Hanya anak-anak yang mampu bersikap bebas, percaya bahwa mereka bisa melakukan apa saja. Mereka tidak kenal takut. Secara naluri, mereka percaya pada kekuatan sendiri. Itulah mengapa kadang mereka selalu mendapatkan apa yang diinginkan, dengan cara apa pun. Ketika tumbuh dewasa, mereka sadar tidak sekuat apa yang mereka kira. Kesadaran lain tumbuh, sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain.

Analisisnya tidak serumit psikoanalysis Sigmund Freud. Kematangan berpikir pada anak banyak ditentukan oleh asupan pengetahuan dari madrasah pertamanya (keluarga). Sedang proses pengolahan informasi primer yang diterimanya dicerna berdasarkan analisis Freud (salah satunya). Dirunut dari Sadar (Id), Prasadar (Ego), dan ketidaksadaran (Superego).

Ini merupakan gambaran bahwa segala bentuk pengetahuan tidak mandiri, selalu dibutuhkan sumber pengetahuan lain untuk melengkapinya. Yang mandiri hanya pengetahuan itu sendiri.

Pada seorang anak, alam bawah sadar memproduksi sisi matching mirroring dengan sangat dominan. Tidak heran jika mereka dikategori sebagai peniru yang hebat. Apa yang diperolehnya tercermin kembali pada sikap mereka selanjutnya. Tanpa sadar, tanpa pertanyaan, tanpa daya kritis, segala informasi yang mereka peroleh kemudian kembali diperagakan tanpa pertimbangan kecocokan atau risiko yang akan ditimbulkannya.

Konsep ini, menurut Freud, adalah fase ketidaksadaran (superego). Ketidaksadaran ini berisi insting, impuls, dan drives yang bisa jadi bawaan lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik, biasanya terjadi pada masa anak-anak, yang ditekan oleh kesadaran (ego) lalu pindah ke daerah tak sadar (superego). Pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

Gambaran fase sederhanya kira-kira seperti ini: Sadar (id), memerhatikan hal-hal yang dicermati tetapi hanya sepintas lalu atau hanya untuk waktu tertentu; kemudian, Prasadar (ego), penengah dari Sadar (id) dan Ketidaksadaran (superego), ingatan yang tersimpan di fase sadar (id), akan ditekan oleh pengamatan Sadar (id) yang baru ke fase Prasadar (ego); Ketidaksadaran (superego), fase di mana ingatan Prasadar (ego) kembali ditekan ke bawah dan akan tersimpan baik, sampai ada stimulus untuk mengangkatnya kembali dalam keadaan (biasanya) tidak sadar.

Sampai di sini, tidak elok rasanya membebankan kesalahan pada si anak akan perilaku-perilaku menyimpang yang mereka lakukan. Ini merupakan perilaku psikologis yang semua orang merasakannya, tidak pandang bulu, dia ada pada fase generasi mana saja.

Perilaku Generasi Pendahulu (X-Y)

Perihal sepele yang orang dewasa lakukan akan membawa dampak tidak sepele bagi anak. Sebut saja, misalnya, upaya pembagian generasi; Generasi X, Generasi Y (milenial), Generasi Z, dan Generasi Alpha.

Sepintas lalu, pembagian generasi ini bertujuan untuk pemetaan kebutuhan pengetahuan. Erat kaitannya dengan penyesuaian perkembangan peradaban. Arahnya adalah padanan perkembangan industri 1.0 sampai 4.0; tentang generasi mana yang ada pada fase industri mana.

Konstruksi ini memang dibutuhkan sebagai upaya sinkronisasi kebutuhan dan upaya adaptasi. Teori Generasi ini pertama kali dicetuskan di Amerika oleh William Strauss dan Neil Howe atau lebih dikenal dengan teori generasi Strauss-Howe dalam bukunya yang berjudul Generations.

Pemetaan sederhananya berdasar pada tahun kelahiran generasi. Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964), Generasi X (lahir tahun 1965-1980), Generasi Y (lahir tahun 1981-1994), Generasi Z (lahir tahun 1995-2010), Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025).

Tetapi, tanpa sadar, kita membuat meta perilaku baru bagi anak. Mereka merasa benar atau setidak-tidaknya tidak merasa bersalah ketika melakukan perilaku yang menyimpang bagi generasi X atau Y (milenial), tetapi dilakukan secara massal oleh semua generasi Z atau Alpha. Pada tahap ini, matching mirroring masih berlaku.

Kasus di atas, dalam teori, dikenal dengan kesadaran massa. Kesadaran individu yang masih tanda tanya (?), tetapi terkonfirmasi secara massal, sehingga tidak penting lagi untuk dipertanyakan. Kesadaran kita terbawa oleh riuh suasana massa (pelaku) yang banyak.

Konteks teori ini sangat mudah kita temui di kerumunan massa yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion, nonton konser musik di ruang terbuka, atau kerumunan massa aksi demonstrasi. Kita merasa asing jika tidak bereaksi layaknya kerumunan massa beraksi.

Ada banyak contoh kasus yang viral di lini masa, mulai dari video, foto, sampai pada penggalan kalimat caci dan maki. Semua ramai dilakukan oleh anak yang seharusnya sibuk bermain dan mengembangkan imajinasi, karena melihat banyak contoh yang dipertontonkan oleh generasi X maupun Y.

Saya merasa perlu merekomendasikan pada diri kita semua untuk memeriksa jejak digital atau flashback perilaku apa saja yang pernah kita pertontonkan pada mereka. Sebagian dari kita yang mengaku berada pada fase generasi milenial (Y) ini turut mencicipi perkembangan teknologi yang menyerbu generasi Z dan Alpha. Kita ramai bertindak dan tampil bagai hero, memberi contoh yang sangat tidak patut dicontoh oleh para generasi Z dan Alpha.

Perhatikan isian dari aplikasi berbasis phone, mulai dari Tiktok, bigolive, beetalk, bahkan facebook, Instagram dan twitter, sudah menjadi media utama bagi generasi Z dan Aplha untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh orang dewasa. Soal konten, kita semua paham apa yang ada di dalam aplikasi yang saya sebutkan tadi. Toh ternyata semua pelakunya adalah kita.

Sampai di sini, siapa yang patut menyalahkan siapa?

Kita, para generasi pendahulu, gagal menjadi supervisi atau advicer bagi anak yang sudah dikategori sebagai generasi Z maupun Alpha. Kita seperti para kritikus yang tidak menghadirkan solusi. Sibuk mencari kesalahan dan beramai-ramai menghakimi mereka, para anak-anak Z dan Alpha.

Sikap kita yang mengutuk dan menjadikan semua aktivitas mereka viral di media massa adalah salah satu tujuan mereka (eksistensi). Tidak heran jika semua itu malah membuat aktivitas serupa menjamur, bukan malah berkurang. Kita yang katanya milenial, gagal mengurai persoalan dan tanpa sadar semakin menjerumuskan para Z dan Alpha ke hal yang kita kutuk ramai.

Peran Madrasah Pertama (Keluarga)

Kita lalu berdalil bahwa semua hal itu tergantung pada asupan nutrisi pengetahuan dari rumah. Dengan sangat percaya diri menyodorkan beberapa bukti akan generasi baik dari keluarga baik.

Penanganan generasi kita samakan dengan penanganan riset data. Sibuk bermain akrobatik angka, statistik, diagram, dan tabel-tabel persentase. Membaca dan menganalisis data-data minor dan mayor, lalu menarik konklusi pasif. Kita lupa bahwa satu dari sepuluh generasi yang tidak baik akan mengancam keberlangsungan generasi berikutnya. Berapa pun sedikitnya.

Hal yang sekali lagi luput dari perhatian kita bersama bahwa generasi Z maupun Alpha merupakan anak-anak yang lahir dari rahim generasi Y (milenial). Mempertanyakan madrasah pertama para Z adalah mempertanyakan diri sendiri.

Kita, kita yang harusnya hadir sebagai solusi yang permanen, baik sebagai orang tua maupun sebagai generasi pendahulu, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari sikap yang membuat pemisahan dan pemetaan generasi.

Tetapi apakah semangat tulisan ini mencari kambing hitam? Tentu saja tidak. Saya sedang mengkhawatirkan masa depan generasi. Terlampau sulit bagi pohon yang ingin berbuah (berhasil) jika batang dan akarnya saja tidak kuat dan kokoh.

Bahwa,anak tidak memiliki konsep kematangan hidup, tidak memiliki gambaran capaian, tidak memiliki konsep objektivikasi persoalan. Mereka memiliki dunianya sendiri, dunia imajinasi paket komplit tanpa embel yang berupa-rupa. Kitalah yang patut mengevaluasi diri. Sudah pantaskah kita menjadi madrasah yang kuat dan kokoh untuk menghasilkan generasi yang berkualitas?