Hari itu matahari bersinar seperti biasanya. King Power Stadium yang berkapasitas lebih dari 30 ribu kursi telah dipenuhi oleh pemain, staf klub dan seluruh fans setia Leicester City. Mereka berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir bagi Mr.Chairman, Vichai Srivaddhanaprabha, yang meninggal akibat kecelakan helikopter.

Kota Leicester kembali menjadi tajuk pemberitaan, kali ini bukan tentang kabar bahagia, tetapi kabar duka cita yang mendalam yang dirasakan oleh klub Leicester.

Masih jelas dalam ingatan kita, pada musim 2015/2016 klub yang baru setahun promosi ke kasta tertinggi sepak bola Inggris ini, berhasil menciptakan keajaiban dengan menjuarai liga.

Semua orang berdecak kagum, bayangkan di era sepak bola modern seperti saat ini, di mana semua dapat diukur dengan uang, Leicester dapat membalikkannya. Klub yang hanya bermaterikan pemain dengan nama-nama tidak populer serta pelatih senior yang juga bisa dibilang minim prestasi, mampu menghancurkan raksasa-raksasa Liga Primer Inggris, dan merebut tahta sebagai penguasa Liga.

Di King Power Stadium, Leicester City ditasbihkan menjadi raja Liga Primer musim 2015/2016. Bak kisah dongeng pengantar tidur yang menjadi nyata. Dengan semangat pantang menyerah, kekompakan tim, dukungan setia fans serta rasa cinta pada klub, membuat Leicester lebih kuat dibanding klub lainnya.

Musim "Ciderella" itu telah 2 tahun berlalu. Mereka masih mampu bersaing di Liga Primer meski beberapa pemain kunci telah dibeli klub pesaing. Leicester ingin membuktikan pada dunia, sebuah klub dibentuk tidak hanya dengan uang saja.

Akan tetapi, kabar duka menghampiri King Power Stadium, ketika sebuah helikopter jatuh, dan menewaskan 5 penumpang di dalamnya, dan seorang diantaranya adalah Sang Presiden klub, Vichai Srivaddhanaprabha.

Vichai datang ke Leicester pada tahun 2010 dengan membawa harapan baru. Vichai membangun pondasi Leicester tidak dengan uang melainkan kekompakan, persahabatan dan rasa cinta pada klub. Lihat saja beberapa kali Vichai terlihat sangat akrab dengan para pemain Leicester. Tidak hanya akrab dengan pemain, para fans Leicester juga merasakan sikap bersahabat dari Mr.Chairman.

Vichai sebenarnya termasuk dalam jajaran pengusaha sukses dengan kekayaan melimpah, bisa saja ia memilih untuk membeli klub Liga Primer papan tengah dengan prospek yang lebih baik, namun ia memilih membeli sebuah klub di liga kelas dua Inggris.

Sang Dermawan Vichai mengembalikan sepakbola menjadi sebuah permainan yang menyenangkan bukan melulu soal bisnis. Vichai mengajarkan kita bagaimana menjadi presiden sekaligus fans sebuah klub sepakbola.

Ada saatnya datang dan saatnya pergi. Vichai datang membawa perubahan, mengubah nama stadion menjadi King Power Stadium seolah ingin memberi pesan pada setiap lawan siapa penguasa stadion ini. Label "King" pun tidak hanya sebuah isapan jempol, kerna dibuktikan dengan gelar, namun di King Power Stadium ini pula, Vichai pergi meninggalkan banyak sahabatnya.

Ribuan fans memenuhi tribun stadion. Pria dan wanita, tua, muda bahkan anak-anak tampak larut dalam kesedihan. Sambil menyaksikan video memori Mr.Chairman mereka membentangkan syal putih bertuliskan, FOREVER IN OUR HEARTS"

Terima kasih Vichai