Bulir-bulir air mata yang menggenang di kedua bola matanya mengurai jatuh membasahi pipinya yang mulai mengendur. Terbata-bata ia berbicara dengan bibir yang bergetar seiring dengan isakan, pun sesekali punggung tangannya yang keriput mengusap matanya yang memerah karena tangis yang tak kunjung berhenti.

Wajah paruh baya itu terlihat getir menahan pilu. Kaus merah usangnya nyaris kuyup dibasahi peluh. Aku hanya menyimak saja sejak dia mengajakku berbicara. Ada rasa bosan dan jemu yang menghampiri sebab bukan kali ini saja dia berkeluh kesah seperti ini kepadaku, dengan masalah yang nyaris serupa.

Dari sekian banyak anak muda yang indekos di rumahnya, memang akulah yang terbilang paling dekat dengan nenek. Selain sama-sama berasal dari Bandung, kami pun kerap ngobrol dengan Bahasa Sunda, dan itu mungkin yang membuat nenek lebih nyaman berbicara denganku. 

Selain itu, aku memang satu-satunya orang yang selalu setia dan peduli mendengarkan curhatannya, di saat tak seorang pun yang mau menemaninya. Aku sudah seperti seorang cucu baginya, pun begitu aku juga telah menganggap dia seperti nenekku sendiri sehingga aku lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan nenek, padahal di antara kami tidak ada hubungan sanak saudara.

Aku mafhum, selepas almarhum suaminya meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu, mungkin nenek benar-benar merasakan kesepian. Barangkali dengan menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada orang yang ia percayai, bisa sedikit mengusir rasa sepi nenek yang kian hari semakin menggerogoti sisa usianya di masa senja.

Pernah di suatu sore, selepas pulang dari kantor, aku mendapati nenek sedang menangis sesenggukan. Nenek seketika menghambur ke pelukanku tanpa sempat aku tanyakan apa kejadian yang telah menimpanya.

Sepertinya memang telah terjadi kekacauan. Posisi kursi dan meja di teras yang berantakan, serpihan-serpihan beling bekas perabotan kaca yang pecah, serta berbagai dokumen kertas yang berserakan diantara tumpukan baju, setidaknya memang menunjukkan keadaan demikian.

Berdasarkan cerita nenek, aku  menduga bahwa ini memang ada kaitannya dengan kedua anak perempuan nenek, Mbak Nia dan Nina. Hubungan nenek dengan mereka memang terbilang kurang harmonis. Perselisihan kerap kali terjadi antara nenek dengan anak-anaknya itu. Meski tinggal seatap dengan keduanya, aku jarang sekali melihat mereka akur.

Hubungan mereka yang kurang harmonis sudah bukan rahasia umum lagi di kalangan anak-anak indekosnya. Akar masalahnya tak jauh dari soal warisan, ditambah perangai kedua anaknya yang membuat nenek semakin jengkel; Nina yang tempramen, kasar, dan urakan, juga Mbak Nia yang pemalas dan boros, mereka berdua tak pernah mengerti keadaan nenek.

Idealnya memang anak-anak yang merawat orang tua yang telah renta, namun itu tak pernah aku lihat dari kedua anak perempuan nenek. Malah nenek yang melayani mereka, membiayai dan menyiapkan semua keperluan mereka.

Kadang aku juga kasihan melihat nenek berkutat dengan berbagai masalah seorang diri. Masa tua seharusnya dihabiskan dengan penuh ketenangan, bukan malah semakin tua sebab memikul banyak beban kehidupan.

Bagiku, nenek adalah wanita yang tangguh. Mungkin masalah-masalah yang menimpanya selama ini membuatnya tertekan, namun yang kulihat tak jarang ia menampakkan wajah yang ceria. Kepadaku, anak-anak indekos lainnya, tetangga-tetangga komplek, bahkan kepada tukang sayur langganan.

Sosok yang tulus terhadap sesama. Tidak hanya aku yang kerasan indekos di rumahnya, anak-anak lain pun kurasa begitu. Semua sayang dan dekat dengan nenek, semata-mata karena memang dia sosok yang ramah dan penyayang, namun rahasia-rahasia yang selama ini nenek simpan dengan rapat hanya aku yang tahu.

Itu karena neneklah yang menceritakan semuanya padaku. Tentu saja semua atas dasar keinginan nenek, bukan aku yang memaksa. Tubuh nenek pun masih terbilang bugar untuk ukuran lansia. Meski sepasang kakinya tak bisa berjalan dengan normal karena reumatik, namun nenek masih bisa tampil cekatan meski tanpa bantuan tongkat. 

Nenek selalu menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Aktivitasnya terbilang padat. Bangun saban subuh, memasak menyiapkan sarapan untuk keluarga, menyiangi berbagai jenis tanaman yang tumbuh subur di halaman rumah, menyapu daun-daun kering yang berserakan di halaman, bahkan sampai petang pun masih kudapati dia beraktivitas, tiak mengenal rasa lelah.

Nenek pernah bercerita padaku bahwa dia terbiasa bekerja sejak kecil. Asam garam kehidupan yang banyak dilaluinya selama ini mengajarkan apa artinya sabar dan ikhlas bagi nenek. Sejak kecil, nenek sudah kehilangan sosok seorang ibu. Ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Nenek berontak dan marah.

Selain tidak terima ayahnya menggantikan posisi ibunya, juga karena memang perlakuan ibu tirinya itu yang sangat buruk kepada nenek dan saudara-saudaranya yang lain. Waktu itu nenek baru kelas dua SD. Sebagai puncak kekesalannya kepada ayahnya, akhirnya nenek memutuskan ikut dan tinggal dengan Nilam, sepupunya yang sudah berumah tangga.

Sejak saat itu, nenek lebih banyak menjalani kehidupannya di kota dimana Nilam tinggal. Disana, nenek jadi asisten Nilam yang bidan itu. Nilam dan suaminya amat menyayangi nenek.

Hingga suatu hari Nilam meninggal dunia kala berjuang melahirkan untuk yang pertama kalinya, menyusul bayinya yang masih merah enam belas hari kemudian, meninggalkan suaminya yang mulai sakit-sakitan dan nenek yang masih betah melajang meski usianya telah melampaui kepala tiga.

Kepergian Nilam menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, tak terkecuali bagi nenek. Bisa dibilang, nenek lah yang paling terpukul atas meninggalnya Nilam. Sepeninggal Nilam, nenek pun dihadapkan atas dua pilihan yang sulit; mengurus sepupu iparnya yang sebatang kara atau kembali ke kampung halamannya di Bandung.

Ada rasa sungkan dihati ketika ia berniat mengurus sepupu iparnya. Riskan juga jika mereka keukeuh tinggal seatap meski niat nenek murni hanya untuk membantu mengurus sepupu iparnya itu. Hingga kemudian, ia mengutarakan keinginannya untuk menikahi nenek. 

Timbul rasa minder luar biasa yang menggelayuti pikiran nenek begitu tahu hal tersebut. Sepupu iparnya itu adalah kalangan terpelajar, berasal dari keluarga terpandang. Tak pantas rasanya mempersunting nenek, mojang lapuk yang hanya tamatan SD.

Berkali-kali ia meyakinkan nenek, hingga akhirnya nenek luluh, menerima apa yang menjadi takdirnya. Sepupu iparnya, yang kemudian hari menjadi suaminya itu, terbukti menyayanginya hingga akhir hayat.

Ujian demi ujian datang silih berganti. Mulai dari cibiran tetangga, orang yang mengaku saudara dari pihak suami dan menuntut hak atas harta warisan, Kebahagiaan yang nenek reguk seolah sirna bersama dengan kepergian sang suami tercinta.

Nenek harus berjuang membesarkan dua putrinya yang masih kecil walau sebenarnya harta warisan ditambah dengan pensiunan peninggalan suaminya sudah lebih dari cukup untuk kehidupan mereka, setidaknya sampai anak-anak beranjak remaja.

Namun kebutuhan hidup kian hari kian meningkat. Mau tidak mau nenek harus putar otak bagaimana caranya  mencari penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anak. Sadar uang pensiun tak lagi bisa diandalkan, nenek memutuskan untuk membuka usaha kos-kosan.

Sekadar menyewakan kamar-kamar kosong di rumah dinas peninggalan suaminya yang sudah lama menjadi milik sendiri setelah cicilannya lunas. Berharap dengan sedikit usahanya untuk bertahan hidup itu, kedua putrinya juga dapat menuntaskan sekolahnya.

Namun yang terjadi tidaklah demikian. Putri pertamanya, Nia, berhenti sekolah begitu saja kala duduk di bangku kuliah semester lima. Nenek pun tak bisa berbuat banyak, karena memang terkendala biaya.

Tak berbeda jauh dengan sang kakak, Nina yang masih mengenyam pendidikan di putih abu pun harus putus sekolah. Kali ini masalahnya bukan hanya biaya saja. Setelah merasakan kecewa karena merasa gagal menyekolahkan Nia, nenek berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan berjuang agar Nina bisa menyelesaikan sekolahnya bagaimana pun caranya.

Namun niat dan keinginan nenek tidak sejalan dengan kenyataan. Menjelang ujian akhir, Nina memutuskan untuk berhenti sekolah. Terbawa arus pergaulan sesama teman-temannya yang urakan, boros, dan kerap melawan orang tua.

Nenek amat terpukul dan sedih melihat buah hati yang jadi tumpuan harapannya itu menjadi nakal dan tidak terkontrol. Hingga kini, setelah beranjak dewasa, sikap anak-anaknya pun tak kunjung berubah. Tabiat buruknya semakin menjadi-jadi, menambah beban dan kesedihan nenek.

Hari kian beranjak petang ketika aku masih termenung menatap gundukan tanah merah yang tampak masih basah.Wewangian bunga yang ditabur diatasnya semakin menyeruak. Pada nisan kayu tampak bertuliskan nama sang penghuni makam diikuti tanggal wafat yang tampaknya baru beberapa hari yang lalu.

Aku pun masih belum percaya jika ternyata jasad nenek yang tengah berbaring disana. Dua bulan sepulang dinas dari luar kota, aku mendapat kabar bahwa nenek dilarikan ke rumah sakit sebab berusaha menahan Nina yang hendak kabur dari rumah bersama pacarnya.

Aku pun masih belum percaya jika ternyata jasad nenek yang tengah berbaring disana. Dua bulan sepulang dinas dari luar kota, aku mendapat kabar bahwa nenek dilarikan ke rumah sakit sebab berusaha menahan Nina yang hendak kabur dari rumah bersama pacarnya.

Ada rasa sedih yang menyelinap di rongga dadaku. Satu rahasia terbesar nenek yang tidak seorang pun tahu selain aku. Nina dan Nia ternyata bukanlah anak nenek. Keduanya hanyalah anak angkat yang ia asuh sejak bayi bersama Nilam dan suaminya semasa hidup.

Mereka diambil dari keluarga yang tidak mampu sehingga nenek dan keluarga memutuskan untuk mengasuh mereka. Pantas saja aku tak menemukan sedikit pun adanya kemiripan nenek pada wajah mereka. Seketika terlintas bayangan wajah nenek yang tersenyum ke arahku.

Ah, aku memang terlalu hanyut terbawa perasaan dan kenangan tentang nenek. Selamat jalan, nenek. Disana tempat terbaikmu untuk beristirahat dari rasa lelah dan capek yang selama ini menghantuimu.