Usai mengikuti prosesi timbang-menimbang pahala dan dosa,  petahana gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (bahasa Arabnya: Basuqi Nurul Badri) atau Ahok, divonis Tuhan masuk surga. Dengan sigap Tuhan pun memerintahkan malaikat untuk mengawal Ahok menuju pintu surga. Malaikat yang tampak bengong hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, tanpa sepatah kata.

“Ayo koh Ahok, kita jalan ke sana,” ujar malaikat sembari menunjuk ke arah surga.

Ahok dan malaikat berjalan menuju surga ….

Sampai di surga, malaikat memperkenalkan berbagai fasilitas mewah dan beberapa tempat unik yang asik buat nongkrong kepada Ahok. Tiba-tiba malaikat nyeletuk, “Koh, di sini gak ada penggusuran loh.” Ahok ketawa dan berkata, “Ah, bisa aj loe ….”

Tak lama kemudian, malaikat urung diri dengan Ahok. Ia mesti segera keluar dari surga karena pekerjaannya masih menumpuk di luar sana. Ahok pun berterima kasih pada malaikat yang telah berkenan meluangkan waktunya menjadi paradise tour guide.

Di surga,  Ahok sendiri. Ia belum kenal banyak orang. Orang-orang di surga juga tak begitu mengenalnya. Dan ia juga belum melihat orang Indonesia.

Nah, saat acara makrab (malam keakraban), barulah ia bisa berkenalan dengan warga surga yang berasal dari Indonesia. Ahok terlihat begitu asyik bercengkrama dengan warga Indonesia. Beberapa warga Indonesia yang mengenal Ahok sebagai gubernur Jakarta berbondong-bondong menyalaminya.

Tapi di antara warga Indonesia, ternyata ada beberapa anggota FPI dan FUI—yang kebetulan masuk surga juga—nimbrung di sana. Mereka begitu heran kenapa Cina-kafir ini bisa masuk surga. Lalu mereka pulang dan mengabari anggota FPI lainnya perihal keberadaan Ahok di surga.

Keesokan harinya, para anggota FPI cabang surga ini mengadakan rapat yang membahas “Kenapa Ahok di Surga”. Mereka saling-saling pendapat dan menerka-menerka alasan masuknya Ahok di surga. Satu di antara mereka mengatakan, “Jangan-jangan Tuhan keliru melihat catatan amal Ahok. Atau malaikat yang salah menulis catatan itu.”

Karena tidak puas dengan pendapat-pendapat dalam rapat itu, seorang anggota FUI—sebagai peserta peninjau—mengusulkan, “Supaya tidak adanya simpang-siur pendapat tentang Ahok, bagaimana kalo kita mengadakan demonstrasi di hadapan Tuhan.”

Mendengar usulan itu, sebagian besar anggota FPI sangat sepakat. Mereka  yakin bisa mengadakan demontrasi ini  karena  sudah terlatih melakukan aksi-aksi di lapangan saat di dunia yang fana.

Dua hari kemudian, kelaborasi anggota FPI dan FUI mengadakan demonstrasi di hadapan Tuhan. Salah satu perwakilan mereka menyampaikan orasi:

“Wahai Tuhan kami yang maha bijaksana, perkenankanlah kami untuk menyampaikan beberapa keberatan dan gugatan atas masuknya Ahok di surga. Pertama, mohon sekiranya Tuhan memeriksa kembali catatan amal Ahok. Barangkali engkau  terburu-buru sehingga terlewat satu halaman dan tak sempat memeriksa rekam-jejaknya yang kelam.”

“Kedua, besar harapan kami supaya Ahok segera dikeluarkan dari surga. Ketiga, kami amat bangga dengan-Mu sekiranya Ahok dijeblos ke neraka. Demikian gugatan ini kami sampaikan pada-Mu, Tuhan.”

Mendengar gugatan dan keberatan itu, Tuhan sedikit tersentak. Tuhan juga merasa heran kok ada yang berani protes. Malah ia bertanya pada dirinya sendiri, “Masa aku bisa keliru!”

Lalu Tuhan meminta malaikat untuk mengambil dan memeriksa kembali catatan amalan Ahok. Dengan teliti, malaikat menyikap lembar-demi-lembar catatan itu. Tak ditemukan  adanya kekeliruan dalam catatan tersebut. Semua sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Di hadapan para demonstran FPI dan FUI, Tuhan menyampaikan bahwa keputusannya sudah tepat dan tak bisa diganggu gugat. Kata Tuhan, “Kalian tau kenapa Ahok saya masukkan dalam surga?”

Para demonstran bingung sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kalian ingat ‘kan isu-isu SARA yang berkembang menjelang Pilkada Jakarta 2017? Saat itu Ahok mengutip QS. al-Maidah: 51 yang membuat beberapa umat Islam merasa gerah dan resah.”

“Malah ada lagi umat Islam yang sebelumnya tidak begitu paham tentang ayat Quran, tiba-tiba mereka bersemangat mengkaji ilmu-ilmu Quran yang terkait dengan ayat itu, seperti asbabu al-nuzul (situasi sosio-historis yang melatarbelakangi turunnnya ayat), nasikh-mansukh (ayat yang menghapus dan yang dihapus), bahkan ada yang memperbandingkan tafsiran-tafsiran ulama klasik. Ini luar biasa.”

“Tak terduga bila pilkada bisa memantik umat Islam kembali mengaji agama. Dan itu jasa terbesar Ahok. Baa, alah mangarati?” ujar Tuhan pada para demonstran.

“Jangan ngeles gitu dong, Tuhan!”, suara yang muncul dari kerumunan demonstran.

“Apa yang kamu katakan tadi?” pungkas Tuhan.

“Gak kok … gak ada Tuhan. Hehe …,” kata salah seorang demonstran yang cengengesan.

Setelah itu Tuhan kembali ke Arsy-nya. Sementara demonstran FPI dan FUI, pulang dengan rasa hampa dan penuh kecewa atas gugatan yang tak dikabulkan Tuhan. Sedangkan Ahok lagi bersemangat memberi kuliah umum di surga tentang pengalamannya memimpin Jakarta dan bagaimana menghadapi kaum predator-capitalism warisan Orba.