Adalah sesuatu yang tidak sulit bagi saya untuk mengingat kembali cerita-cerita unik dan menarik dalam rangkaian perjalanan kehidupan bersama ibu.  Ada sebegitu banyaknya cerita bermakna dalam kehidupan yang telah mewarnai masa tumbuh kembang saya sebagai seorang anak.

Salah satu dari begitu banyak cerita yang selalu terkenang bagi saya adalah cerita ‘sendor pesta’ yang selalu kami tunggu saat inong pergi ke pesta nikah semasa di kampung. Ada kebahagiaan yang sangat luar biasa bagi kami--anak-anak inong--saat ada pesta di kampung. Kami akan sangat menunggu pulangnya inong untuk membawakan segelas cendol untuk kami nikmati dalam kebersamaan.

Ada pula cerita ‘lontong onan’ yang selalu menjadi makanan rebutan saat inong pulang dari onan (pasar). Setiap akhir pekan tiba, maka waktu pulang inong dari onan adalah keseruan lain yang ditunggu-tunggu.

Lontong yang tersisa dalam bontot inong sepulang dari pasar adalah makanan kesukaan saya dan saudara perempuan saya. Itu cerita-cerita menarik yang mewarnai perjalanan kehidupan kami, anak-anak inong.

Cerita-cerita sederhana lain yang demikian tidak pernah pula berhenti hingga kini. Ketulusan dan hasrat terdalam inong untuk selalu mengukir bahagia bagi anak-anak kesayangannya tidak pernah usai, bahkan saat kami anak-anaknya telah tumbuh besar dan memiliki keluarga masing-masing.

Bulan lalu, November 2017, baru saja inong mengunjungi anak perempuannya yang kini telah memiliki keluarga baru dengan membawakan oleh-oleh hasil panennya. Usia inong yang telah senja tidak membatasinya untuk mengungkapkan cinta yang luar biasa untuk bahagia anak-anaknya. Fisiknya yang sudah tidak begitu sehat sekalipun tidak pula pernah jadi alasan baginya untuk mengabaikan cinta terdalam bagi keturunannya.

Kami semua anak-anaknya melihat jelas semua perjuangan cinta itu. Perjuangan cinta yang tida batas, dan pula tidak kenal henti. Kami menyaksikan segala daya upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, meskipun dia bukanlah seorang yang punya pendidikan tinggi.

Kami paham segela jerih lelahnya untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga bersama among, meski dia bukanlah seorang pegawai negeri ataupun pegawai swasta.

Kami merasakan pendidikan kerohanian yang baik yang dia tanamkan sedari kecil bersama among. Kami menikmati hangat peluknya saat kami sedang kedinginan, atau saat sedang merasakan kesakitan.

Kami tak kan pernah lupa cerewet indahnya sebagai alarm untuk segera bangun pagi dan persiapan sekolah, atau sekadar alarm untuk berhenti bermain dan segera belajar ataupun juga sekadar cerewetan indah untuk kami mengerjakan tanggung jawab kami masing-masing.

Kami mengakui kekuatan fisiknya, yang pada saat yang bersamaan harus menggendong anak kecilnya sambil membajak sawahnya. Kami memahami cucuran keringatnya saat panas terik merawat kebun kopinya, untuk hasil penen terbaik bagi kami anak-anak tercintanya.

Kami sekarang sangat menyadari segala tangisnya yang dia sembunyikan saat banyak kebutuhan yang harus dipenuhinya. Tetapi, Inong adalah ketegaran ibu yang sesungguhnya. Dia adalah sejatinya perjuangan cinta terdalam.

Jadi, Ibu lebih dari sekadar defenisi dalam kamus-kamus yang disimpulkanm yakni: wanita yang telah melahirkan seorang anak.

Jauh lebih luas dari sekadar defenisi yang demikian.

Ibu (kata benda); Seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa meminta bayaran.

Pada definisi lain: Ibu (kata benda); seseorang yang mencintai tanpa syarat, orang yang membangun karakter dan menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman.

Bahkan ada satu definisi yang menyebut ibu sebagai kata kerja.

Ibu (kata kerja) mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati, dll. Maka tidak berlebihan pula bila untuk semua Ibu diberikan gelar MSi (Master Segala Ilmu).

Terima kasih untukmu, inong atas semua cinta dan pengorbanan. Terima kasih untuk semua ketulusan dan kesederhanaan. Terima kasih untuk teladan kerja keras dan tak kenal lelah. Terima kasih untuk semua yang takkan pernah bisa tergantikan. Kecuali yang engkau rindukan hanyalah bahagiamu saat melihat bahagia keturunanmu.

Semoga semua teladan yang telah diperjuangkan dapat diwariskan. Diwariskan oleh keturunanmu di tengah tantangan zaman masa kini. Teladan yang memberikan pesan perjuangan seumur hidup bagi bahagia anak-anaknya.

Lebih dari sekadar gaya-gayaan saat selfie bersama anak, tetapi pada saat yang sama sibuk dengan gadget dan mengabaikan anak. Lebih dari sekadar memberikan susu formula kepada anak, yang pada saat yang sama mengabaikan ASI karena pingin tampil gaya ala-ala ibu kekinian. Lebih dari sekadar kepentingan kerja, dan mengabaikan anak hanya dengan menitipkan anak di tempat penitipan.

Lebih dari sekadar sibuk nongkrong-nongkrong asyik bersama teman-teman, tetapi anak hanya diperhatikan oleh pengasuh. Lebih dari semua itu, semoga ibu zaman now adalah adalah tetap sebagai sosok ibu yang tak tergantikan. Sosok ibu sebagai cinta yang tak terbatas dan tak pernah pudar.

Selamat Hari Ibu, buatmu, Inong tercinta.

Selamat hari Ibu untuk semua Ibu zaman now!

Catatan:

Inong (Bhs Batak Toba): Artinya Ibu Kandung
Among (Bhs Batak Toba): Artinya Bapak 
Onan (Bhs Batak Toba): Artinya Pekan, Pasar