Pamitnya PB Djarum dari jagat perbulutangkisan dunia sebaiknya tak perlu dibesar-besarkan. KPAI hanya mencoba menjalankan undang-undang seperti diamanatkan.

Bukankah untuk pengembangan bakat anak-anak masih banyak yang bisa dilakukan swasta? Misalnya kontes idol-idolan cilik. Mulai nyanyi-nyanyi dan bermain drama, hingga pemilihan dai cilik. Itu, kan, malah menghibur?

KPAI sendiri menyebut tidak ingin membubarkan PB Djarum. Melalui lisan ketua KPAI Susanto, disebutkan jika PB Djarum tak berhadapan dengan KPAI, namun UU. Sebaliknya, dalam suratnya, KPAI plus Yayasan Lentera Anak bahkan meminta agar Audisi Badminton Djarum Foundation dihentikan.

Mbah Kayat, atlet badminton kampung saya yang namanya kini diabadikan menjadi nama lapangan badminton itu tiba-tiba muncul dalam mimpi saya. Ia menyebutkan bahwa badminton memang tak ada gunanya.

"Lari ke sana-kemari untuk memukul shuttlecock. Badan lelah dan rawan cedera. Apa manfaatnya coba?" kata mbah Kayat.

Lalu mbah Kayat memberi saran, KPAI sebaiknya memang terus bergerak dan mencari terobosan-terobosan baru. Bukan hanya PB DJarum atau audisi bulu tangkis PB Djarum saja yang dibubarkan. Sebaiknya semua yang terkait dengan industri tembakau sebaiknya dibubarkan.

Beasiswa Djarum dan Sampoerna misalnya. Itu jika KPAI memang ingin membahagiakan dan mencerdaskan anak-anak Indonesia secara kafah dan syar'i.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah berbincang dengan Haryanto Arbi. Sang juara dunia badminton itu bercerita isi dapur PB Djarum. 

Biasanya setelah audisi akan didapat bibit-bibit unggul atlet. Saat menjalani pendidikan di PB DJarum, bibit-bibit unggul itu jika ada yang ketahuan merokok akan mendapat imbalan sepantasnya.

"Pecat!" kata Haryano Arbie.

Saya sempat merinding mendengar jawabannya. 

Kali lain saya pernah menyaksikan audisi bulu tangkis Djarum Foundation. Tak ada satu pun yang merokok. Jadi larangan audisi bulu tangkis Djarum Foundation sebagai bentuk pencegahan anak-anak menjadi perokok itu memang sudah tepat. Karena membaca tulisan Djarum, otomatis akan membuat pembacanya jadi perokok!

Konon, Bloomberg Foundation adalah salah satu tentakel kelompok perusahaan farmasi yang memanfaatkan nikotin sebagai bahan dagangan mereka. "Badan amal" ini menyalurkan uang jutaan dolar ke Indonesia untuk membayar anggota DPR, LSM, sampai organisasi Islam untuk membatasi ruang merokok.

"Dari sini terlihat kalau salah satu LSM yang dibiayai Bloomberg adalah Yayasan Lentera Anak," kata mbah Kayat dalam mimpi saya itu.

Sebagai mantan atlet RT 13 RW 6 di kampung Tanjungsari Semarang, ia mengusulkan agar KPAI juga mulai melarang anak-anak menonton pertunjukan teater, festival musik, seni, dan budaya lainnya, yang dibiayai oleh Djarum Foundation.

"Saya kok percaya dengan asumsi KPAI bahwa setiap anak yang melihat pertunjukan dan festival itu akan langsung jadi perokok. Saya, kan, atlet dan tidak merokok? Jadi saya tahu kekhawatiran mereka," kata mbah Kayat.

Jika dilanjutkan, pohon-pohon trembesi di jalan-jalan Pantura Jawa Tengah, hutan-hutan yang sudah hijau, dan juga mangrove penghalang abrasi sebaiknya juga dirobohkan. Bukankan banyak yang ditanam dengan menggunakan dana dari Djarum Foundation?

Akan lebih seru jika peletakan kondom di mini market tak usah dikoreksi, karena akan mendorong daya kritis anak-anak mempertanyakan fungsi kondom. Hotel-hotel juga ditutup karena mendorong orang untuk tidur.

"Jadi KPAI itu murni bergerak untuk kemajuan bangsa. Perbanyaklah jumlah audisi nyanyi-nyanyi dan joget-joget. Itu jelas membahagiakan karena meskipun kalah tetap bisa joget dan bernyanyi," kata mbah Kayat.

Mbah Kayat lalu bercerita ketika mengikuti pengajian AR Fachrudin, ketua Muhammadiyah di masa mbah Kayat masih muda. Saat itu ada jemaah yang bertanya tentang keabsahan uang hasil judi untuk menyumbang tempat ibadah seperti masjid.

"Boleh," kata pak AR Fachrudin.

Tentu saja jemaah menjadi bergemuruh. Pak AR Fachrudin kemudian menjelaskan bahwa jika uang hasil ketidakbaikan dilarang untuk kebaikan malah akan mendatangkan bahaya.

"Berarti uang hasil judi hanya boleh digunakan untuk keburukan. Uang dari judi hanya boleh untuk maksiat dan lain-lain. Itu sangat berbahaya karena akan memperkuat jalan keburukan dan memperberat jalan kebaikan," kata mbah Kayat menirukan kiai karismatik itu.

Jadi KPAI memang harus melarang duit dari Djarum atau perusahaan yang berkaitan dengan nikotin lain untuk membiayai hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak. Termasuk Bloomberg yang dananya merupakan patungan dari perusahaan-perusahaan farmasi berbasis nikotin.

"Nanti pada gilirannya silakan protes ke Gusti Allah kalau telah keliru menciptakan tanaman bernama tembakau. Jadi KPAI tak usah ngurusi kasus kekerasan pada anak, kekerasan seksual pada anak yang berujung kematian, dan sebangsanya. Sebaiknya fokus ngurus nikotin saja," kata mbah Kayat.

Bagaimanapun, badminton tak menyumbangkan apa-apa kepada negara. Kalau hanya medali emas, tentu tak ada gunanya. Medali itu, jika dijual, tentu hasilnya tak seberapa dibanding anggaran KPAI dan Yayasan Lentera Anak.

Terima kasih, KPAI. Tanpamu, anak-anak Indonesia akan tersesat menjadi atlet bulu tangkis. Kegiatan yang unfaedah.