Puisi, Buah Cinta dari Rindu

Setelah kedatangan rasa,
perjumpaan akan menunggu kita.
Agar rinduku dapat segera mencumbu
lalu menghangatkan diri dalam rindumu.
 
Namun sepertinya sang rindu,
tak pernah mau mempercepat waktu
juga tak pernah mau memangkas jarak
pada setiap upacara temu yang akan beriak.

Dan itulah yang menjadikannya bijaksana,
menjadikan sosok rinduku dan rindumu
sebagai guru bagi kita yang masih keliru
untuk menafsirkan makna cita dan cinta.

Kita yang masih saja mencari,
sepasang mata satu sama lain
agar kembali berpendar permai
selepas masa yang begitu dingin.
 
Namun apa yang akan dilakukan rindu kita,
setelah rinduku dan rindumu berdekap mesra.
Apakah ia akan mengungsi di pedalaman hati.
Ataukah hidup dan beranak-pinak bersama  puisi?


Ilusi Diksi dan Rinduku yang Masih Mencintaimu


Pada gemuruh guntur,

yang meluruh hancur.

Ada sengkarut kabut,

yang carut dan kalut.


Pada desau angin,

yang meracau dingin.

Ada jalinan debu,

yang menyalin pilu.


Pada detik waktu,

yang meracik temu.

Ada jarak canggungku,

dan detak jantungmu.


Aku adalah,

paras yang terhempas.

Kau adalah,

degup yang meredup.


Kita adalah,

penghuni yang tak bersua.

Kita adalah,

perantau yang tak bercerita.


Namun aku mencintaimu,

di luar kesediaan

matahari dan rembulan

menahan muskilnya bersatu.


Sungguh aku mencintaimu,

di luar kesanggupan

badai dan hujan

membendung derasnya rindu.


Dan aku mencintaimu,

di luar kemampuan

waktu dan zaman

menghitung fananya usiaku.


Adakah yang Lebih Mewah?


Adakah yang lebih mewah,

dari komitmen cinta Penelope pada Odysseus?

Bersama sabar,

ia menunggu Odysseus selama dua puluh tahun untuk kembali dari Perang Troya.


Adakah yang lebih mewah,

dari gelora cinta Guinevere pada Lancelot?

Bersama yakin,

ia meninggalkan Raja Arthur beserta segala keglamoran dari kerajaan Britania Raya.


Adakah yang lebih mewah,

dari penegasan cinta Romeo pada Juliet?

Bersama rasa percaya,

ia menenggak racun demi berputih tulang  

menyusul Juliet yang dikiranya sudah tutup usia.


Adakah yang lebih mewah,

dari anggur cinta Qays pada Layla?

Bersama ketetapan hati,

ia menjelma majnun demi membunuh dirinya lalu menghidupkan Layla di keabadian cinta.


Aku rasa kisah kasih mereka semua sangatlah mewah.

Dan, tiada yang lebih mewah dari itu semua.

Namun aku tak berhasrat mencintaimu dengan mewah.

Sebab, aku bukan siapa-siapa dan hanyalah lelaki biasa.


Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana: "sesederhana kelak aku menuturkan fabel dalam novel seraya merebahkan lelahmu pada temaram dan pundakku"


Sungguh aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana: "sesederhana kelak aku mengecup keningmu dalam hening seraya mengucap selamat malam dan mematikan lampu"


Oksimoron: Cinta dan Rindu


Aku ingin tetap hidup,

hingga aku takut menua.

Aku mendamba mati,

hingga aku menolak terluka.


Aku ingin tetap suka,

hingga aku takut duka.

Aku mendamba cinta,

hingga aku menolak benci.


Aku hanya ingin hidup,

juga menua bersamamu.

Aku juga ingin mati,

dan melukai waktu.


Aku hanya ingin suka,

juga menerima dukamu.

Aku juga ingin cinta,

dan mencintai bencimu.


Mungkin aku harus berguru,

dan sedikit belajar kepada rindu.

Ia adalah jiwa, jarak dan sangkala.

Ia yang selalu menjadi begitu syahdu.


Karena kehidupan sang rasa,

dan kematian sang masa.

Kesukaan sang janji,

dan kedukaan sang diri.


Ia yang begitu mulia,

melahirkan semesta hati.

Keseluruhan sang cinta,

dan ketiadaan sang benci.


Dan sebelum dunia,

Tuhan ciptakan cinta.

Sebelum rindu,

Aku sudah temukanmu.


Dan sebelum surga,

Tuhan ciptakanmu.

Sebelum bertemu,

kita sudah bersama.


Somnambulis: Tidur yang Terjaga


Raga sampai di bunga tidur,

dan mulut sibuk mendengkur.

Namun jiwa masih berjalan,

sepenuh riuh pulang ingatan.


Mencari nyata dalam mimpi,

terbalut fiksi dalam jejak delusi.

Ah sialan, dimanakah aku berpijak.

Mengapa kaki terus menjajaki jarak.


Bajingan, persetan dengan angan.

Satu yang ada hanyalah bayangan.

Terdistorsi peran imaji katastrofi,

gelap mataku mencari kesadaran.


Antarkan saja harapanku ke neraka,

akupun tak berharap lahir ke dunia.

Padamkan saja peluang asmara,

atau segera beri aku nafas cinta.


Aku nausea dengan dimensi ketiga,

aku tinggal sendiri dalam kesendirian.

Aku juga tak dapat lagi membedakan,

realitas manusia dengan fatamorgana.


Sungguh apa yang lebih meresahkan,

dari kehidupan duka dan lara?

Dan apa yang lebih mengerikan,

dari kematian rasa dan cahaya?


Seri matahari dan binar temaram,

mungkin dapat timbul dan terbenam.

Namun sinar kosmis jatuh atas kita,

menjelma malam yang terlelap baka.


Dan nampaknya aku tidak sadar,

selama aku masih terjaga oleh sadar.

Sebagaimana aku terus saja lupa,

pada mimpi dan cita setelah terjaga.


Aku lari lebih jauh tuk mencari makna,

menerima kesaksian fakta dan nestapa.

Bahwa kau sudah sirna entah kemana,

dan akupun sudah tak jadi tepian mata.


Wahai tali hati dan jiwaku,

jika dalam tidur aku dapat mencintaimu.

Niscaya aku akan cendera,

tuk menjagaimu dalam tidur selamanya.