Minggu ini adalah minggu yang menegangkan bagi masyarakat Indonesia dan Timur Tengah. Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman multietnis dan multiagama, beberapa hari yang lalu, diguncang dan diteror oleh sekelompok teroris biadab.

Mereka (teroris) dengan tidak memedulikan rasa kemanusiaan melakukan tindak kekerasan dengan mengebom tiga gereja di Surabaya, satu Rusunawa di Sidoarjo, dan Mapoltabes Surabaya. Banyak korban tergeletak dan kemudian tewas. Ramai-ramai dunia mengutuk. 

Tidak hanya di Indonesia, di Timur Tengah sana, tepatnya di Palestina, juga terjadi kekerasan. Korban tewas berjumlah puluhan, sedangkan korban terluka berjumlah ribuan. Sendu merundung. Luka menganga. Kebiadaban di mana-mana.

Israel (Zionis) dengan tega merisak dan merusak segala macam hal yang berkaitan dengan pemenuhan fasilitas masyarakat Palestina. Israel berbuat demikian karena ulah dan demo yang digawangi oleh pemuda-pemudi Palestina mencoba menerobos wilayah Israel. Lalu, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sana? 

Kedubes AS di Yerussalem 

Kerusuhan tersebut bermula dari peresmian kedubes AS di Yerusalem pada 14 Mei 2018. Tentu saja, peresmian tersebut memicu polemik tidak hanya bagi masyarakat Israel-Palestina saja, melainkan dunia internasional. 

Dalam resolusi PBB (20/08/1980) mengenai konflik Israel-Palestina, disebutkan bahwa Israel tidak boleh mengubah status Yerusalem. Bahkan, saat itu semua negara yang membuat perwakilan diplomatik di Yerusalem agar menutupnya. Namun, AS menghiraukan resolusi tersebut.

Begitu pula dengan Israel. Sebagai sekutu sejati, AS tetap akan memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Apalagi ini menyangkut fakta sejak tahun 1995, terdapat keputusan dari Kongres AS berupa Akta Kedutaan Yerusalem. Isinya berupa pemindahan kedubes AS ke Yerusalem.

Sejak keputusan tersebut, baru tahun ini AS berani memindahkannya. Butuh waktu lebih dari 23 tahun, mulai dari zaman Bill Clinton, George W. Bush, hingga Barrack Obama. Donald Trump sebagai presiden ke-45 mewujudkan keputusan tersebut.

Dengan ini, Trump juga telah melaksanakan janji saat pidato kemenangan bahwa ia akan melaksanakan pemindahan kedubes AS. Keputusan Trump didukung oleh 32 negara. Bahkan, beberapa di antaranya seperti Guatemala akan mengikuti jejak AS untuk segera memindahkan kedubesnya ke Yerusalem.

Akan tetapi, beberapa negara besar mengutuk keputusan tersebut, seperti Jepang, Turki, dan Indonesia. Retno Marsudi selaku Menteri Luar Negeri Indonesia pun mengecam tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan AS.

Pada akhirnya keputusan tersebut berbuah bentrok yang tak mungkin terhindarkan. Masyarakat Palestina yang terbagi atas multietnis dan multiagama ikut beraksi dan demo besar-besaran. Meskipun dihadang oleh tentara Israel, masyarakat Palestina tetap merisak dan mengutuk melalui pesan dan aksi massal. 

Palestina dalam Duka

Kini, semakin sulit bagi Palestina untuk kembali ke tanahnya. Dengan pengakuan Yerusalem sebagai kedubes AS untuk Israel, membuat mereka terpaksa terusir dari tanah kelahirannya.

Zionis memang kejam. Demi kepentingan dan ego pribadi, mereka menggunakan segala cara, termasuk meminta bantuan AS untuk mencapai tujuannya. 

Peristiwa seperti ini selalu berulang. Resolusi konflik pun tak pernah tercapai, mulai dari Yom Kippur hingga Perjanjian Oslo pada tahun 2002. Bahkan, PBB pun sejak Israel berdiri hingga tahun 2008 telah mengeluarkan sembilan resolusi.

Dari kesembilan resolusi, tak ada yang menghasilkan perdamaian. Barangkali, kata damai hanya kiasan dan angan-angan untuk konflik Israel-Palestina. 

14 Mei kemarin bisa dikatakan sebagai peristiwa mengerikan selepas 2014. Korban yang jatuh hingga tak bernyawa lebih besar.

Tentu saja, ini tak bisa dibiarkan. Butuh lembaga atau negara super power yang mampu menghentikan kebiadaban Zionis. Masalahnya, siapa yang mampu menumpas kebiadaban Zionis? Ini menjadi pertanyaan sulit.

Ratusan laporan yang berisi penembakan di Jalur Gaza selalu mentah di meja Dewan Keamanan PBB. Hal tersebut menjadi sangat wajar.

Di dalam Dewan Keamanan PBB, ada lima negara yang mempunyai hak veto. Ada Rusia, Tiongkok, Jerman, Inggris, dan AS. Jika AS menolak laporan tersebut, tak akan ada kemajuan untuk investigasi kejahatan yang dilakukan Israel.

Dengan demikian, Zionis pun akan semena-mena dalam menindas masyarakat Palestina. Padahal ribuan masyarakat tak berdosa dibunuh tanpa ada sebab. Intinya, Palestina harus diusir karena hanya Israel yang berhak untuk menduduki wilayah Palestina.

David Grossman, penulis kebangsaan Israel, dalam pidatonya sebulan yang lalu, mengatakan bahwa tak akan ada rumah bagi Israel maupun Palestina selama Zionis masih menguasai dan merusak tanah. 

Menurut Grossman, seharusnya, baik orang Israel maupun orang Palestina, bergandengan tangan, berpelukan, dan meneriakkan dengan lantang bahwa hanya perdamaian yang dapat membangkitkan semangat hidup mereka.

Kita selalu berharap perdamaian akan segera hadir di tanah itu. Pertikaian akan usai. Perundungan akan hilang, cepat atau lambat.