Di Indonesia, perayaan kemerdekaan bernegara termasuk yang paling euforia di dunia. Melewatkan hari kemerdekaan rasanya seperti melewatkan satu kegembiraan tahunan yang bisa kita saksikan dengan banyak acara. Dari acara panjat pinang, karnaval baris-berbaris, lari karung, lari kelereng, semua ada. Dari tingkat sekolah, kecamatan, hingga tingkat desa, semua penuh dengan euforia yang sama.

Kita barangkali tak pernah membayangkan bagaimana dulu ketika moyang kita tanpa baju, hanya mengenakan celana pendek berkalungkan sarung, harus berpanjat pinang di tengah terik lapangan, diiringi tatapan terhibur penuh gelak tawa para pembesar-pembesar kolonial yang mengelilinginya sembari bersorak memanggil kita dengan bahasa apa saja untuk ukuran kolonial saat itu.

Bedanya dulu dan sekarang, cuma bahwa mereka-mereka yang terhibur mengelilingi pemanjat pinang itu bukan lagi para pembesar-pembesar kolonial seperti dulu, namun adalah bangsa dan masyarakat kita sendiri. Ada rekonstruksi makna yang kita warisi dari tradisi kemeriahan ini dari distorsi permainan ketertindasan menjadi permainan hiburan semata.

Itulah salah satu yang barangkali adalah keberuntungan yang kita dapatkan karena kemerdekaan. Setidaknya, penghiburan yang kita gelar adalah penghiburan yang lahir dari kita dan untuk kita, atau lebih tepatnya dari kelas kita untuk kelas kita—untuk mengidentifikasi sisi habitus kelas dari tradisi ini.

Kita barangkali tidak pernah membayangkan ada perayaan yang semeriah ini, kalaulah saja dulu, Soekarno terperosok oleh janji Jepang, untuk menerima kemerdekaan sebagai hadiah. Beruntungnya, bahwa kita masih punya bapak bangsa sekaliber Tan Malaka beserta pengikutnya dari kalangan pemuda, yang harus menegaskan pendirian bahwa kemerdekaan tidak bisa diterima sebagai pemberian.

Persis ketika Tan Malaka menyebut kemerdekaan yang sejati tidak pernah lahir karena pemberian apalagi belas kasih, melainkan ia hanya bisa bermakna ketika ia direbut mati-matian dengan tangan sendiri.

Dan itulah yang terjadi di Revolusi 1945, cikal bakal terbentuknya Republik ini. Karena itu, pantas dan patutlah berbangga generasi kita merayakan kemerdekaan ini. Sebab merayakan kemerdekaan ini adalah merayakan bakti perjuangan mati-matian para pendiri bangsa ini untuk melepaskan belenggu kolonial yang merantai kita berabad-abad lamanya.

Lalu apakah dengan euforia perayaan kemerdekaan, lantas kemerdekaan itu sudah selesai? Tentu saja belum. Persis ketika Soekarno terus-menerus tanpa hentinya menggelorakan kata-kata bahwa “Revolusi belum Selesai!”. Iya. Revolusi belum selesai. Kemerdekaan: adil-makmur belum teraih.

Kita bisa berkata bahwa kemerdekaan yang diraih oleh pendahulu kita 73 tahun yang lalu belumlah kemerdekaan 100%. Ide-ide dan tuntutan kemerdekaan 100% yang digelorakan Tan Malaka dan Jenderal Soedirman, kita akui, justru berakhir dalam kekecewaan.

Sebelum Bung Karno bahkan sempat menuntaskan, ia keburu ‘dilengserkan’ oleh kekuasaan Orde Baru, yang membuat kita sampai hari ini—generasi penerusnya—terkatung-katung untuk menuntaskan beban sejarah kemerdekaan yang telah dimulai oleh pendiri bangsa ini.

Dalam arti, tugas menggenapkan kemerdekaan 100% itu nyaris tak mampu kita tuntaskan. Bahkan menilik tradisi perpolitikan sekarang ini, kelihatannya justru makin menyusutkan pencapaian kemerdekaan yang telah diraih pendiri bangsa kita. Persisnya kita perlahan-lahan maju dalam keadaan mundur.

Merdeka secara ekonomi, merdeka secara politik, dan merdeka dalam hal berkebudayaan adalah terma-terma slogan para pendahulu yang semakin hari semakin terasa asing di mata dan di telinga kita sekarang ini. 

Padahal dulu, saking fundamentalnya kemerdekaan 100% ini, Soedirman bahkan berpidato dengan berapi-api: “Lebih baik dibom atom daripada merdeka tapi kurang 100%!”. Maka sudah sepantasnyalah kita dibom atom oleh Jenderal Soedirman sekarang ini!

Baca Juga: Didik Merdeka

Nyatanya sekarang, kita lebih banyak merayakan kemerdekaan ketimbang mengisinya. Ada tugas yang begitu mendesak tentang bagaimana menggenapkan kemerdekaan yang telah diraih pendiri bangsa ini agar tuntas merdeka 100%. Justru kita alpa di situ.

Alih-alih kita bisa berbicara berkemajuan, kita justru mempertontongkan kemunduran. Bagaimana tidak mundurnya, ketika diskursus politik yang menyita perhatian kita sekarang ini kebanyakan adalah diskursus-diskursus yang semestinya sudah tuntas 73 tahun yang lalu. Justru rasa-rasanya kita kembali mengulang perdebatan-perdebatan 73 tahun yang lalu tersebut: keabsahan ideologi Pancasila, Piagam Jakarta, adalah contohnya.

Lalu sekarang, yang paling nyata adalah politik identitas. Politik identitas ini sebenarnya jauh lebih mundur lagi. Ini adalah model politik kolonial yang khas, yang memang diramu sedemikian rupa untuk memecah belah. Dan ini justru semakin hari semakin menguat.

Di tengah kemundurun kita secara politik, ditambah dengan keterbelakangan kita secara ekonomi dengan menyaksikan secara telanjang, bagaimana bisa negara kita menjadi negara dengan tingkat ketimpangan tertinggi keempat di dunia, dengan proporsi penguasaan faktor produksi dan aset yang begitu timpang dan tidak adil?

Di sektor pendidikan pun tak kalah bermasalahnya. Pendidikan kita adalah pendidikan dengan kualitas paling rendah di dunia. Kualitas anak didik yang mampu dihasilkan oleh sistem pendidikan kita yang kacau sekarang ini, paling mentok hanya bisa berada di urutan ke 69 dari 76 negara dunia (PISA, 2015).

Dengan setumpuk persoalan hasil kerja tak becus generasi tua di atas, setidaknya kita generasi muda juga menanggung dosa yang tak kalah besarnya dari generasi tua, yakni dengan membiarkan para generasi tua yang mewakili elite oligarki membonsai ruang-ruang politik kita semua.

Sebab apa yang terjadi di persoalan ekonomi kita, budaya kita, kehidupan sosial kita yang makin hari makin sakit adalah buah hasil kerja politik para elite yang kukuh dengan ide-ide tua mereka yang seharusnya sudah lapuk.

Saya tidak menyarankan bahwa semua generasi tua sudah seharusnya ‘ditembak’ mati semua di Lapangan Banten, seperti kata Soe Hok Gie. Namun, peran generasi muda sangat penting dalam konteks ini.

Generasi muda yang saya maksud di sini sebagai agen antitesis generasi tua, yang mewakili generasi kita yang mampu memahami alur berpikir pendiri bangsa ini dengan baik. Mampu memahami terminologi “Revolusi yang Belum Selesai” dari Bung Karno, dan slogan “Merdeka 100%” dari Tan Malaka.

Kita tentu merindukan lahirnya generasi muda, yang muncul dengan daya pikir dan ide-ide yang meledak-ledak, meledakkan kebuntuan dan kebekuan generasi lama. Yang bisa membuat suatu terobosan baru di luar dari lingkar elite yang sudah layu. Seperti ketika Tan Malaka menutup “Massa Aksi"-nya dengan berseru berapi-api:

"Wahai kaum Revolusioner! Siapkanlah barisanmu selekas-lekasnya! Tunjukkan pada tiap-tiap orang Indonesia yang cinta akan kemerdekaan tentang arti kemerdekaan Indonesia dalam hal materi dan ide… . tegakkanlah mereka yang lemah, bukakan mata yang buta, korek kuping yang tuli, bagunkan yang tidur, suruh berdiri yang duduk dan berjalan yang berdiri. Itulah kewajiban seorang yang tahu akan kewajiban seorang putra tumpah darahnya!..."

Semoga.