Barangkali sudah menjadi semacam kausalitas di dunia maya, bahwa kontroversi kerap ditanggapi dengan komik dan meme. Fenomena ini semakin menunjukkan tren meningkat sejak perhelatan Pilpres yang lalu.

Maka ketika seorang penulis novel bernama Tere Liye melepas sebuah komentar kontroversial di halaman penggemarnya di facebook, sudah dapat diduga, sejumlah meme dan komik berentetan disebar, mengiringi komentar bernada sindiran, kerap juga makian yang ditujukan kepada sang penulis atas klaimnya yang dianggap mengecilkan, bahkan nyaris menihilkan peran kaum kiri dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

Salah satu komik yang sempat lewat di beranda facebook saya dapat pembaca tengok pada gambar di atas. Sebelumnya saya perlu memuji kepekaan pembuat komik dan kemampuannya dalam mengolah isu sehingga menjadi cukup mengena di hati pembaca, kiri maupun bukan kiri, penggemar komik maupun bukan penggemar komik.

Namun demikian ada hal yang menurut saya agak mengganggu dalam komik di atas, yaitu sikap yang agak keterlaluan dalam memberi label atas fiksionalitas. Kata-kata berbunyi: "Omongannya fiksi! Nih baca!" buat saya agak berkesan merendahkan. Bung Hatta yang amat menghindari karya fiksi sekali pun barangkali tidak akan sekeji ini.

Berkaca dari komik di atas saya kemudian menjadi khawatir, selepas komentar kontroversial Tere Liye di halaman penggemarnya, banyak yang kemudian akan antipati dan memandang rendah karya fiksi. Padahal, dalam pemahaman saya, karya fiksi yang baik justru menjadikan realitas sebagai titik pijak dan tolaknya. Fiksi yang baik adalah refleksi yang jernih--sering juga pemberontakan yang keras--penulis akan realitas dan problem sosial yang ia serta masyarakatnya hadapi.

Saya khawatir setelah ini para penulis fiksi akan makin diidentikkan dengan para pengkhayal kosong. Para pembual malas baca dan kurang piknik. Padahal sejatinya, sebuah fiksi yang ditulis dengan kukuh justru sangat menjunjung tinggi logika dan fakta-fakta di sekitar, termasuk fakta sejarah. Tidak semua penulis fiksi itu menulis secara ngawur dan ahistoris. Hanya penulis buruk saja yang bisa melakukan itu tanpa rasa bersalah.

Soal karya fiksi yang bisa jadi faktual, setidaknya mendekati, kita bisa melihat buktinya dalam karya-karya yang kerap disebut fiksi ilmiah dan fiksi sejarah. Dalam "Star Trek" misalnya, kita akan menemukan banyak item teknologi yang melampaui dekade. Sekira 23 tahun sebelum iPad ditemukan di dunia nyata, para awak USS Enterprise di semesta Star Trek telah menggunakan alat serupa itu.

Kita juga bisa menemukan penjelasan ilmiah tentang struktur otak dan kepribadian manusia dalam film "Inside Out", sebuah film animasi produksi Pixar yang baru saja memenangkan Oscar. Tentu saja penjelasannya dibuat sefiksi dan seringan mungkin, agar ia terterima oleh penonton yang hanya ingin mencari hiburan.

Di tataran fiksi sejarah kita bisa menemukan contoh dalam karya-karya Dan Brown. Sang penulis sedapat mungkin menghela karyanya yang fiksi untuk sejalan dengan alur sejarah, meski sejumlah fakta sejarah yang dikemukakan Dan Brown masih debatable.

Contoh lain juga dapat kita temukan dalam serial "Harry Potter". Betapa J.K. Rowling melakukan riset yang tekun lagi melelahkan tentang mitologi Yunani, Romawi, dan Anglo Saxon; tentang inkuisisi Gereja kepada orang-orang yang dituduh penyihir di abad pertengahan; dan tentang struktur bahasa latin serta bahasa-bahasa arkaik lain lengkap dengan aksaranya hanya untuk menulis sebuah fiksi untuk anak-anak.

Contoh-contoh yang saya paparkan di atas merupakan bentuk-bentuk karya fiksi populer. Sengaja agar pas dengan subjek yang menjadi pangkal tema tulisan ini, yakni Tere Liye sebagai penulis karya populer. Andai contoh-contoh karya fiksi dari ranah sastra serius ikut saya tarik ke sini, maka pandangan soal fiksi yang identik dengan kebohongan akan sangat dengan mudah ditumbangkan.

Sejarah sastra telah mencatat betapa banyak orang yang diasingkan, dipersona-non-gratakan, divonis mati, dipenjara, sampai dieksekusi hanya karena menulis karya fiksi. Tak kurang dari nama-nama seperti penyair Pablo Neruda yang diusir dari negerinya sendiri yaitu Chile, sampai penyair Ashraf Fayadh yang divonis mati oleh pemerintah Saudi. Meski belakangan, dalam kasus Fayadh hukuman itu diturunkan menjadi penjara dan cambuk.

Kita barangkali ingat pula kisah novelis Salman Rushdie yang difatwa mati oleh majelis pengadilan agama Iran. Juga penyair Jose Rizal yang dihukum mati otoritas Spanyol saat negara itu masih menjajah Filipina.

Kita bisa melihat betapa sebuah karya fiksi sampai derajat tertentu begitu membikin kaum penguasa, atau yang memiliki kuasa mudah was-was dan bertindak membabi-buta. Sampai-sampai, menjelang runtuhnya orde baru sastrawan yang juga pemerhati komik, Seno Gumira Ajidarma mengeluarkan diktumnya yang menggetarkan: "Saat jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara." Tentu yang dimaksud sebagai "sastra" oleh Seno di sini adalah termasuk juga cerpen, novel dan puisi. Dengan kata lain: karya-karya fiksi!

Tentu saja, biar bagaimana pun, fiksi harus tetap dipandang sebagai karya fiksi. Untuk alasan apa pun, fiksi haram hukumnya diperlakukan sebagai fakta. Anggapan ini berpijak dari ketakutan dunia pasca Perang Dunia II, dimana penyebaran berita bohong begitu masif saat itu, sebagai bagian dari propaganda peperangan.

Joseph Goebbles, menteri penerangan Nazi berkata, "Fiksi yang didengungkan berulang-ulang akan menjadi fakta", sebuah ucapan yang mendapatkan penerapan paling nyata justru dalam setiap peperangan pasca-PD II oleh AS yang menjadi musuh Nazi. 

Mulai dari Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Teluk, Perang Afganistan, sampai Perang melawan ISIS di Suriah dan Irak tak pernah lepas dari upaya menebar kebohongan yang dibalut laporan jurnalistik. Data-data palsu yang mencakup jumlah korban, kerugian materiil, kerusakan infrastruktur, jalannya front, wilayah yang dicaplok, jumlah senjata kimia dan biologis serta tokoh-tokoh kunci yang mati atau tertangkap di medan perang didesain sedemikian rupa sehingga tampak seperti data valid, agar musuh terteror dan dunia memberi dukungan.

Dalam kondisi damai sekali pun, upaya mengkamuflasekan fiksi menjadi kenyataan juga sering terjadi. Pada 1998 Amerika Serikat tergugah, bahkan terpukau oleh aksi seorang pemuda umur belasan bernama Ian Restil. Sendirian, Restil meretas sistem komputer sebuah perusahaan bernama Jukt Micronics.

Begitu epiknya peretasan itu sampai-sampai Jukt Micronics mesti mengirim dua orang perwakilannya untuk bernegosiasi dengan Restil, di sela-sela sebuah konvensi para peretas, agar sang bocah bergabung dengan perusahaan itu sebagai konsultan keamanan jaringan mereka.

Restil lalu meminta perusahaan membayarnya dengan jumlah besar: tumpukan uang dalam satu truk raksasa, serta permintaan khas remaja puber seperti majalah Playboy dan mobil Mazda Miata. Permintaan-permintaan itu kemudian disetujui Jukt Micronics yang sudah mati gaya.

Ketakjuban publik akhirnya runtuh begitu mengetahui kisah yang terbit sebagai artikel berjudul "Hack Heaven", di Majalah New Republic itu tak lebih dari sebuah isapan jempol. Kemudian diketahui peretas komputer umur belasan bernama Ian Restil tersebut hanyalah sosok fiktif, perusahaan bernama Jukt Micronics adalah perusahaan fiktif, bahkan konferensi para hacker juga adalah konferensi fiktif.

Pendeknya, artikel Hack Heaven murni merupakan sebuah karya fiksi dan The New Republic mesti menanggung malu. Reputasi mereka yang saat itu dikenal sebagai majalah bacaan para Presiden Amerika tercemar sudah.

Tak ada jalan lain bagi The New Republic selain memecat Stephen Glass, sang penulis artikel tersebut. Belakangan, setelah ditelusuri, Hack Heaven hanyalah satu dari 27 karya fiktif Glass yang didakunya sebagai karya jurnalistik. Menggambarkan betapa tinggi imajinasi Glass, namun sayang tidak dibarengi sikap yang layak, bila dipandang melalui etika jurnalistik.

Kisah yang kemudian difilmkan di bawah arahan sutradara Billy Ray tersebut memberi pelajaran buat saya pribadi, bahwa betapa pun banyaknya peristiwa unik berseliweran di sekitar kita, publik tetap butuh drama. Sebuah drama untuk membuat takjub dan kagum, namun sekaligus nyata.

Sehingga, ketika seorang penulis bernama Tere Liye muncul dengan tulisan-tulisan fiksinya, publik pun terpesona. Ketika ia menulis analisis sejarah yang tidak faktual, publik, dalam hal ini penggemarnya, tetap percaya.

Maka dalam hal ini, bukan semata fakta dan fiksi yang harus dipersoalkan, melainkan bagaimana fakta dan fiksi itu kita perlakukan. Membaca adalah sebuah kegiatan yang baik. Namun, membaca kritis adalah sebuah tindakan yang penting dan wajib.