Salah satu hal mendasar yang menyedot banyak perhatian manusia sejak lama adalah soal tanggung jawab. Bukan tentang apa tanggung jawab kita sebagai individu, tetapi tentang siapa yang bertanggung jawab atas diri kita.

Misalnya, jika kita hidup sulit lantaran goblok tapi sombongnya sundul langit, siapa yang harus bertanggung jawab untuk penderitaan ini? Atau, jika sampai usia setua ini tapi masih tuna asmara, kepada siapa kesendirian ini harus ditumpahkan?

Pertanyaan ini penting sebab apapun yang kita miliki sekarang, baik dalam arti kemampuan maupun kepemilikan, selalu ada hubungannya dengan orang lain. Jika kita bisa melakukan sesuatu, nyetir mobil misalnya, itu tentu karena ada orang lain yang ngajarin. Lebih penting lagi, tentu karena ada orang lain yang bikin mobil untuk kita setir. Iya, kan? Iyalah!

Nah, kembali ke pertanyaan di atas. Itu loh yang di atas paragraf ini pas. Siapa yang bertanggung jawab atas kita sebagai individu? Jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung di mana dan kapan anda menanyakannya.

Di Amerika, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Steven Billet dari George Washington University, pertanyaan seperti ini hanya mengarah ke dua jawaban; yakni: pemerintah dan ‘saya sendiri’.

Untuk masyarakat yang begitu mencintai pemerintah mereka seperti di Jepang atau Kanada, mereka percaya pemerintahlah yang bertanggungjawab atas diri mereka. Apapun yang terjadi pada mereka, baik maupun buruk, pemerintah akan selalu ada untuk membantu. Masyarakat yang mencintai dan mempercayai pemerintah cenderung lebih mudah menyerahkan jiwa dan raga mereka kepada pemerintah, sepenuhnya. Dengan kata lain, apapun yang terjadi pada diri mereka, mereka percaya pemerintah yang akan bertanggung jawab.

Sementara bagi pemerintah, dipercayai dan dicintai rakyat dengan sepenuh hati tentu membuat mereka lebih dekat dan bertanggung jawab. sama-sama enak lah! Di dua negara ini (Jepang dan Kanada) pemerintah sangat dekat dengan rakyat. Lebih dekat dari petugas leasing yang akan telpon tiap bulan jika anda punya cicilan. Di dua negara ini, jika anda sakit, pemerintah akan bertanggungjawab untuk mengobati dan membuat anda sehat kembali. Jika anda mengalami kesulitan finansial, pemerintah akan segera datang dan membantu anda keluar dari kesulitan. 

Tapi tidak demikian dengan masyarakat di Amerika. Ketika ditanya soal siapa yang bertanggung jawab atas diri anda, mereka akan dengan lantang menjawab “saya sendiri”. Kebanyakan –untuk tak menyebut semua— warga Amerika percaya bahwa merekalah yang bertanggungjawa atas diri mereka sendiri, bukan pemerintah. Ini bukan lantaran pemerintah tak pernah hadir untuk mereka, tetapi karena mereka tak percaya pada pemerintah, Tsah! Mereka bahkan tak suka kebijakan-kebijakan pemerintah yang mereka anggap sok ngatur-ngatur.

“Mau bukti?” tantang om Billet. “Anda sudah di US, pernah lihat uang koin pecahan satu dollar? Anda tak akan melihatnya. Bukan karena kita tidak punya uang koin itu, tapi kami tak mau menggunakannya.”

Direktur di program pasca sarjana Legislative Affairs ini cerita dulu pemerintah pernah mencetak uang koin pecahan $1, pemerintah lalu memperkenalkan uang jenis ini dan meminta masyarakat menggunakannya. You know what? Mereka ogah! Bukan karena jenis uangnya, tapi karena kebijakan itu dianggap ngatur-ngatur selera orang.

“Lagipula, kami tak suka bawa uang koin. Beda dengan orang Kanada. Saat pemerintah mereka membuat uang pecahan 1 dollar Kanada dalam bentuk koin, mereka menerimanya dengan suka hati dan langsung setuju menggunakannya.”

Sebagai informasi saja, uang koin $1 yang udah kadung dicetak itu akhirnya tak terpakai. Orang-orang di negeri ini kompak tak mau menggunakannya. Akhirnya, uang-uang itu numpuk saja tak berguna laiknya mantan yang tak lagi dicinta. Kata om Billet sih, uang itu kalau dijejerin akan bisa menuhin dua lapangan sepak bola. Buanyak banget!

“Tapi,” sela salah satu teman yang sebut saja namanya Bunga, “jika masyarakat Amerika tak suka dengan pemerintah mereka, kenapa banyak orang yang datang untuk mendengarkan Trump atau Hillary waktu pemilu dulu?”

Well, nggak juga. Itu yang kamu lihat di TV.”

Kata om Billet, itu soal pinter-pinternya media saja. Beberapa media memang bekerja keras untuk menunjukkan betapa masyarakat antusias terhadap politik. Padahal nyatanya nggak gitu, politik tak pernah benar-benar menjadi prioritas masyarakat Amerika. Ada lebih banyak hal lagi yang menjadi prioritas masyarakat Amerika, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga gimana cara ngeles ke istri kalau pulang kemaleman.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? Ketika kita, termasuk anda yang kurang kerjaan baca tulisan saya sampai sejauh ini, ditanya soal siapa yang bertanggungjawab terhadap “saya”, pemerintah atau “saya sendiri”? jawabannya bisa saja bukan keduanya.

“Trus, siapa donk?”

“Tentu saja Tuhan. Siapa lagi!”