Perjalanan yang kita lakukan sering kali menyisakan kenangan. Kenangan yang bisa bersifat indah atau bahkan buruk. Perjalanan juga akan menyisakan lamunan. Lamunan yang membuat kita berfantasi mengenai masa lalu atau bahkan masa depan. 

Terlebih di saat sendiri, tanpa ada kawan yang menemani. Pikiran kita akan semakin kuat dalam melahirkan imajinasi. Imajinasi yang membuat akal selalu bernostalgia dengan beragam peristiwa yang membalut kesadaran jiwa.

Mungkin itulah yang kurasakan saat ini. Kesendirian di perjalanan menuju kampung halaman membuatku terlarut dalam lamunan. Sepanjang jalan kuamati pohon teh yang berjejer memanjakan mata. Membuat akal terlarut dalam imajinasi. Jalan yang berliku menuju Sukabumi Selatan tak membuat asaku putus untuk pulang. Tak kurang dari 100 km harus kutempuh demi berjumpa keluarga.

Tapi aku tak ingin membahas tentang kepulanganku ke rumah. Itu tidak akan menarik untuk dikisahkan. Aku hanya ingin membahas lamunan yang menemani perjalanan pulangku. Sampai suatu ketika, mobil elf yang kutumpangi  berhenti di depan SMPN 1 Lengkong. Kulihat kebisingan menyadarkan lamunanku. Enam orang remaja tanggung berpakaian putih biru mengalihkan perhatianku. Kulihat di luar jendela mobil, keceriaan tergambar di wajah polos mereka.

“Hayu atuh geura naék mobil elf!” Ujar seorang anak perempuan berwajah khas Sunda

“Heueuh atuh ieu gé arek.”[1] Jawab seorang temannya yang berlari dari pintu gerbang sekolah.

Sejenak kehadiran mereka di mobil yang kutumpangi membuatku melanjutkan lamunanku. Ibarat bunga yang telah layu. Kehadiran mereka kembali menyirami lamunanku yang sempat terputus beberapa saat tadi.  

 ***

“Teet teet teet”


Bel berbunyi di Ladang Sawit Merotai. Sebagai pertanda bagi para buruh sawit untuk memulai aktivitas. Seperti biasa Suhaimi, rekan satu tempat tinggalku dan para buruh lainnya berkumpul di depan office. Mereka langsung mengikuti briefing dengan pihak manajer.  Bunyi bel pagi itu membuatku terbangun dari mimpi indah malam tadi. Sangat keras bunyinya.

Jam dinding kulihat masih menunjukkan pukul 05.30. Mata ini belum sepenuhnya terbuka. Pagi yang hebat, setiap hari di ladang ini aku selalu dibuat bangun lebih awal. Bel pagi ini juga membuatku teringat tiga tahun lalu saat masih menjadi santri. Bunyi bel yang keras sering menyadarkanku dari mimpi indah di dunia khayalan. Demi membangun mimpi di dunia nyata. Ah sudahlah menyebalkan memang, tapi positifnya aku bisa memulai kegiatan lebih awal.

Pengabdian merupakan hal mulia. Apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati. Pengabdian yang dilakukan akan selalu melahirkan kesan. Entah itu kesan baik bahkan bisa jadi buruk. Itulah dua kemungkinan yang akan selalu lahir dalam ingatan. Berbicara mengenai bentuk pengabdian, tentu semua orang mempunyai jawaban beragam. Begitu pula denganku, mahasiswa semester akhir yang tengah mengadakan Kuliah Kerja Nyata.

Kalau ditanya hal yang paling membahagiakan. Tentu setiap orang punya jawaban berbeda. Bisa saja menjadi juara dalam perlombaan, keliling dunia, atau menikmati makanan mahal. Semua itu bersifat subjektif. Begitu pula denganku. Kebahagianku sederhana saja. Cukup bisa memberi manfaat saja itu sudah membuatku bahagia.

“Kang Fahmi, mas Andi ayo kita sarapan.” Terdengar suara di luar rumah kayu yang kutinggali. Seorang remaja tanggung keturunan Bugis memanggil kami.

“Iya, tunggu sekejap bah!” Jawabku singkat saja.

“Baik kang siap.”                          

Seperti biasa, anak-anak Bugis ini menginap di rumah kami. Anak perempuan menginap di rumah teman perempuanku. Sedangkan anak laki-laki menginap di rumahku. Minat mereka untuk menginap di rumah kami, tak lain karena kurangnya perhatian dari orangtua mereka. Kesibukan di ladang sawit dari pagi buta hingga petang. Membuat mereka tidak mendapat perhatian.

Mereka adalah korban dari ketidakadilan. Tidak meratanya lapangan pekerjaan di perbatasan. Membuat orangtua mereka pindah ke negeri seberang, Malaysia. Tepatnya di Tawau, sebuah kota kecil di negara bagian Sabah. Tingginya upah buruh di sini telah menjadi magnet tersendiri bagi para perantau dari tanah Bugis.

Posisi mereka sebagai warga negara asing menciptakan rasa tidak aman. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki dokumen lengkap. Polis Imigrasi Malaysia bisa setiap saat melakukan razia. Risikonya berat, mereka bisa saja ditangkap dan disiksa. Bahkan dideportasi ke perbatasan. Tentu kalau hal ini terjadi, mereka diancam tidak boleh menginjak negeri sawit selama lima tahun.

Sebuah fakta yang melahirkan kesadaran. Mereka anak-anak polos yang tak bersalah. Mereka berhak bermimpi besar layaknya pendahulu mereka di tanah Bugis. Sempitnya lapangan pekerjaan telah menciptkan tantangan besar bagi mereka. Hidup di negeri orang tanpa adanya dokumen. Tentu sangat berbahaya. Polis Imigrasi Malaysia ibarat malaikat Izrail yang siap kapan saja mencabut nyawa mereka.

 *** 

“Selamat pagi KKN.” Ujar salah seorang murid. 

“Iya selamat pagi budak-budak. Sila duduk.” Jawabku dalam bahasa Melayu

“Terimakasih KKN.” Ucap anak-anak CLC Merotai kelas 7A.

“Baiklah budak-budak, sekarang kita nak belajar bahasa Inggris. Akang tanya, siapa suka bahasa Inggris?”

Krik krik, tak ada satupun yang mengangkat tangan. Pertanyaanku berlalu bergitu saja bagai ditiup angin sepoi-sepoi. Bahasa Inggris masih menjadi pelajaran yang mereka takuti. Padahal mereka tinggal di negeri bekas jajahan Inggris. Ya, aku mengerti mengapa mereka tidak suka pelajaran ini. Sebab mereka belum tahu tujuan dari mempelajarinya.

Ladang sawit telah membatasi dunia mereka. Keterbatasan juga membuat wawasan mereka belum bisa berkembang seperti halnya anak-anak SMP di ibukota. Mereka perlu ruang terbuka untuk berekspresi. Mereka juga perlu dorongan kuat untuk membangun masa depan lebih baik. Keadaan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku selaku mahasiswa KKN.

Baik, kalau begitu tugasku yang pertama adalah bagaimana menumbuhkan rasa cinta anak dalam belajar. Karena dengan cinta itulah mereka dapat menjalaninya dengan sepenuh hati. Wawasan mereka perlu dibangun lebih luas lagi. Sehingga mereka dapat terbang tinggi melihat indahnya dunia. Selanjutnya aku harus membuat mereka dapat melewati batas sawit, yang selama ini menjadi penghalang ruang gerak mereka.

 “Budak-budak semua, sekarang kita nak belajar bahasa Inggris. Di sini yang pandai menyanyi tak?” Tanyaku pada mereka.

“Elfa kang,” celetuk anak kecil berambut keriting.

“Oke, Elfa kau bisa maju tak?” Tanyaku pada anak perempuan berkulit hitam manis yang duduk paling depan.

“Aku tak pandai menyanyi kang,” ia menjawab dengan wajah malu-malu.

“Tak payahlah kau malu-malu, ayo maju-maju jangan malu-malu!” Ucapku kemudian diikuti anak-anak.

Iapun maju ke depan dengan wajah tersipu malu. Wajah cantik khas perempuan Bugis. Ditambah dengan balutan jilbab Melayu melengkapi penampilannya. Meskipun umurnya masih belia, tapi ia sudah pandai bersolek. Entah Siapa yang mengajarkannya. Sebab orangtua mereka pun pastinya sibuk di ladang sawit sepanjang hari.

Di depan kelas, aku mulai memutar lagu One Direction, “Story of My Life”. Lagu ini sangat cocok dalam menceritakan kisah hidup mereka. Kisah hidup yang seharusnya mereka ukir dengan hal-hal positif. Kelak mereka akan kenang. Setelah itu, Elfa pun menyanyikan lagu di depan kelas. Bahasa Inggris aksen Melayu terdengar jelas. Meskipun begitu suaranya indah bagai burung yang berkicau di pagi hari.

“Elok sangat suaramu fa, bolehlah ajarkan akang sikit,” godaku pada gadis kecil itu.

“Ah akang bisa saja,” jawabnya dengan wajah tersipu malu.

“Iyalah kau sudah comel, elok pula suaramu,” aku menggoda lagi.

“Iya terimakasih kang,”

Sejak saat itu, setiap saat aku memasuki kelas mereka. Bahasa Inggris selalu menjadi pelajaran yang ditunggu.

***

“Brak.” Terdengar suara pintu terjatuh dari rumah tetangga di saat matahari belum menunjukkan cahayanya.

“Cepat keluar! Kalau tak mau, nanti kami paksa.”

Pagi hari yang sangat mencekam. Ayam pun seolah tak ingin mengeluarkan suara merdunya. Kenyamanan yang selama ini hadir di ladang sawit, seolah sirna. Para polis imigrasi Malaysia tengah merazia dokumen para pekerja. Yang tak lengkap akan ditangkap dan selanjutnya dideportasi.

Rumahku tak menjadi incaran para polis Malaysia. Sebab aku berada di barisan para staf perusahaan sawit. Yang kebanyakan Warga Negara Malaysia. Meskipun aku aman. Namun pikiranku saat itu tertuju pada anak-anak didikku. Mayoritas dari mereka tidak memiliki dokumen. Tentu ini akan membuat mereka terusir dari negeri sawit Malaysia.

Setelah itu kuberanikan diri untuk melihat keadaan di sekitar rumah. Kulihat ada tiga orang yang kukenal. Laila, Sandi, dan Fatimah. Wah, sangat mengejutkan. Mereka murid di kelas yang kuajar. Para buruh sawit sempat memberikan perlawanan terhadap polis. Akan tetapi ketangguhan polis yang bersenjata lengkap, membuat para buruh pasrah. Mereka diangkut ke dalam truk menuju ke pelabuhan.

Pagi itu menjadi sejarah kelam bagi mereka. Anak-anak buruh ilegal yang tidak tahu apa-apa telah menjadi korban dari kecerobohan orangtua mereka. Ketiadaan dokumen merupakan masalah besar yang tak bisa lagi ditawar oleh pemerintah Malaysia. Sejak saat itu, aku telah belajar dari mereka. Merah putih bisa berkibar di manapun berada. Semangat belajar mereka telah membuka cakrawalaku akan pentingnya pendidikan bagi seluruh anak bangsa.

[1] Percakapan dalam bahasa Sunda, yang berarti “Ayo cepat naik mobil elf!” dan jawabannya, “Iya ini juga mau.”