Pada tanggal 07 september 2004 tepat 17 tahun yang lalu. Republik ini dikejutkan dengan kabar meninggalnya seorang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) yang tewas ketika mengudara. Nama pejuang itu kita kenal dengan sapaan khas-nya yakni: Cak Munir.

Kabar itu santer meliputi seluruh republik ini dan banyak pihak yang menyimpulkan bahwa pada saat itu ada yang takut akan lantangnya suara beliau yang memperjuangkan hak hajat hidup manusia yaitu: keadilan, dan sialnya ketakutan akan kelantangan suara masih terus berlanjut hingga hari ini. Hal itu dibuktikan dengan tidak terungkapnya siapa dalang dibalik aksi pembunuhan yang menewaskan pejuang tersebut.

Perjuangan pergerakan yang dilakukan oleh Almarhum Munir masih terus berlanjut hingga hari ini, hal itu ditunjukkan dengan konsistensi KontraS yang terus tanpa henti bergerak di wilayah Hak Asasi Manusia. Walaupun beliau diracun hingga tewas ketika mengudara tetapi kehendak bathinnya atas keadilan tetap membumi pada kita yang hendak mengeluarkan negeri ini dari cengkraman ketidakadilan dan ketidakpastian.

Dari hal tersebut kita mengetahui bahwa Munir, Wawan, Wiji Thukul dan masih banyak nama lagi tidak lagi menjadi nama orang melainkan berubah menjadi nama sejarah, seperti yang diungkapkan oleh Rocky Gerung pada salah satu orasinya di depan istana. Hal ini seolah menunjukkan bahwa: racun yang menghentikan pergerakan pembuluh darah Munir tidak serta-merta menghentikan pembuluh darah publik atas keinginan akan sebuah negeri yang gandrung akan keadilan.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan “My Nationalism is Humanism” peri-kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan. Mungkin ucapan Gandhi itu bisa kita lihat di dalam kepala seorang Munir. Di dalam salah satu orasinya Munir mengatakan “Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi dibalik ketek kekuasaan, jangan kita biarkan orang-orang pengecut itu tetap gagah, saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ada di baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan sesuatu yang tidak bertanggung jawab yang mereka akan bayar sampai titik manapun sampai kapanpun.” Perkataan Munir ini hanya salah satu dari sekian banyak perjuangan yang telah ia laksanakan, demi siapa? Demi kita generasi muda.

Payung hitam yang setiap hari Kamis menghiasi halaman luar Istana seolah menunjukkan bahwa Munir belum mati Munir masih ada disini, kendati kita tidak pernah bertemu dengan beliau, tetapi beliau meninggalkan gagasan dan konsep untuk diteladani.

Istana dan payung hitam seolah memberi tanda pada kita bahwa ada dua hal yang berbeda diantara mereka, yang pertama adalah kehendak akan keadilan dan yang kedua adalah ketidakmampuan pihak yang berwajib untuk menghadirkan keadilan.

Munir yang setiap hari-harinya semasa hidupnya selalu memperjuangkan keadilan tetapi ia tidak mendapatkan keadilan bahkan sampai hari ini setelah 17 tahun lamanya. Hal ini yang menandakan negeri ini sedang “etre au monde”(berada di dunia) tanpa keadilan.

Dan payung-payung hitam yang tiba di istana setiap kamis membawa kekecewaan dalam benaknya, meminta kepada yang berjanji untuk segera merealisasikan janjinya, tapi nihil buktinya. Istana dan payung hitam seolah berjarak.

Perih pedih yang tersisa dan terasa ketika keadilan tidak tiba pada mereka yang seharusnya memangku hal tersebut, dalam hal ini kita mampu melihat ada sesuatu yang dikorupsi, bukan dalam bentuk materi melainkan dalam bentuk yang lebih oportunis lagi.

Tetapi tewasnya mereka yang telah memperjuangkan hak-hak dasar manusia di republik ini seolah memberi isyarat pada kita para penerusnya, karena apabila kritik dilarang dituduh subversif dan mengganggu keamanan, hanya ada satu kata “LAWAN.”

Keadilan yang tidak kunjung tiba pada mereka yang kehilangan anggota keluarganya seolah menyuruh kita untuk skeptis dalam hal memilih pemimpin. Karena akan sangat percuma apabila pemimpin dinilai melalui janji-janinya.

Dan perlu diketahui payung hitam serta jeritannya yang disuarakan di istana sana adalah upaya untuk menggoyahkan kekuasaan bukan untuk mengganti penguasa melainkan untuk menuntut penguasa agar mampu menghasilkan kebijaksanaan yang sesuai dengan segala janji yang telah ia kemukakan.

Payung hitam didepan istana adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa suara-suara tidak bisa dipenjarakan dan bahwa suara-suara itu akan terus melampaui setiap pintu gerbang kekuasaan.

Segala jenis ketidakadilan yang setiap hari menerpa republik ini, haruslah ditiadakan. Tetapi bagaimana caranya jika penguasanya buta huruf akan kehendak tersebut?. Misteri yang belum juga terungkap menandakan bahwa pada setiap pergantian pemimpin ada yang menginginkan misteri tersebut untuk tidak terungkap.

Tetapi payung hitam tidak peduli cuaca, mau hujan atau panas yang penting bersuara. Karena upaya-upaya yang terus dilakukan adalah nafas dari perjuangan, apabila keadilan tiba maka hendaklah ketidakadilan mati.

Payung hitam di depan Istana telah menunjukkan bahwa perjuangan adalah bukan ajang untuk mengemis hak melainkan menuntut apa yang memang seharusnya ada dan pantas untuk semua warga republik. 

Setiap kata dan suara yang disusun dan digaungkan adalah wujud dari segala jenis ketidakadilan yang hendak menerpa bathin masing-masing pejuang keadilan di negeri ini. Payung hitam yang tidak kenal cuaca itu telah memberi arti pada kita: apabila ketidakadilan tidak kunjung tiba dan pihak yang harus menghadirkan hal tersebut tak kunjung mampu, maka perjuangan belum usai dan payung hitam ada wujud dari menolak lupa serta tidak pernah lupa untuk menolak.