Berbicara tentang penjajahan, maka akan terbesit dalam pikiran kita tentang masa lalu kelam bangsa Indonesia. Dalam masa penjajahan yang lamanya kurang lebih 350 tahun, berbagai siksaan mereka timpakan kepada nenek moyang kita, seperti kerja paksa dan lain sebagainya.

Dalam menjajah Indonesia, penjajah memiliki strategi yang dikenal dengan istilah divide et-impera yang artinya ialah politik adu domba yang disusupkan ke dalam politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan kekuasaaan dengan memecah kelompok besar menjadi kelompok kecil agar lebih mudah ditaklukkan.

Strategi tadilah yang membuat bangsa Indonesia menjadi terjajah selama 350 tahun lamanya. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, kita lepas dari penjajahan Jepang yang pada saat itu kalah dalam perang dunia II. Mereka angkat kaki dari tanah Nusantara.

Kemudian pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda kembali mengadakan agresi militernya untuk kedua kalinya. Agresi militer Belanda II ini berakhir dengan adanya resolusi dari PPB pada 28 Januari 1949.

Terlepas dari sejarah Indonesia yang sangat kelam, pada masa kemerdekaan ini, para penjajah tidak bisa lagi menjajah Indonesia dari segi militer, mereka menjajah indonesia dengan 3F. 3F adalah sebuah istilah dan singkatan dari fashion, food, dan fun.

Ketika berbicara mengenai fashion, maka akan terbayang tentang budaya Barat. Sadarkah kita bahwasanya kita sedang terjajah dari segi fashion? Ya, kita sedang terjajah. Mayoritas fashion kita lebih banyak berkiblat ke Barat.

Kita lihat banyak di antara perempuan Indonesia yang membuka dan memperlihatkan auratnya dengan mengenakan baju yang minim kain. Padahal, pada zaman dulu, para perempuan Indonesia berusaha agar pakaian mereka lebar dan menutup aurat.

Ketika kita amati lebih dalam, fashion pada zaman sekarang lebih mengarah kepada merek dan model pakaian. Para muda-mudi bangsa rela mengeluarkan uang yang besar agar pakaian mereka bermerek di mata kawula muda.

Pada esensinya, dalam hal berpakaian itu tidak perlu mahal, tetapi apakah pakaian yang dipakai telah menutupi aurat apa tidak.

Nilai esensi luhur dalam berpakaian tadi mulai luntur dan menjadi tren mode bagi kaum muda seiring berjalannya waktu. Kawula muda sekarang mereka lebih bangga memakai celana jeans yang sobek dibagian lututnya ketimbang memakai celana kain yang rapi ketika keluar rumah.

Hal tadi sudah bergeser pula seiring berkembangnya merek-merek celana jeans ternama dari Barat di Indonesia. Para perempuan lebih percaya diri dengan memakai pakaian jeans sepaha ketimbang memakai rok yang lebih tertutup dan lebih panjang.

Pada hal berjilbab ternyata kita juga terjajah. Banyak perempuan Indonesia yang mengikuti tren mode hijab masa kini, padahal notabenenya tren hijab ini kurang menutup bagian dada perempuan. Sekiranya hal tadi dapat pula menjadi celah bagi setan untuk menggoda kaum lelaki berbuat hal tercela terhadap perempuan.

Dalam fashion, kawula muda lebih suka shopping di mall. Mereka lebih bangga berbelanja di mall dari pada di pasar tradisional atau pasar malam. Hal tadi tentu sedikit berdampak negatif dan dapat melemahkan perekonomian pedagang menengah ke bawah karena mereka harus bersaing dengan para penjual di mall.

Dalam sisi food atau makanan, kita terjajah oleh beberapa makanan impor siap saji, dan sedikit lebihnya kita meninggalkan makanan tradisional. Kebanyakan orang lebih bangga makan di suatu restoran ternama, ketimbang makan di warteg. Hal tadi pula sedikit dapat berdampak pada perekonomian para penjual di warteg.

Disisi lain makanan tradisional Indonesia mulai sedikit diminati karena tidak adanya upaya lestari. Sebab lain kepunahan makanan tradisional adalah karena orang tua tidak berupaya mengenalkan makanan tradisional kepada anak cucunya.

Jika hal tadi terjadi terus menerus maka dapat dipastikan makanan tradisional akan sulit didapat di masa mendatang bahkan punah dan hilang ditelan zaman.

Adapun keterjajahan dari segi fun atau hiburan, dapat kita telisik pada sisi budaya. Kearifan budaya tradisional seperti pewayangan, madihin, dan pamantingan dan adat istiadat lainnya sudah mulai kurang diminati oleh kawula muda.

Para gen milenial ini cenderung lebih suka dan mengidolakan budaya luar negri dan lebih ke barat-baratan dan ke korea-koreaan. Deman budaya Barat dan Korea semakin membumi kendati munculnya para penyanyi K-POP dan dancernya yang membuat mata terpana seketika.

Sejatinya banyak hal negatif yang banyak bertentangan dengan budaya ketimuran. Kita ketahui budaya Indonesia sangat kental dan sarat makna falsafah sebuah kehidupan.

Contoh saja seperti acara pagelaran wayang. Pada acara pagelaran wayang akan kita dapati banyak pepatah-pepatah orang dulu yang dapat digugu dan terapkan dalam keseharian akan tetapi budaya ini sedikit lebihnya mulai ditinggalakan oleh kawula muda.

Dari hal tadi dapat disimpulkan bahwa kita masih terjajajah dari segi fashion, food dan fun. Sebagai individu seharusya kita lebih memahami dan dapat membaca fenomena ini, tetapi sering kali mata tertutup dan buta terhadap keadaan sekitar yang mungkin sudah memasuki keadaan yang mengkhawatirkan.

Budaya orang dulu mulai ditinggalkan, esensi berpakaian mulai terkikis sedikit demi sedikit dan menjadikan tren fashion dan merek lebih utama, juga makanan tradisional mulai punah seiring bertingkatnya rasa kebanggan anak muda dengan makan makanan luar negri di restoran ternama.

Begitu pun kebudayaan tradisional mulai ditinggalkan karena terkesan kolot dan tidak mengikuti zaman. Selayaknya sebagai anak bangsa haruslah ikut andil dalam meredam penjajajah 3F ini sehingga anak cucu kita dimasa yang akan datang dapat merasakan apa yang sekarang kita rasakan.