Suatu ketika seorang ibu yang lahir dan tumbuh besar di sebuah kampung kecil di pelosok desa, dilema untuk melahirkan anaknya di negeri ini.

Ia khawatir tentang masa depannya yang tentu akan  semakin ruwet. Dari sebelumnya hanya memasak sedikit, dengan beban kecil, kelak bertambah.

Sungguh ironis dengan negara bergelimang kekayaan alam, minyak batu bara, emas, hutan, laut, serta beragam kekayaan lainnya yang sampai saat ini masih dijarah pihak asing.

Saat semua aset negara yang tak ternilai dikuasai oleh koorporasi luar negeri. Rakyat Indonesia hanya dapat batunya saja, pajak yang menggeliat setiap saat meneteskan air mata para petani yang tak pernah punya gaji tetap, dan terpaksa bertahan hidup.

Petani di desa-desa tak pernah dipukul mundur oleh aparat layaknya para aktivis yang menuntut kenaikam BBM namun, mereka menjerit lantaran hasil panen tak seberapa, juga dijual murah akibat siklus pemasaran hanya dikuasai para elit, dan pemerintah lagi-lagi gagal memfasilitasi.

Para pejabat dan pengusaha selepas menikah tentu sangat mengharapkan buah hati, sebagai penerus, sebagai ahli waris yang kelak akan membanggakan.

Sementara para buruh bangunan dan pekerja keras lainnya juga tentu demikian, secara umum ingin menikah, lalu punya anak.

Tapi tidakkah orang-orang pernah berpikir tentang nasib seorang ibu yang saya sebutkan di awal, yang masih dilema akan kelahiran bayi dalam kandungannya.

Akankah lahir sebagai bayi yang normal, atau cacat? Akankah berbakti atau justru durhaka. Entah jadi sukses atau kelak jadi maling yang celaka?

Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam. Ibu semacam itu memiliki kasih sayang yang melebihi nilai materi. Tapi bisikan kalbu tak bisa dibendung, bagaimana bila ia melahirkan sementara uang tabungan beli beras habis. Akan makan apa nanti?

Tuhan maha baik, rezeki telah diatur. Tetapi bayi yang baru lahir tak bisa apa-apa. Belum lagi biaya popok, susu, dan lain-lainnya yang telah menjadi alat penyiksa tanpa wujud.

Sedikit mengamati keberadaan kita sebagai ciptaan Tuhan yang tinggal bukan di luar angkasa. Namun, Hidup dalam negara yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sedikit mengusik mata pembaca terkait hal ini, mencerdaskan. Namun, kecerdasan bukan air hujan yang hanya perlu ditadah untuk dinikmati. 

Kecerdasan adalah akibat dari proses pembelajaran di dunia pendidikan formal maupun non-formal, sejatinya hanya bisa diakses bila seseorang memiliki biaya. Bukankah di negeri ini jangankan minum, kencing pun harus bayar.

Belum lagi, semakin hari biaya pendidikan formal kian meningkat, mahal. Sehingga dalam kacamata ekonomi, bila punya uang seseorang lebih memilih menanam saham, bangun bisnis sendiri daripada membayar untuk pendidikan, sebab stigma tentang uang yang seolah satu-satunya syarat mutlak agar disebut sukses oleh tetangga.

Pada sisi lain, setiap anak dituntut agar bisa cerdas. Tuntutan itu menjelma kewajiban, sehingga seseorang yang tidak mengenyam pendidikan dan tidak tahu banyak hal, akan tersingkir sendirinya, dianggap bodoh.

Padahal mereka tak memiliki apa-apa selain keinginan untuk lebih berguna. Mereka tidak sanggup mengakses pendidikan lantaran biaya yang akan menghabiskan tabungannya yang sekadarnya cukup hanya beli makan.

Maka doa sekedar menjadi pilihan terakhir dari kepasrahan manusia-manusia latah, atas data-data yang setiap saat ditayangkan oleh negara sebagai hasil dari produktivitas, benarkah?

Bukan hanya pendidikan, akses sosial terutama politik. Bagi mereka yang saya jelaskan di awal tak bisa menikmatinya.

Seseorang hanya disebut baik oleh lingkungan sekitar bila punya kemewahan yang bisa disodorkan sebagai alat bantu. 

Mereka yang kehilangan banyak hal, hanya menjadi korban rekayasa politik, dimanfaatkan untuk kepentingan suara demi kekuasaan elit yang diwariskan dari turun-temurun, serta segala kekolotannya.

Sementara predikat kebodohan senantiasa mengintai mereka yang miskin, tak sekolah dikutuk sebab dianggap tak berguna. 

Belum lagi, kelak bila ibu tersebut berubah pikiran lalu berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Di usia remaja anaknya, teman sebayanya akan menjadi pengaruh besar terhadap internal kepribadiannya.

Teman-temanya yang lahir dari keluarga kaya sebab orangtuanya pejabat, atau mapan karena bapaknya pengusaha. Akan terus menghina.

Sang anak perlahan akan terpengaruh dan membandingkan dirinya dengan temannya yang lain, lama-lama ia akan merasa benar-benar miskin dan menganggap hidupnya tak layak dijalani.

Walau di abad ke-21 ini masih lebih banyak orang mati bunuh diri daripada mati karena lapar, menurut Yuval Noah Harari. Bukan berarti semua orang dapat menerima hal tersebut sebagai fakta dari polemik sosial.

Memang belum banyak ditemui orang yang mati lantaran tak makan, tetapi nyaris semua orang mati karena penyakit yang bersumber dari asupan makan yang tidak maksimal.

Entah bagaiman nasib seorang ibu yang saya tuliskan di awal. Bila terjebak dalam dilema dan berakhir menggugurkan kandungannya, kemudian diketahui oleh tetangganya, dilaporkan ke polisi. Maka nasib terbaik dalam hidupnya, sebab miskin; berkahir dipenjara.