Tahukah Anda, belajar bahasa Indonesia ternyata hampir sama dengan kisah orang-orang yang tengah memadu kasih; kadang nyambung, kadang pisah. Kadang mepet-berdempet ke mana-mana, tetapi tak jarang juga berpisah begitu saja; seolah tak pernah ada cerita di antara keduanya.

Nah, pola pisah-nyambung ini ternyata sama halnya dengan penulisan partikel “Kah”, “Lah”, “Tah”, dan “Pun”. Empat partikel tersebut kadang ditulis nyambung dengan kata yang diikuti; Akulah, Sudahkah, Apatah, Biarpun; tapi juga tak jarang ditulis terpisah; “Idris pun merindumu, Mariam. Tak tahukah kau soal ini?”

Hanya saja, berbeda dengan urusan percintaan yang tak jelas aturan dan rambu-rambunya, tata bahasa di Bahasa Indonesia dilengkapi dengan aturan dan penjelasan yang mudah dimengerti. Jadi, ini bukan soal perasaanku atau perasaanmu, tetapi soal aturan baku. Karenanya ia tak sama dengan cinta yang kata Agnes Mo, “Tak pakai logika”. Jadi, gini penjelasannya. Perhatikan, ya.

Lah

Umumnya, “Lah” digunakan sebagai penghalus makna sebuah kata dalam rangkaian kalimat, ia lebih sering ditemukan “nongkrong” di kalimat deklaratif dan perintah. Untuk penulisannya, “lah” selalu ditulis serangkai dengan kata yang diikuti.

- Garis alismu itu, Sumi!
- Garislah alismu itu, Sumi. (lebih halus)

- Jangan kau bersedih terus, Mantili.
- Janganlah kau bersedih terus, Mantili. (lebih halus)

Selain untuk menghaluskan makna, partikel “lah” juga umum digunakan untuk memberi penekanan lebih kepada subjek atau kata yang diiringinya. Perhatikan contoh berikut:

- Merekalah yang mendirikan sekolahan gratis itu. (penekanan pada “mereka”)
- Siapalah aku ini, tak pantas memilikimu. (penekanan pada “aku”)
- Biarlah aku begini, pergilah saja kau dengan selingkuhanmu. (penekanan pada “pergi”)

Kah

Berbeda dengan partikel “lah”, “kah” lebih sering tampak “nongkrong” di kalimat tanya. Di tempat tongkrongannya ini, partikel “kah” memiliki beragam fungsi, di antaranya adalah:

Mengubah Kalimat Pernyataan menjadi Pertanyaan

- Akulah yang selama ini mencarimu – Akukah yang selama ini mencarimu?
- Pria ini yang membunuh perempuan malang itu. – Pria inikah yang membunuh perempuan malang itu?
- Cuma begini rasa sayangmu padaku – Cuma beginikah rasa sayangmu padaku?

Memberi Penegasan pada Kalimat Tanya

1. Sudahkah kau membaca berita mengerikan itu, Mas?
2. Benarkah kau menikahi gadis itu, Nu?
3. Tidakkah dia sadar siapa suaminya itu, wahai pembuat sinetron di Indosiar?

Menghaluskan Kalimat Tanya

1. Nona, siapakah pemilik hatimu? (lebih halus ketimbang, “Siapa pemilik hatimu?”)
2. Kapankah penantian ini akan berakhir, Bu? (lebih halus ketimbang, “Kapan penantian…)
3. Bolehkah saya menginap di sini malam ini, Tuan? (lebih halus ketimbang, “Boleh saya…)

Tah

Berbeda dengan partikel “kah” dan “lah” di atas, “tah” jarang sekali dijumpai di tulisan-tulisan yang beredar saat ini; ia lebih banyak bertengger di karya-karya sastra klasik.

Dalam penggunaannya, “tah” kerap dipakai pada kalimat tanya retoris, yakni semacam kalimat tanya yang tak memerlukan jawaban, melainkan renungan. Perhatikan contoh berikut:

- Apatah guna semua harta ini jika Adik tak mau Abang pinang?
- Manatah sumpah setiamu dulu itu, Patih?

**

Sebagai catatan, partikel “kah”, “lah” dan “tah” ditulis serangkai dengan kata yang diikuti. Seperti orang yang sedang dimabuk asmara saja, tak mau pisah.

- Biar lah aku begini. (salah)
- Biarlah aku begini. (benar)
- Engkau kah pria malang itu? (salah)
- Engkaukah pria malang itu? (benar)

Jika kata yang diikuti berupa gabungan huruf kapital, maka penulisan partikel “kah”, “lah” dan “tah” harus diawali dengan tanda hubung (-) tanpa spasi.

- SBY-lah yang mengambil keputusan besar ini.
- NU-kah yang mengusulkan program ini?
- Selalu, FPI-lah yang disalahkan pemerintah.

Pun

Partikel “pun” umumnya digunakan untuk memberi penegas atau penekanan khusus pada suatu kalimat. Uniknya, partikel “pun” memiliki arti yang berbeda-beda, tergantung pada cara penulisan dan letaknya dalam kalimat.

Menurut Cara Penulisan

Dipisah: berarti “juga”.

- Engkau rindu, aku pun sama. (aku juga rindu)
- Kami pun tak setuju dengan keputusan ini. (kami juga)
- Dia pun ingin pergi dari rumah sialan ini. (dia juga)

Disambung: serangkai dengan kata hubung:

adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun

- Meskipun miskin, ia tetap disukai banyak orang.
- Andaipun kiamat datang esok hari, tetap saja aku akan tidur.

Menurut Letaknya dalam Kalimat

Artikel “pun” memiliki arti “meski” jika berada di depan kalimat:

- Pun mahal, masyarakat tetap membeli tongkat ajaib itu
- Pun begitu, dia tetap ayahmu, Kunti!

Nah, mudah, kan?

Belajar bahasa Indonesia nyatanya memang tak serumit jatuh cinta; ia jelas pola dan rumusnya. Anda tinggal pahami polanya lalu mulai gunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika berkomunikasi dengan bahasa tulis; pembaruan status di medsos, membalas pesan di WA, Line, dll.

Yuk, cintai bahasa Indonesia!