Anak muda selalu terikat dan terhubung dengan politik. Baik laki-laki maupun perempuan, semuanya tidak lepas dari pengaruh politik. Dan politik pun, tidak bisa seimbang jika tidak ada kontribusi dan inovasi dari anak muda di dalamnya. Intinya, politik dan anak muda selalu berjalan beriringan. Politik tanpa anak muda itu hampa. Anak muda tanpa politik itu tidak ada apa-apanya.

            Anak muda dan politik adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Kehadiran pemuda dalam politik sebagai pembaharu, dan pencetus pemikiran-pemikiran kritis agar politik di Indonesia bisa lebih kreatif, inovatif, dan bervariasi. Munculnya banyak pemuda dengan gerakan-gerakan positif di masyarakat memicu timbulnya berbagai paham terhadap politik yang terus berkembang. Politik dengan beragam paradigmanya membuat pandangan politik di mata masyarakat semakin beragam pula. Khususnya bagi anak muda, generasi penerus bangsa.

            Sebenarnya, fenomena keterlibatan anak muda dalam dunia politik bukanlah hal baru. Kita selalu bisa menemukan aspirasi dan asa anak muda di dalamnya. Contohnya saja, peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Namun, bukan berarti hubungan anak muda dan politik itu selalu dinamis. Terkadang, keduanya justru terlihat apatis. Saling tidak menerima, dan acuh tak acuh pada wujud abdi sebagai warga negara.

             Karena anak muda dan politik saling berhubungan, bukan berarti tak ada masalah di antara keduanya. Anak muda dan politik, memang seharusnya saling melengkapi. Namun di mata kebanyakan dari generasi muda, politik di Indonesia belum bagus dan terorganisir dengan baik. Anak muda bukannya ingin merendahkan atau menjelek-jelekkan dunia perpolitikan di Indonesia. Tapi sekiranya, pandangan anak muda sebagai penerus juga tetap harus diperhatikan.

            Dalam pandangan anak muda, politik dinilai suatu hal yang skeptis, meragukan. Ada banyak kebijakan, ada banyak peraturan, yang seringkali tidak mencapai ekspektasi anak muda yang terlampau tinggi. Bukan kami menganggap kalau politik di Indonesia tidak becus, namun lebih kepada adanya kesalahpahaman di antara kedua belah pihak ini. Terkadang, salahlah kami ketika mulut kami tak berhenti menyerocos memprotes, namun kerja nyata tak ada sama sekali.

             Itulah kendalanya. Anak muda terlalu apatis akan segala hal. Bahkan hal sederhana di depan mata mereka sendiri. Sehingga apa pun yang terjadi, mereka bersikap seolah-olah tidak peduli dan acuh tak acuh. Baru bertindak saat peristiwa besar sudah terjadi. Sedangkan dunia politik, dinilai terlalu narsis, mencintai diri secara berlebihan, sehingga hal kecil pun diabaikan.

            Politik itu dunia hitam. Karena sejatinya inti dari politik adalah saling berebut kedudukan dan jabatan. Begitu menurut sebagian anak muda. Politik dinilai membingungkan dengan berbagai gagasan yang tidak jelas dan terarah dengan baik, sehingga baik masyarakat maupun anak muda menganggap politik itu kotor. Identik dengan korupsi, tipu muslihat, dan dusta. Masyarakat pun karena lelah, menjadikan mereka abai dan melunturnya kepercayaan mereka terhadap paham politik.

             Tapi, di balik itu semua, anak muda seharusnya paham betul, mereka justru harus ikut berkontribusi dalam mendorong keaktifan politik di Indonesia, membantu menggerakkan dan mengubah persepsi masyarakat terhadap apa yang selama ini mereka pegang teguh. Dan tentunya, peran pemuda tidak hanya berkontribusi pada fisik dan jiwa muda saja, tapi sejatinya pikiran, ide, dan gagasan merekalah yang dipercaya mampu mengembangkan, memajukan, dan menjernihkan paham politik di mata masyarakat.

           Sehingga apa yang selama ini dianggap buruk dari politik, bisa dikembalikan sebagaimana hakikat politik sebenarnya. Karena, politik itu tidaklah buruk, tidak kotor, dan bukan pula dunia hitam. Yang salah terletak pada oknum-oknum yang terlibat dalam dunia perpolitikan. Dengan kata lain, mereka-mereka yang merealisasikan.

           Pada dasarnya, bentuk dari karakter seseoranglah yang menentukan, bukan kedudukan atau jabatannya. Karena tak jarang, oknum politiklah yang paling sering melakukan tindak kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Sehingga, memicu timbulnya persepsi negatif terhadap politik itu sendiri. Hal itu disebabkan karena otak manusia lebih cepat merespon berita negatif, daripada positif.

            Dalam pandangan sebagian anak muda lain yang tidak peduli dengan yang namanya politik, mereka menganggap politik itu tidak ada apa-apanya dan berbagai kebijakan yang dicetuskan pun justru merugikan bagi warga negara itu sendiri. Dan sebaliknya, kegiatan politik kebanyakan menguntungkan orang kalangan atas, seperti pebisnis dan perusahaan-perusahaan besar.

             Padahal, oknum-oknum politik sebenarnya tahu, mana yang hak dan batil, mana yang diperbolehkan dan dilarang, mana hak dan kewajiban, tapi apa yang menjadikannya kacau balau seperti itu, kembali lagi ke pribadi masing-masing dan sistem yang memang belum terorganisir dengan baik.

            Sehingga lahirlah banyak gerakan yang tujuannya untuk memprotes dan bentuk ketidaksetujuan atau penolakan masyarakat terhadap kebijakan yang dianggap tidak relevan dan efisien. Contohnya, wacana penerapan sistem full day school di sekolah menuai banyak kontroversi di masyarakat.

            Semuanya memang saling bertolak belakang. Kesalahpahaman terjadi, serba salah pun jadi rasa alami sehari-hari. Anak muda dan politik seharusnya bisa saling memahami dan mendukung satu sama lain. Bukan malah saling membalikkan wajah tak peduli.

            Pandailah politik untuk sekiranya lebih peka, lebih protektif, dan lebih terbuka menerima kritik maupun saran dari berbagai lapisan masyarakat. Anak muda pun tidak seyogianya hanya berkoar sana-sini, tapi buktikan dengan aksi nyata, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja keras.

            Dunia politik itu narsis.

            Anak muda juga apatis.

            Sekiranya hidup ini bisa dinamis.

            Tanpa perlu bertindak anarkis.

#LombaEsaiPolitik