Kali ini saya kembali membuka laptop, membayangkan bagaimana hubungan gaib antara manusia dengan Tuhan, demikian dengan sesama dan semesta. Mengingat manusia secara ilmiah memiliki gen yang serupa dengan binatang. 

Empati dan kebuasan manusia membuktikan insting yang dimilikinya nyaris serupa dengan binatang. Dikutip dari Merdeka[.]com, pada 2005, sejumlah peneliti menentukan bahwa 98,6 sampai 99 persen DNA simpanse memiliki kesamaan dengan manusia.

Walau binatang diklaim tak memiliki akal sehingga tidak mampu mencipta (Inovatif), hal tersebut membuat binatang mampu bertahan dan menyatu dengan alam secara berkelanjutan.

Beda dengan manusia, melalui akal serta ambisi yang melampaui kebutuhannya membuat dirinya senantiasa terobsesi untuk menggenggam seluruh, dan mengangkangi segala.

Hasrat manusia yang ingin merenggut segala kemewahan membuat dirinya tergolong dalam Homo Economicus. Selain itu, secara biologis, ada pula manusia yang ingin mengangkangi seluruh selangkangan melampaui binatang dengan berbagai alasan yang mahabenar.

Terlepas dari semua itu, saya ingin fokus pada bagaimana manusia dengan seperangkat moralitas yang dianutnya. Terkhusus di Sulawesi, sebagai tempat saya bernapas dan menghabiskan banyak waktu berwudhu dan cuci mata.

Di tempat saya, sepasang remaja yang sedang menjalin hubungan asmara lalu melampiaskan emosional mereka kemudian ketahuan, akan dipermalukan di depan publik sebab dianggap melanggar tatanan masyarakat religius, dan itu benar.

Tetapi, sepasang remaja ini hanya akan dianggap melanggar tatanan moral, bila ketahuan. Namun, bila mereka tidak ketahuan, itu sah-sah saja. Sayangnya hal ini saya anggap kurang konsisten terlebih profesional. Kenapa?

Karena bila sepasang remaja ini mampu melakukan pendekatan emosional terhadap lingkungan, dengan cara memenuhi kebutuhan lingkungan, maka sepasang remaja ini akan senantiasa terjaga, bahkan saat ketahuan bercinta sekalipun.

Sepasang remaja yang ketahuan bercinta tanpa ikatan sah dianggap sebagai tindakan terkutuk, amoral. Dan itu menjadi salah satu target operasi penegak kebijakan untuk membersihkan wilayah dari tindakan semacam itu, bahkan dianggap sumber bencana oleh sebagian agamawan. Dan lagi-lagi, mungkin itu benar!

Hanya saja, saya mencoba menganalisis dengan pendekatan logika sederhana, bila sepasang remaja melakukan hubungan romantis dengan status ilegal, dilarang, bahkan dihakimi.

Seharusnya kepedulian ini berlanjut dan bukan hanya melarang sepasang remaja bermesraan, tetapi lebih jauh lagi. Semestinya sepasang remaja ini juga mendapatkan kepedulian, baik dari lingkungan maupun dari pemerintah saat mereka menderita.

Perihal itu, saya yakin salah satu dari sepasang remaja ini pernah atau bahkan selalu menderita di kost atau rumahnya.

Hanya saja terabaikan, kepedulian terhadap amoral sudah seharusnya berlaku adil. Baik saat seseorang menderita maupun saat ia bergembira dengan pasangannya, sebab dengan alasan agama apa pun, penderitaan tak pernah dibenarkan.

Gambaran singkat di atas mewakili sedikit kejadian di tempat saya. Akibatnya sepasang remaja yang ketahuan bercinta oleh masyarakat seolah hancur dan kehilangan masa depan karena akan dipermalukan.

Sebaliknya bila para remaja melakukan tindakan kriminal (tawuran) misalnya, sudah dianggap biasa dan bahkan nyaris semua pelaku merasa bangga melakukannya.

Padahal sudah jelas ini tindakan kriminal, merugikan orang lain. “Segalanya bermula dari hal-hal kecil” menjadi pengantar untuk menganalisis lebih jauh kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang membentuk kepribadian dan membawa seseorang pada tingkatan tertinggi yaitu kekuasaan. 

Bahwa seorang pejabat lebih malu ketahuan selingkuh daripada korupsi, padahal selingkuh tak merugikan banyak pihak secara materi. Sementara korupsi merugikan masyarakat dan bahkan negara.

Suatu perbandingan menarik bila kita melihat bagaimana majunya Jepang hari ini. Dengan standar moral yang juga sangat dijunjung tinggi, walau moral masyarakat Indonesia berbeda dengan Jepang, tetapi dari sini kita bisa memahami relevansi dari apa-apa yang dianut.

Nyaris setiap bulan ada pejabat negara di Jepang yang mengundurkan diri dengan alasan yang mungkin menurut kita di Indonesia, sepele.

Seperti belakangan ini ramai diberitakanYoshihide Suga mengumumkan mengundurkan diri dari jabatannya lantaran mengalami gangguan kesehatan dan berdampak pada kinerjanya, ia malu pada publik.

Contoh lain adalah Makiko Yamada yang mengundurkan diri setelah mengaku pernah ditraktir makan malam dengan biaya sekitar Rp9,38 juta. Bahkan kejadian ini ramai ditanggapi di Indonesia.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, melalui akun Twitter miliknya, @dinopattidjalal, Senin (1/3/2021), "Saya catat yg punya standar "jangan traktir" sangat ketat seperti ini di tanah air hanya @KPK_RI," demikian tulisnya di akun Twitter, dilansir kabar24.bisnis[.]com.

Sebagai buktu bahwa kemajuan negeri Sakura ini tak lepas dari nilai-nilai moral yang dianutnya. Para pejabat selalu rela melepas jabatannya bila sudah merasa tidak mampu lagi mengemban amanah, terlebih saat ketahuan menyalip anggaran walau tak seberapa.

Bedanya di Indonesia secara umum, para pejabat selalu merasa bisa mengemban amanah.

Oknum-oknum selalu merasa haus kekuasaan, bukannya mundur bila mendapat sorotan publik atas buruknya kinerja, melainkan justru semakin terobsesi dan malah merangkap layaknya gurita menjalar ke segala penjuru.

Selain menjadi pejabat supaya terlihat sukses dan dapat sanjungan, ia pun menjadi kontraktor, sembari merangkap dengan jabatan lainnya, dan itu belum memuaskan.

Bahkan bila ada yang tersandung kasus korupsi, masih saja santai dengan ekspresi datar atau sesekali tersenyum saat disorot kamera.

Kesimpulan terakhir dari uraian singkat ini, adalah kita lebih terganggu pada urusan kebahagiaan tetangga daripada peduli dengan tetangga lainnya yang sangat menderita, dan kita mengaku sangat bermoral, bahkan berani menghakimi dengan melibatkan agama.