Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu

*Sukmawati (2018), Puisi “Ibu Indonesia”

Begitulah beberapa bait puisi Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 yang memantik kontra. Beberapa di antara yang kontra bahkan mengambil langkah hukum dengan melaporkan Sukmawati ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan pencemaran agama (Islam). Di jagat maya, pro-kontra jadi trending topic.

Bagi anak sekolahan SMP dan SMA yang belajar sosiologi khususnya materi “perbedaan sosial”, akan mudah memahami kekeliruan dari isi puisi tersebut dalam konteks kebenaran sosial. Sebab Sang Empu-nya puisi seperti tidak bisa membedakan dua jenis perbedaan dasar ini, yakni diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial dengan baik. Bisa dikatakan, untuk ukuran anak sekolahan, ia tidak layak lulus materi sosiologi.

Diferensiasi sosial adalah perbedaaan horizontal. Agama, suku, ras, dan kebudayaan di sini berada di wilayah diferensiasi sosial, bukan stratifikasi sosial (perbedaan vertikal). Artinya, segala sesuatu yang masuk dalam kategori diferensiasi sosial disebut sebagai perbedaan yang setara.

Tidak bisa dibandingkan secara vertikal yang mana lebih baik dan yang mana tidak. Agama A tidak bisa dibandingkan lebih baik dibanding agama B, begitu pun dengan suku, termasuk dalam hal membandingkan antara dimensi agama dan dimensi kebudayaan sebagai nilai.

Dalam hal perbedaan horizontal, budaya tidak lebih baik dari agama, seperti halnya agama bukan untuk dibandingkan secara normatif terhadap budaya. Meskipun dipahami bahwa kedua ini (agama dan budaya) sama-sama dijunjung tinggi keberadaannya sebagai nilai sosial dalam masyarakat atau bahkan sebagai sumber norma.

Dalam ruang publik yang menuntut kebenaran sosial, maka konde tidak lebih baik dari cadar, sebagaimana cadar tidaklah bisa dianggap lebih baik dari konde dalam ruang sosial—tentu saja ini berbeda ketika ia di bawa ke ranah privasi sebagai sebuah pilihan gaya hidup yang mengikat diri secara personal.

Begitupun suara kidung yang dibandingkan dengan suara azan. Suatu perbandingan yang tidak setara sebab ia berada di jalur yang berbeda; satu merupakan normativitas budaya dan satunya adalah agama.

Bahkan, justru sebaliknya, model-model penghadapan seperti ini justru disesalkan, sebab gagasan penghadapan-penghadapan seperti ini sudah tidak relevan di zaman sekarang ini di mana perkembangan pikiran dan gagasan manusia sudah cukup melangkah jauh menelurkan banyak gagasan yang lebih moderat.

Gagasan-gagasan “Islam Nusantara”, misalnya, yang munculnya ke permukaan adalah buah dari bagaimana agama dan budaya justru bisa menciptakan suatu bentuk perpaduan yang khas tanpa harus berhadap-hadapan. Bukankah gagasan seperti ini bahkan sudah kita dapatkan pada Wali Songo beberapa abad lampau?

Ini seperti dengan agama dan sains. Begitu pun dengan agama dan budaya. Keduanya bukanlah suatu truth yang harus dipandang dalam pendekatan konflik. Bahkan Soekarno--bukan hanya bapak biologis dari Sukmawati, tapi juga bapak bangsa ini--sudah memahami hal tersebut. Pancasila yang merupakan ide besar Bung Karno adalah bentuk perpaduan antara gagasan nasionalisme kerakyatannya terhadap ajaran agama di nusantara yang mewakili kebhinekaan.

Primordialisme nasionalistik yang berlebihan yang tertangkap pada isi puisi konde tersebut, yang cenderung mengarah pada sejenis etnosentrisme nasionalistik adalah bentuk “wahabi nasionalisme” yang mestinya kita sesalkan dan kritisi. Tentu saja ini jauh bahkan tidak ada sangkut pautnya sekalipun terhadap gagasan nasionalismenya Bung Karno.

Seperti halnya dengan Wahabi yang fundamentalis memandang agama sehingga cenderung menolak segala bentuk hal yang berbau kebudayaan, maka gagasan nasionalistik yang berlebihan yang cenderung menolak begitu saja atau phobia keagamaan, adalah suatu bentuk fundamentalisme dalam ajaran nasionalisme—yang tak ada bedanya dengan cara berpikir Wahabisme itu sendiri.

Saya mencoba memahami barangkali kita juga demikian, bahwa apa yang dirisaukan oleh Sukmawati dalam puisinya tersebut barangkali adalah reaksi ia terhadap gejala puritanisme beragama yang muncul ke permukaan, yang ia anggap sebagai bentuk ancaman terhadap gagasan-gagasan nasionalisme yang pada beberapa hal mungkin mewakili cara pandang politiknya secara prbadi.

Tapi begitulah, meski Sukmawati mengaku sebagai budayawati, namun tetap saja Ia bukan seorang penyair ataupun sastrawan. Dari puisinya tampak kelemahan itu. Kurang dalam mencari diksi kata dan kalimat yang tepat yang bisa mewakili pikirannya untuk merespon gejala sektarianisme beragama yang mengambil tupoksi terbanyak diskursus politik belakangan ini.

Tentu saja ini jauh berbeda dengan Bung Karno, misalkan, yang bahkan menulis buku dengan judul lebih ekstrim “Islam Sontoloyo”. Untuk mengkritik cara beragama umat Islam yang pada saat itu tidak mewakili suatu kontekstualisasi beragama Islam yang berakarter teologi sosial yang anti-kolonial. Seperti ketika Bung Karno berkata:

Kalau kita makan babi sepotong kecil saja, maka seluruh orang akan menyebut Anda kafir! Tapi coba kalau Anda memakan harta anak yatim, menfitnah orang lain, berbuat syrik, tidak ada yang ribut!"

Soekarno mampu menyentil kesadaran umat Islam, sebab ia menyentuh substansi. Di benak umat Islam, apa yang ia sebut Soekarno ada benarnya, yakni saat agama kehilangan konteks relevansinya terhadap perbaikan kehidupan sosial.

Soekarno tentu saja tidak dalam konteks memperhadap-hadapkan apa yang tidak mestinya diperhadapkan, tapi ia melakukan koreksi internal dengan menggunakan perangkat internal itu sendiri. Sehingga tidak ada satupun terbetik bahwa Soekarno layak dianggap “menista agama”, justru sebaliknya kritiknya yang tajam konstruktif justru mengesankan sebaliknya.

Bedanya dengan Sukmawati, kegagalan ia menggunakan kata lewat puisi sebagai medium kritik di tengah iklim politik yang tidak stabil sekarang ini, yang tertangkap adalah aura berbeda dengan ketika Soekarno melakukan kritik “serupa”. Ada narasi “kebencian” yang ditangkap oleh penerima pesan, yakni pihak kontra yang memantik keributan ini terjadi.

Meskipun narasi “kebencian” yang dimaksud di sini cukup relatif dan bahkan kadang-kadang bisa dikatakan politis. Hanya Sukmawati yang lebih tahu akan hal ini, selebihnya ada proses hukum yang berlangsung.