Sebelum Anda memutuskan untuk membaca habis tulisan ini, perlu saya jelaskan bahwa sepanjang artikel ini saya hanya akan membahas soal koma, tanda baca yang kurang mendapat perhatian; tak hanya dari pembaca, banyak penulis pun kerap melupakannya laiknya mantan yang tak lagi dibutuhkan. Tak akan ada sedikitpun pembahasan soal isu-isu besar terkini seperti kontroversi selebriti ibu kota, pilpres atau aksi bela-bela.

Meski begitu, bukan berarti pembahasan ini tidak penting sama sekali. Kesalahan dalam menggunakan koma bisa berakibat fatal. Dalam kalimat “Saya dengar kabar burung kamu sakit” misalnya, hilangnya tanda koma membuat bingung umat manusia; siapa yang sakit, kamu atau burung kamu?

Doa seorang tuna asmara yang diunggah di media sosial seperti berikut juga nyaris menimbulkan huru-hara. Bagaimana tidak, ia menulis “Tuhan saya jomblo”. Siapa yang jomblo? Kamu aja, kali! Nggak usah bawa-bawa Tuhan, nggak sopan! Jomblo satu itu bukannya tak sopan, ia hanya tak tahu cara menggunakan koma.

Sebagaimana dijelaskan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), tanda koma memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya. Contoh; “Kalau dia mau, saya juga mau,” “Walau sudah mantan, saya tetap sayang.”

Sampai di sini, seluruh ‘Ulama Bahasa Indonesia’ sepakat, tanda koma dapat digunakan untuk tujuan tersebut di atas. Prahara baru muncul saat sebagaian kalangan menggunakan tanda koma tepat sebelum kata sambung. “Di acara sunatan massal nanti, kita akan undang Si janda kembang, Nunik, dan Yatni,” demikian contoh penggunaannya dalam kalimat.

Khusus untuk bagian “Si janda kembang, Nunik, dan Yatni”, timbul beragam penafsiran. Berapa orang yang sebenarnya diundang? Apakah tiga orang yang terdiri dari “si janda kembang”, “Nunik”, serta “Yatni”; atau dua orang saja yang terdiri dari “Nunik” dan “Yatni” dengan asumsi keduanya adalah janda kembang yang dimaksud?

Penggunaan tanda baca koma tepat sebelum kata sambung disebut mampu memberikan jawaban untuk polemik di atas. Tanda koma yang dikenal dengan sebutan Koma Serial atau Koma Oxford ini dimaksudkan untuk menegaskan perbedaan antara dua entitas. Karenanya, dengan meletakkan koma tepat sebelum kata hubung “dan” pada kalimat “…Si janda kembang, Nunik, dan Yatni” pembaca diharapkan sudah mengerti bahwa “Si janda kembang” bukanlah “Nunik”, otomatis bukan pula si “Yatni”. Sehingga, di acara sunatan massal nanti akan ada tiga orang yang diundang. Rame, nih!

Urusan selesai? Oh, tentu tidak!

Banyak pemerhati tata bahasa yang menolak konsep ini. Penggunaan tanda koma tepat sebelum kata hubung disebut boros dan tak tepat secara gramatikal. Koma Serial nyatanya hanya digunakan di sebagian besar wilayah di Amerika dengan rekomendasi dari MLA, Chicago Style Manual dan US Government Printing Office, sementara di negara-negara berbahasa Inggris lainnya seperti Kanada, Australia, Inggris dan Afrika Selatan, koma jenis ini tak digunakan, kecuali oleh Oxford University Press.

Jurnalis dan editor juga disebut tak terlalu menyukai koma jenis ini, selain tampak menyesaki halaman, terlalu banyak koma juga dianggap justru membikin rancu tulisan. Tanda koma dan kata hubung memiliki fungsi yang sama; sama-sama digunakan untuk membedakan dua entitas. Perhatikan contoh berikut, “Aku tadi berpapasan dengan Romi, Yuli dan Marpuah”.  Tanpa menggunakan Koma Serial, pembaca sudah mengerti bahwa “Aku” bertemu dengan tiga orang, bukan dua.

Apakah Koma Serial memang begitu membingungkan? Tidak juga.

Polemik penafsiran lebih sering terjadi jika tiga atau lebih entitas yang disebut memiliki satu atau lebih kata yang merujuk pada nama jenis, bukan nama diri. Nama jenis adalah nomina yang menunjukkan jenis suatu benda atau konsep. Contoh: Burung, Manusia, Mobil. Sementara nama diri adalah nomina yang menunjukkan entitas yang lebih spesifik. Contoh: Kutilang, Joko, Avanza.

Untuk contoh kalimat, “Aku tadi berpapasan dengan Romi, Yuli dan Marpuah,” perbedaan penafsiran tidak akan terjadi sebab ketiga entitas yang disebut adalah nama diri. Berbeda dengan contoh kalimat berikut, “Jarwo tadi memandikan monyetnya, Bero dan Wawuk.”

Perbedaan pemahaman bisa saja terjadi sebab salah satu entitas yang disebut adalah nama jenis (monyet). Bisa jadi, yang dimaksud “monyetnya” adalah “Bero dan Wawuk”. Dengan begini, maka Jarwo memandikan monyet saja; tak ada makhluk jenis lain yang dimandikan.

Kalangan Bela Oxford Koma (Belok) menilai justru di kalimat seperti di atas lah koma serial harus digunakan; untuk menjelaskan entitas yang disebut. Sehingga kalimatnya akan tampak seperti berikut, “Jarwo tadi memandikan monyetnya, Bero, dan Wawuk.”

Namun, penjelasan seperti di atas tetap ditolak. Landasaan alasannya tetap sama; kata sambung memiliki fungsi yang sama dengan tanda koma, sehingga tak perlu ditumpang tindihkan. Lalu, bagaimana cara untuk menghilangkan perbedaan penafsiran seperti yang terjadi pada contoh kalimat di atas?

Gampang saja! Letakkan nama diri di depan nama jenis, sehingga kalimatnya akan berubah menjadi, “Jarwo tadi memandikan BeroWawuk dan monyetnya.” Beres!

Penggunaan tanda koma tepat di depan kata hubung memang terkesan redundan dan berpotensi mengacaukan kalimat, karenanya hindari penggunaannya. Kalimat yang baik adalah kalimat yang sederhana dan tidak menimbulkan makna ganda.

Meski begitu, PUEBI menyatakan bahwa penggunaan tanda koma tepat sebelum tanda baca diperbolehkan. Dalam “Pemakaian Tanda Baca; Koma”, khususnya di bagian III.B.2, tanda baca koma “Dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).”

Namun anda tak perlu tegang, Stephen Spector yang nulis buku “The Quotable Guide to Punctuation” dan paling sering kampanye soal penggunaan Koma Serial saja bilang bahwa penggunaan koma ini sifatnya opsional; anda sendiri yang tentukan akan menggunakannya atau tidak. Yang paling penting adalah konsistensi. Jika anda memutuskan untuk tidak menggunakan koma serial di awal tulisan, maka konsistenlah hingga di akhir tulisan.

Jangan gonta-ganti, jangan pula membikin kalimat-kalimat bermakna ganda, dosa!