Berbicara tentang problem, tentu tidak ada habis-habisnya ibarat rindu yang tak berkesudahan pada kekasih yang berangkat duluan ke Akhirat.

Seperti belakangan ini, mencuak di berbagai media terkait Rohingya di Myanmar. Yang pada dasarnya konflik antar ras hingga pembantaian yang sudah berjalan akut.

Bahkan beberapa artikel menyebutkan kalau permasalahan di Rohingya sudah sejak 1980-an hingga sekarang belum juga menuai solusi berdamaian abadi.

Rohingya mengalami pelanggaran serius dari Pemerintah, mulai dari kekerasan dan pendekatan represif dari militer dan aparat keamanan, kekerasan massal dari kelompok vigilante di Myanmar, hingga pemaksaan identitas Bengali sebagai pendatang dari Bangladesh.

Selanjutnya di Palestina, dimana perkembangan terakhirnya. Demo kemarahan warga Palestina memprotes pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel.

Demo tersebut sudah berminggu-minggu berjalan dan sudah menelan puluhan, bahkan ratusan korban. Dimana permasalahan tersebut telah menjadi konsumsi global dan juga menuai berbagai kecaman dari para aktivis kemanusiaan di Indonesia.

Bukan hanya itu, reaksi cepat pun merespon seolah hal tersebut sangat berpengaruh besar terhadap Indonesia tercinta nan indah ini. Hingga pada kahirnya berbagai kalangan angkat bicara.

Ada yang melakukan aksi solidaritas penggalangan dana untuk membantu korban di sana. Ada pula yang memboikot jalan meyerukan solidaritas untuk saudara seimannya. Begitulah maksud dan tujuan mereka bila dipahami dengan pelan, seperti yang tersebar di berbagai media.

"Kalau mau bantu Palestina kenapa hanya berani bicara di media, kenapa tidak langsung kerahkan pasukan militer ke sana", Pemimpin Korea Utara (Kim Jong Un). Kutipan tersebut ada benarnya juga. Bila memang Indonesia secara total mau membantu, kenapa tidak sekalian lewat pasukan bersenjata agar namoak jelas Indonesian membantu secara moril dan fisik.

Kejadian-kejadian mengerikan itu membuat saya diam, sembari geleng-geleng kepala sendiri. Kenapa tidak kita akui kalau kadang kita gagal paham terkait aksi solidaritas.

Bahkan saya sempat berpikir kalau isu luar negeri menyibukkan kita berteriak, lalu apa kampung halaman kita sendiri sudah aman nyaman dan damai, atau sudah berbuatkah kita sejak dalam diri, keluarga dan lengkungan sekitar?

Selain kampung halaman, daerah, wilayah hingga negara ini. Apa sudah baik ketimbang negeri yang kita perjuangkan. Bukan menolak, atau tidak terima. Tapi alangkah baiknya membangun sekitar dulu, baru menyuarakan pembangunan kemanusiaan negara luar.

Ini bukan kritikan, hanya colekan pada penguasa terkait beragam kasus yang juga merupakan pelanggaran HAM di Indonesia namun masih saja diabaikan. Seperti, Wiji Thukul dan kawan-kawannya (1998), Munir (2004) apa kita lupa, atau pura-pura tidak ingat.

"Meliha semut di kejauhan, dan lupa kerbau di dekatnya" kutipan dari sepenggal pepatah ini masih relevan kiranya. Sebab kita jarang mengkaji, terlebih mendiskudikan persoalan sekitar. Misalnya akses transportasi desa yang terisolir atau pembangunan daerah yang tidak merata. Hal itu juga membutuhkan teriakan, dan masyarakat miskin di pelosok desa pun sangat mengharapkan solidaritas untuknya, lalu kita (mahasiswa) dimana?

Jadi sebagai mahasiswa, saya harap kita tidak hanya aktif pada media menyuarakan kekerasan di dunia bagian Timur, tapi juga harus peka pada kondisi lingkungan.

Sebab hal paling mendasar yang harus disadari oleh mahasiswa yakni, mahasiswa dengan rakyat adalah satu, harus berbaur dan menjadi pelopor pembuka dan pelatih mulut masyarakat untuk angkat bicara. Sebab hidup hanya soal BENAR!!!