Dari atas sini semua terlihat sama. Remah-remah masa mudaku yang berserakan di lantai kamar masih tersusun dalam ketidak teraturan yang menjemukan. Dan semut-semut serta berbagai macam serangga mulai memenuhi kamarku.

Dalam kesadaranku, sesungguhnya empat hari yang lalu, ataupun hari ini tidak ada bedanya. Semuanya adalah pengulangan dari kejadian-kejadian jutaan tahun lalu. Berputar dalam suatu siklus yang diandaikan sebagai sebuah kejadian yang berbeda satu sama lain.

***

Langit terlihat murung. Aroma mendung memenuhi udara sekitarku. Pagar beton didepanku yang dicat hijau dan dua supermarket diantaranya menjadi penanda tempat pertemuan kita siang ini. Kupejamkan mata, sebab tidak ada hal yang menarik untuk dicerap indera penglihatanku. Kudengar suara gesekan daun yang tersamar dalam raungan knalpot dan tangisan bayi. Kudengar tetesan gerimis yang beradu dengan genteng rumah dan aspal jalan.

Sudah mulai turun. Langit terlihat lebih muram dari lima belas menit sebelumnya. Jeans yang kau kenakan telah terlihat kumal. Begitu juga jaketmu, tasmu, dan wajahmu. Kita berjalan tanpa tujuan. Sebab katamu biar semesta yang mengatur semuanya. Sebab katamu keinginan manusia ujung-ujungnya bikin sakit hati. Persis seperti penggalan lagu dangdut yang diputar di pangkalan ojek perempatan jalan.

Aku tidak mengerti bagaimana kau menerjemahkan tanda-tanda yang dikirimkan semesta. Pun aku tidak mengerti perbedaan semesta dan alam, juga alam semesta itu sendiri. Sebagaimana aku tidak mengerti bedanya laut merah dan laut mati. Tapi yang aku tahu, kau selalu punya jawaban untuk ketidak tahuanku. Dan hari ini, semesta menuntunmu ke tempat itu, bukan ke Bogor.

***

Sebab ketidakteraturan itu mewujud di antara tumpukan Fazlur Rahman dan Nietzche. Juga dalam Murakami dan Shindunata. Yang saling bertindih di sudut sebelah kanan kamarku. Sebab pengulangan itu mewujud dalam berlembar-lembar surat yang kukirim kepadamu.

Tidak ada yang sama di bawah matahari ini. Sebagaimana juga dengan kata-kataku. Dan kata-kataku. Ya. Kata-kataku itu tidak pernah ada dan memang tidak akan ada, sebagaimana keberadaanku dalam semesta. Sebagaimana keberadaanmu dan tetangga sebelah kamarku, juga keberadaan-keberadaan lainnya yang terus direka-reka oleh umat manusia.

Dan kamar empat kali lima meter ini makin pengap. Sebab keberadaan tumpukan-tumpukan tadi memenuhi lantai tak bertegel. Yang dinginnya menjalar ke kulitku yang menghitam, yang membungkus daging tipis, yang menyelimuti tulang-tulangku yang rapuh.

Sinar matahari yang terpantul dari jendela di sisi kiri kamar tak kuasa menghantarkan hangatnya ke tubuhku. Dingin lantai tak bertegel itu semakin menjadi-jadi. Dan muntahan ke dua puluh tujuh di hari ini telah mengotori kulit muka Les Fleurs du mal di hadapanku.

Muntahan itu lebih terasa sebagai sentakan nafas pendek yang terhirup tiba-tiba. Seperti hirupan marijuana sintetis yang dijajakan di Kota New York, dan Melbourne, dan Seattle, dan Amsterdam. Sesak, membingungkan, dan menyiksaku. Tapi menjadi candu bagi diriku sendiri. Dan sayup-sayup dari lantai satu ku dengar lantunan ayat kitab suci.

***

Orang tuaku mencurigaimu sebagai seorang perampok. Sebab mereka menganggapku sebagai harta karun. Dan perjalanan kita hari ini adalah sebuah pemberontakan, atau juga sebuah bunuh diri buatku. Dan hujan di luar sana semakin deras.

Bau kertas yang dimakan rayap bercampur dengan bau tanah basah. Di sepanjang lorong-lorong gedung ini kita berputar-putar seperti sepasang Minotaur yang terjebak dalam labirin yang dibangun oleh orang-orang Yunani kuno yang katanya beradab itu. Tapi katamu orang-orang Jawa itu lebih unggul. Lebih beradab sebab mereka adalah keturunan langsung Adam dan Ibrahim.

Aku tidak tahu lengkapnya, yang jelas kamu pernah menceritakannya saat kita makan Gudeg hambar di sebuah ruko di kota Jakarta. Di antara suara langkah dan tawaran pedagang, telepon genggamku berbunyi. Dari Ibu. Katanya perempuan baik-baik harus sudah di rumah sebelum malam tiba.

Katanya banyak lelaki cabul keluar malam-malam. Katanya Ayah mencariku, sebab seragamnya dan seragam adik-adikku masih belum disetrika. Hujan belum berhenti. Lembayung mulai muncul dari kumpulan awan yang berarakan di langit sebelah barat. Sebentar lagi magrib.

***

Seratus lima puluh ribu helai rambutku yang rontok kupintal dengan sisa-sisa tenagaku. Nyamuk-nyamuk dari kebun sebelah kosku menyambutku. Seperti kerumunan burung bangkai di padang pasir. Seperti kerumunan perempuan di antara tumpukan produk kecantikan. Ratusan mililiter darahku disedotnya. Dan semesta telah memanggilku.

Panggilan terakhir. Terbungkuk. Kutarik sebuah kursi ke tengah-tengah kamar. Kugapai langit-langit kamarku. Yang terdiri dari beberapa potong kayu besar, sebagai penyangga atap bangunan tua ini. Kuikatkan tali itu. Kueratkan simpulnya. Kuambil kertas kosong terakhir yang tersedia di kamarku. Kutulis surat terakhir untukmu.

Permisi, saya sedang bunuh diri sebentar, Bunga dan bensin di halaman. Teruslah mengaji, dalam televisi berwarna itu, dada.*

*Dikutip dari puisi Afrizal Malna, CHANEL OO