"Kalau setuju menganggap BTP dikriminalisasi, maka harus setuju bahwa HRS juga dikriminalisasi".

"Dan kalau setuju HRS dikriminalisasi, maka harus setuju juga BTP dikriminalisasi".

Ungkapan di atas hanya sebagian orang yang bisa menerimanya. Hal ini oleh sebab jika mengambil sudut pandang dari katakanlah masing-masing kubu, maka tak akan pernah terjadi apa yang dinamakan dengan kedamaian.

Beberapa pekerjaan rumah bumi Indonesia saat ini jika tak ingin luluh lantak oleh tangan-tangan busuk oknum-oknum kreator pemecah belah  kelas ulung adalah dengan saling memahami, memaafkan, tak ada ujaran kebencian dlsb yang bersifat untuk memediasi PR besar ini.

Ini ranahnya bukanlah hanya sebagai "ahokers dan cebongers", dan juga bukan soal "bumi bulat dan bumi datar", atau juga bukan soal "sumbu pendek dan kaum munafiqun".

Tetapi lebih kepada "the invisible hand" yang ingin mengeruk dan meraup keuntungan dari situasi dualisme semacam ini.

Situasi yang disebabkan tidaklah sebatas perlawanan antara penistaan agama maupun ormas yang lantang bersuara keras. Ini lebih kepada kepentingan beberapa pihak tertentu.

Kita bertanya-tanya siapakah mereka tersebut. Jika secara fakta real dan empiris di lapangan, sulit untuk terdeteksi

Namun mereka bisa kita kategorikan seperti ini.

Pihak propagandis, yang merupakan kaum yang telah lama mengincar kekayaan dan SDA di negeri ini.

Elit politik busuk, yang haus kekuasaan dan harta duniawi.

Dan beberapa kaum ekstrimisme kanan yang melakukan tindakan kekerasan fisik maupun kultural yang berlindung di bawah tameng agama sebagai sarana legitimasi aksinya.

Tiga dedengkot di atas; Pihak/Oknum Propagandis, Elit Politik Busuk, dan Kaum Ekstrimisme Kanan, merupakan serangkai busuk yang tak kan peduli dengan bangsa ini. Di pikiran mereka yang terbayang hanyalah bagaimana ambisi mereka bisa tercapai.

Ketiga dedengkot ini memiliki tujuan agak sedikit berbeda. Namun cara yang mereka lalui untuk mengejar ambisi mereka terbilang hampir sejenis. Sehingga bukan tak mungkin ini seperti simbiosis mutualisme pada jalan dan strategi mereka. Saling menguntungkan. Namun pada akhirnya, jikalau nantinya ambisi mereka tercapai dan mereka berada pada satu kesatuan, maka akan bisa kita lihat apa yang kita sebut "dagelan busuk" di negeri ini. Dan pun jika mereka ingin berdiri sendiri, yang ada hanyalah situasi chaos, perang saudara dan ketidak tertiban lainnya.

Kasus BTP seperti celah kecil yang kemudian robek agak menganga dan mereka masuk melalui jalan ini.

Lantas bagaimana dengan kita sebagai rakyat biasa yang telah terbelah ini? Bagaimana rasanya kita menikmati dualisme saat ini? Sangat seksi bukan?

Rakyat di setting sedemikian rupa sehingga terjadi dualisme. Dan tak cukup sampai di situ, jurang pemisah dualisme tersebut semakin diperlebar.

Berbagai "hate speech" yang berdengung selalu menghiasi jagat medsos. Berbagai berita TV swasta maupun media cetak dan media online tak mau menyajikan berbagai fakta saat ini.  

Tak berarti media tersebut berbohong. Disamping mereka mencari keuntungan, namun  media tersebut telah menjadi korban juga. Karena framing yang dibuat oleh pihak propaganda memang dahsyat sehingga muncullah berbagai berita seksi. Entah itu yang pro atau kontra pihak tertentu.

Dan sekali lagi, yang digiring adalah opini publik. Sehingga terpecah-pecah.

Kita tahu bagaimana fans HRS dan fans BTP saling serang, tuding, hujat, bully, dlsb. Lantas apakah diantara mereka 1 salah 1 benar? Atau 2 2 nya benar? Atau juga 2 2 nya salah?

Mereka yang berpengetahuan luas dan sudah memahami situasi seperti ini serta bersikap adil dan objektif terhadap suatu perkara, tidak akan ikut menghujat, tidak memproduksi "hate speech", tidak mudah memaki, tidak akan membeci, dlsb yang intinya tidak mengandung unsur kebencian.

Tapi apa mau dikata, keadaannya sudah begini. Dan akan semakin parah jika bibit2 sentimen antar kubu tumbuh subur oleh perawatan yang dilakukan dedengkot tadi.

Saya rasa baik kubu X dan kubu Y adalah manusia juga. Memiliki otak untuk berpikir, hati untuk merasa, mata untyk melihat dan telinga untuk mendengar.

Permasalahannya adalah perawatan bibit2  sentimen oleh dedengkot "kampret" yang selaulu berusaha melebarkan jurang dualisme tsb.

Mari kita mulai memandang permasalahan ini dari sisi menyeluruh. Karena tanpa pandangan menyeluruh, jika hanya adu argumen saya seperti ini kamu seperti itu, malah akan melebarkan jurang dualisme negeri ini.

Mari kita menjadi hama terhadap perawatan bibit sentimen yang di kreasi oleh dedengkot "para bedebah" tadi.

Saya berpemikiran seperti ini, kubu X dan kubu Y pasti akan mengeluarkan argumen kebenaran mereka. Bisa jadi juga saya yang awalnya dimusuhi X, dan sekarang Y pun akan benci. Karena apa, para bedebah tadi juga telah membenci saya.