan dibakar oleh penjajah. 

Kerajaan dahulu memberikan uang penggantian, namun kakek menolaknya karena ikhlas demi sebuah perjuangan. Uwakku juga pejuang yang dibuatkan patung sebagai tanda jasa perjuangannya, namun sekarang patung itu sudah tak ada lagi. Yaaah, semua sudah berlalu begitu lama dan terlupakan begitu saja.

Aku tetaplah orang yang tertawan. Mereka menawan kebebasanku. Apalagi saat ini kehadiran orang-orang asing di kerajaan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Banyak orang dalam kerajaan menghamba pada mereka dan inginkan bentuk-bentuk kesejahteraan dari mereka. Bukankah itu hal yang hina?

Mereka juga telah membuatku kian terpenjara, mereka seperti siluman yang dengan mudah datang ke tempatku, meskipun istana dibuat dengan berbagai penjagaan yang berlapis, mereka gampang saja menerobos dan entahlah, terasa sangat bebasnya mereka berkeliaran di dalam kerajaan, serasa menyulap kerajaan ini seperti neraka jahanam bagiku.

Aku protes keras pada orang asing ketika Rajaku datang pada sebuah acara kerajaan dan orang asing itu menerobos masuk untuk melihat acara kerajaan yang tertutup, siapapun tak ada yang membelaku bahwa perbuatan itu salah, apalagi orang asing itu datang tanpa ijin dan semuanya malah menyalahkanku yang memprotes.

Sedikit saja aku protes, mereka sebut aku tak bisa mengendalikan emosi dan lain sebagainya, padahal aku sudah lama bersabar dengan keadaan kerajaan yang sangat kacau balau ini.

Aku heran kenapa Rajaku malah memilih untuk meneruskannya? Ketika Sang Raja tak sadar ia telah dilecehkan dengan kehadiran orang asing yang tak diundang dalam acara kerajaan waktu itu. Segala masukan kepadanya hanya yang baik-baik saja. Oh, malangnya Rajaku...

Aku sangat kecewa pada keputusan Rajaku itu. Tapi aku tetap hormati apa yang menjadi keputusannya. Meskipun aku menangis lagi, sendirian.

Aku kini terpaku dalam senduku. Bisakah aku pergi dari negeriku ini? Berandai-andai supaya aku dapat tinggal di tempat yang sangat jauh dari kerajaan dan merasakan damainya hidup di luar istana.

Aku bukan lari dari kenyataan, aku sudah berjuang beberapa kali dan berdarah-darah untuk memperjuangkan segalanya, namun aku selalu kalah. Dan aku sudah lelah.

Aku ingin kedamaian di tempat yang sangat jauh dari sini, meskipun itu artinya bahwa aku terusir dari negeri sendiri.

Negeri yang pernah dimerdekakan oleh leluhurku. Akh...Bukankah sekarang negeri ini kembali dijajah, meskipun dalam bentuk yang berbeda dan jajahan bangsa yang berbeda?

Aku menulis surat keputusasaanku pada seorang kawan, hanya tentang keinginanku untuk  pergi jauh...Tak kuceritakan apa-apa mengenai masalahku padanya, termasuk keberadaanku di istana yang mewah ini, ia pasti menyangka aku masih tinggal di desa dan menjadi penjual bunga. 

Aku hanya sebutkan membutuhkan bantuan agar ia mencarikan jodohku di luar negeri ini agar aku bisa merasakan tinggal di tempat yang jauh.

Biasanya ia tak merespon suratku, yang ia pahami, mungkin aku sedang bercanda, padahal aku sangat berharap hal itu bisa menjadi kenyataan.

Kukirimkan suratku dengan merpati putih yang terbang ke angkasa raya, berharap ada sebuah keajaiban bahwa ia akan mengabulkan pintaku ini. 

Aku berdoa kepada Tuhan semoga suratku segera dibalas olehnya. Setiap hari aku berharap akan nampak kepakkan sayap merpati hinggap di depan jendelaku.

Hari demi hari kutunggu dengan air mata dan kesabaran, seakan surat itu adalah satu-satunya solusi hidupku. Merpati itu akhirnya sampai juga di depan jendelaku.

Kubaca suratnya dengan penuh ketergesaan..

"Aku tak paham kenapa kamu tiba-tiba seperti itu, namun jika kamu mau pergi ke tempat yang jauh, pergilah ke Barat, aku akan menjemputmu di perbatasan kota dan kamu bisa tinggal di sebuah gubuk kecil, tak banyak yang bisa dilakukan disini, tapi kamu bisa menanam bunga.'

Hari itu juga aku segera mengemasi barang-barangku dan kutuliskan sebuah surat untuk ayah...'Selamat tinggal Ayah, maafkan aku, aku ingin menjemput kebebasanku, terimakasih.'

Satu-satunya hal yang membuatku bertahan disini adalah ayah. Ayahku yang mengabdi untuk kerajaan dan menginginkan agar kerajaan ini maju. 

Aku pun begitu. Aku cinta istana ini dan orang-orangnya. Ya, aku percaya masih banyak orang baik disini. Tidak seperti mereka yang jahat-jahat itu...

Namun aku punya pilihan untuk menentukan hidupku sendiri. Aku ingin kebebasanku yang sudah tiada lagi semenjak aku tinggal di istana. Aku ingin pergi jauh dan merasakan kebebasanku. Meskipun itu artinya 'Terusir dari Negeri Sendiri'.