“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”

Kata-kata nan indah ini tidak asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Jika kita pernah turut menyanyikan lagu Hymne Guru, kalimat ini akan terucap pada penggalan lagu yang biasa dinyanyikan memperingati hari guru, setiap tanggal 25 November.

Penggalan lirik itu berbunyi: “engkau bagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

Lewat lagu ini tergambar betapa mulianya kedudukan seorang guru. Ia merupakan sosok yang menentukan maju mundurnya pemikiran generasi suatu bangsa. Guru merupakan subjek yang bisa dikatakan sangat penting bagi di dunia ini.  Tanpa guru, maka peradaban dari sisi pemikiran akan punah.

Salah satu narasi populer yang terang benderang menceritakan pentingnya peran guru, yakni cerita yang terselip pada tragedi pengemboman kota Nagasaki dan Hiroshima. Sejarah menceritakan, pasca ledakan bom di kota tersebut,  hal yang pertama ditanya kaisar Jepang, Hirohito saat itu ialah, “Masih adakah guru kita yang tersisa?”

Waktu kemudian membuktikan bahwa pertanyaan itu berimplikasi terhadap (relatif singkatnya) pemulihan negara Jepang dari negara yang kalah perang menjadi negara maju di bidang industri dan teknologi. Bersanding sejajar dengan negara-negara Barat (Sekutu).

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sistem pendidikan di Indonesia dari masa ke masa terus menunjukkan perubahan, sejalan dengan semakin majunya peradaban. Seiring dengan itu, guru senantiasa terlibat di dalamnya. Guru juga senantiasa ditantang untuk tidak ketinggalan dari setiap butir perubahan tersebut.

Sedikit menoleh ke sejarah, tonggak awal pendidikan di Indonesia untuk kalangan bumi putera dipelopori oleh Ki Hadjar Dewantara. Ia didaulat sebagai pahlawan pendidikan, yang peringatan seremonialnya digelar setiap tanggal 02 Mei. Beliau merupakan guru panutan bangsa, yang membawa titik terang dalam dunia pendidikan kita.

Pasca kemerdekaan, pemerintah kita terus melakukan pembenahan-pembenahan dalam dunia pendidikan kita. Termasuk dalam hal pemberian perhatian kepada para guru. Meskipun harus diakui, banyak dinamika  yang terjadi di dalamnya. Demikian pula dengan sejumlah tantangannya.

Salah satu dinamika yang terjadi dalam dunia pendidikan kita adalah hubungan antara guru sebagai tenaga pendidik dan murid selaku anak didik. Hubungan antar dua subjek pendidikan ini sering mengalami pergesekan. Misalnya dalam hal komunikasi, pemberian nilai, dan transformasi ilmu pengetahuan.

Baru-baru ini, publik digemparkan dengan sebuah peristiwa yang mencabik-cabik dunia pendidikan kita. Seorang siswa SMP di Gresik Jawa Timur, merokok di ruangan kelas dan menantang guru yang sedang berada di sana. Sungguh miris, bukan?

Ini bukan merupakan kejadian pertama murid menantang guru untuk berkelahi. Sebuah fakta yang membuat dunia pendidikan tercoreng. Kalau di lingkungan pendidikan saja sudah seperti itu, bagaimana dengan di luar lingkungan pendidikan?

Kejadian seperti ini beberapa kali terjadi pada era reformasi. Penulis juga kurang mengetahui apakah di zaman orde baru ada kejadian seperti itu. Namun, dengan gaya rezim memimpin dan kuatnya biroikrasi pada saat itu, peristiwa seperti ini kemungkinan besar sangat jarang terjadi—untuk tidak menyebut tidak terpublikasi. 

Demikian juga pada masa orde lama. Ini merupakan salah satu tantangan dalam lingkungan pendidikan di Indonesia dewasa ini.

Dalam pengamatan penulis, ada sejumlah faktor yang melatar-belakangi munculnya peristiwa-peristiwa seperti ini. Faktor dimaksud antara lain; salah pemahaman terhadap arti demokrasi, makna Hak Asasi Manusia yang tidak benar-benar dipahami, dan pertentangan norma dalam regulasi, kerjasama yang tidak terjalin antara pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan.

Sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, para pendiri bangsa menyepakati bahwa sistem yang kita anut dalam konsep bernegara adalah demokrasi. 

Secara etimologis demokrasi  berasal dari bahasa Yunani, Demos yang berarti pemerintahan dan Kratein yang berarti rakyat. Secara sederhana demokrasi berarti sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.

Di dalam sistem ini, terdapat kebebasan rakyat untuk bertindak tanpa intimidasi maupun intervensi dari penguasa,namun dengan catatan tindakan itu harus benar-benar dapat dipertanggung jawabkan.  

Pada masa orde baru, butir dari demokrasi bernama kebebasan bertindak ini terkesan hanya pepesan kosong. Kebebasan bertindak baru bias dikatakan terimplementasi sejak runtuhnya rezim orde baru digantikan dengan masa reformasi.

Namun seiring dengan itu pula, kebebasan yang diperoleh itu disalah pahami oleh sebagian orang. Dianggapnya bahwa kebebasan dalam sistem demokrasi itu adalah kebebasan tanpa batas. Hal ini membawa dampak ke dalam perilaku sosial masyarakat, termasuk juga ke dunia pendidikan saat ini.

Kita bisa bandingkan misalnya, bahwa murid pada yang bersekolah sebelum reformasi sangat sungkan untuk merokok di area publik—meskipun dia perokok ulung. 

Bandingkan dengan saat ini? Tidak terlalu sulit bagi kita untuk menemukan anak sekolah yang masih mengenakan baju dinas merokok di area publik: taman bunga, trotoar jalan, angkutan umum, dan tempat keramaian lainnya. Ada anggapan bahwa: “aku memiliki kebebasan”.

Aspek berikutnya adalah mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam beberapa kasus perselisihan antara guru dan murid, yang terjadi adalah salah paham terhada HAM. Guru yang memberikan peringatan kepada muridnya lewat sedikit sentuhan fisik, kerap mendapat respon yang berlebihan. Guru dituding melanggar HAM dan cepat-cepat dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

Memperoleh pendidikan yang baik memang merupakan salah satu bagian dari HAM.  Akan tetapi, untuk memperoleh pendidikan yang baik itu pula, antara guru dan murid tetap harus bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Memperingati murid yang menyimpang dari ketentuan itu juga merupakan hak dari guru. Bukan malah divonis melanggar HAM ketika guru memberikan peringatan dengan caranya tersendiri, yang masih di ambang batas kewajaran. 

Pernah juga suatu kejadian di lingkungan pendidikan kita, seorang guru dilaporkan ke pihak berwajib karena mencubit murid yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah.

Selanjutnya adalah masalah kurangnya kerjasama antar pemangku kepentingan di dunia pendidikan, khususnya antara pihak sekolah dan orangtua murid. Para orangtua kadang menganggap, bahwa jika si anak sudah dimasukkan ke sekolah, maka segala tanggung jawab pembinaan karakternya adalah tanggung jawab pihak sekolah.

Padahal sebenarnya, pendidikan formal di sekolah hendaknya diseimbangkan juga dengan pendidikan informal di tengah keluarga. Jika ini terjalin dengan baik, kemungkinan peristiwa-peristiwa yang tidak seharusnya terjadi di lingkungan pendidikan, kemungkinan besar dapat terminimalisir.

Faktor terakhir adalah adanya norma-norma dalam regulasi kita yang terkesan tumpang tindih dan bergesekan. Pertentangan antar norma itu misalnya antar regulasi yang mengatur tentang HAM dengan regulasi di bidang pendidikan.

Di dalam peraturan perundang-undangan tentang pendidikan misalnya, guru adalah orang yang diberi kewenangan untuk mentrasformasikan ilmunya kepada peserta didik, dengan berjalan pada koridor yang ditentukan. 

Guru juga diberi wewenang untuk bertindak ketika ada murid yang menyimpang dari aturan yang ditentukan, dengan catatan masih pada batas kewajaran.

Akan tetapi, ketika guru mengambil tindakan tertentu saat murid menyimpang dari koridor yang berlaku, misalnya dengan memberikan sedikit sentuhan fisik terhadap si murid, maka regulasi yang dipakai untuk melaporkan adalah aturan yang berkaitan dengan HAM. Di sinilah kadang terjadi pertentangan antar norma dalam regulasi itu.

Faktor-faktor inilah yang  bisa dikatakan menjadi sebagian pemicu dari persoalan yang terjadi belakangan ini, dalam konteks interaksi antara tenaga pendidik dan anak didik. Ini perlu menjadi perhatian semua pihak mulai dari pemerintah, masyarakat, murid, dan juga para pemerhati pendidikan.

Tentunya kita sangat berharap, perselisihan antara guru dan siswa  tidak terjadi lagi ke depannya, demi terciptanya dunia pendidikan yang benar-benar berkualitas di negara yang kita cintai ini.