Membaca buku yang baik hampir mirip dengan mendengarkan sebuah musik. Dari buku yang ditulis dengan baik dan indah, saya tidak sekadar memperoleh konsep, gagasan, ide – hal-hal yang sifatnya serebral, bersifat otak. Lebih dari sekadar konsep, saya juga bisa “mendengar” alunan musik dari sana.

Ya, pada buku yang baik, saya tak sekadar membaca kalimat, tetapi juga mendengar semacam alunan musik yang tak kalah mencekam dari musik yang berasal dari instrumen – piano, gitar, biola, dsb. Kata, dalam buku-buku semacam itu, tak sekadar menghantarkan konsep dan ide, tetapi juga merangsang fantasi dan imajinasi. Bukan itu saja. Bahkan dalam susunan kata yang harmonis kita bisa “mendengar” sesuatu yang “musical”.

Pengalaman ini saya jumpai ketika membaca puisi. Tetapi pengalaman serupa bisa juga saya jumpai dalam karya-karya yang berbentuk prosa. Beberapa penulis yang buku-bukunya menjadi bacaan favorit saya, menulis sejumlah karya yang enak dinikmati bukan sekedar sebagai obyek “intellectual cognition”. Tetapi juga karangan yang lebih mirip dengan sebuah musik, karena ditulis sebagai esei yang indah dan elegan.

Sejak dulu, saya menggemari esei yang ditulis oleh Ignas Kleden. Ini hanya salah satu contoh saja. Ada sejumlah sarjana lain (tidak banyak jumlahnya) yang karya-karyanya juga saya gemari.  Membaca esei Kleden, bagi saya, bukan sekedar membaca karangan yang mengantarkan kepada saya sebuah gagasan, tetapi juga susunan ide yang elegan, serta argumentasi yang ditulis dengan kalimat yang memikat.

Pengarang-pegarang seperti Ignas Kleden ini, tampaknya, mempunyai kesadaran ganda: pertama, sudah tentu, kesadaran tentang ide dan gagasan. Kesadaran ini dengan sendirinya ada pada semua pengarang. Sebab, apa faedahnya seorang pengarang mengarang jika ia tak memiliki gagasan yang mau disampaikan.

Tetapi, kesadaran tentang gagasan belumlah cukup untuk menjadikan seseorang sebagai pengarang yang “musical” – pengarang yang karangannya bisa dinikmati sebagai sebuah musik.

Kesadaran lain harus ada pada pengarang, yakni bagaimana ia mentransformasikan idenya itu menjadi sesuatu yang bisa dibaca orang lain dengan lezat. Dengan kata lain, ia haruslah sadar tentang pentingnya bentuk, form.

Ide mirip dengan hantu yang bisa gentayangan di mana-mana, tanpa menjejak di bumi, tak terlihat oleh kita. Harus ada medium yang membuat hantu ide ini tampak kepada orang lain. Inilah yang biasa kita sebut bahasa.

Pada pengarang seperti Ignas Kleden ini saya berjumpa dengan hantu gagasan yang diberikan baju berupa bahasa yang bisa dinikmati dengan lezat. Dari tulisan-tulisan dia, saya memperoleh ide, tetapi juga hal lain: keindahan baju bahasa. Tentu saja, keindahan bahasa dalam konteks tulisan-tulisan yang bersifat analitik (yang merupakan bentuk sebagian besar tulisan-tulisan Ignas Kleden) berbeda dengan tulisan yang sifatnya naratif-fiksional.

Ada dua jenis musik, tentu saja. Ada musik-musik yang mirip dengan sebuah kabar di koran pagi: begitu kita dengar sekali, kita seperti sudah memperoleh semua hal yang hendak disuguhkan olehnya, persis seperti koran pagi yang sekali kita baca, kita memahami seluruh isinya.

Tetapi ada jenis musik lain yang mengundang untuk didengarkan terus-menerus. Dia tak pernah habis-habisnya menyuguhkan sesuatu yang baru setiap kali kita dengarkan. Telinga musik kita tak bisa menghisap habis dalam sekali dengar seluruh kemungkinan nada dan asosiasi-asosiasi yang ada di sana. Setiap kali kita balik ke musik ini, kita akan berjumpa dengan “a new dawn, a new day, a new life” (mengutip lirik lagunya Nina Simone, “Feeling Good”).

Demikian halnya dengan buku. Ada buku yang sekali kita baca kita akan malas untuk  membacanya kembali. Kita sudah bisa menghisap habis seluruh isinya. Tetapi ada buku yang tak pernah bisa kita kunyah habis dalam sekali baca. Buku semacam ini selalu meninggalkan residu yang tak pernah bisa kita pahami seluruhnya, bahkan mungkin hingga kapan pun.

Saya bisa menikmati kedua musik itu: musik yang selesai dalam satu kali kunyah, dan musik yang tak pernah selesai kunyah dalam satu kali pukul. Tetapi, terus terang, saya lebih tertantang mendengarkan musik yang tak bisa saya “telan” dalam sekali dengar.

Demikian juga dengan buku: Saya lebih suka membaca buku yang tak bisa saya pahami dengan sekali, dua kali, atau bahkan berkali-kali baca. Meskipun ini tak berarti bahwa buku-buku yang selesai dalam satu kali kunyah saya hindari sama sekali. Keduanya saya konsumsi, tetapi saya lebih tertantang untuk membaca buku dari jenis kedua.

Saya tak bisa menahan godaan untuk tak menyebut pengarang yang satu ini: Clifford Geertz, seorang antrolopog Amerika yang menjadi populer karena bukunya yang berjudul The Religion of Java (1960).

Esai-esei Geertz menggambarkan visi saya tentang buku yang “musical” di atas. Ia ditulis dengan gaya yang indah, bahasa yang mengandung daya pikat luar biasa, meliuk-meliuk  seperti kita menelusuri jalan di lembah gunung (Ingat kegemaran Geertz untuk menggunakan anak kalimat yang berjenjang yang kadang membuat kita mudah tersesat!)

Karya Geertz yang begitu cemerlang karena menggabungkan dua bentuk --analisa ilmiah dan bentuk literer yang indah-- tak lain adalah The Interpretation of Culture (terbit untuk pertama kali pada 1973).

Pada buku Geertz ini, kita bersua dengan ide yang berselimut bahasa yang elegan. Membaca buku ini, kita tak sekedar menyerap ide dan konsep, tetapi juga menikmati alunan esei yang “harmonis”. Dengan kata lain, sebuah musik.

Yang menarik perhatian saya adalah: bagaimana karya-karya semacam ini bisa lahir? Bagaimana menggabungkan analisa ilmiah dan sekaligus artikulasinya dalam bentuk literer yang memikat?

Selama ini, orang memiliki asumsi (mungkin untuk sebagian besar benar) bahwa ada jurang menganga antara “yang ilmiah” dan “yang indah”, antara “konsep” dan “musik”, antara “ide” dan “nada”. Atau dalam ungkapan filsafat yang umum: antara tubuh dan roh (body-mind dualism).

Yang ilmiah dengan sendirinya akan berwatak dingin, objektif, tak emosional, jauh dari cita-rasa keindahan. Sementara yang indah dengan sendirinya tidak ilmiah.

Asumsi tentang kewajaran dualisme inilah yang menyebabkan kita terbiasa memaklumi bahwa esei-esei dalam dunia ilmiah dengan sendirinya boleh ditulis dengan cara yang membosankan. Geertz keluar dari normalitas semacam ini. Ia menempuh jalur lain yang agak kurang lazim. Dia menggabungkan keduanya sekaligus.

Buku-buku Geertz, selain lezat sebagai sebuah esei, dan menantang secara intelektual, juga tak pernah selesai kita baca dalam satu kali “sapuan” saja. Kita ingin kembali lagi dan lagi untuk membacai esei-eseinya yang evokatif ini.

Bagaimana seseorang bisa menulis buku yang “musical”, ini pertanyaan yang mengganggu saya. Bagaimana seseorang bisa mencapai keseimbangan antara analisa ilmiah dan esei yang indah?

Saya tak tahu bagaimana menjelaskan dan menjawab pertanyaan ini. Tetapi, jika saya memaksakan diri untuk mencoba, mungkin ada dua cara untuk menjelaskan. Yang pertama: penjelasan “struktural”, dan penjelasan “subjektif”.

Penjelasan struktural kira-kira begini: Seorang pengarang lahir bukan sebagai individu yang terpisah total dari pengaruh yang datang dari “bentuk-bentuk” (struktur) yang sudah ada di masyarakat. Salah satu bentuk itu adalah bahasa.

Seorang hanyalah memakai bahasa sesuai dengan kebiasaan yang lazim dalam masyarakatnya, sebab ia, hingga tingkat tertentu, adalah cermin dari “yang sosial”.  Dia hanyalah kepanjangan dari bahasa orang-orang di sekitarnya.

Dengan kata lain, seorang pengarang tak bisa menyatakan diri secara linguistik melampaui tingkat bahasa yang ada pada masyarakatnya. Jika bahasa yang dipakai oleh masyarakat itu belum berkembang dan mengalami sofistikasi dan perumitan yang memadai, maka dengan sendirinya sang pengarang akan mengungkapkan diri dalam bahasa yang demikian itu.

Jika bahasa yang berkembang di masyarakat belum bisa mencapai tahap perkembangan yang mampu menjaga titik keseimbangan antara “yang ilmiah” dan “yang indah”, agak sulit membayangkan seorang pengarang bisa menemukan corak ungkapan yang lain sama sekali.

Tetapi penjelasan semacam ini jelas bersifat deterministik, fatalistik, menyerah pada nasib kolektivitas. Manusia hanyalah produk dan cermin dari lingkungannya, dari struktur-struktur yang sudah memadat dalam masyarakat. Karena itu, kita perlu memakai penjelasan lain: penjelasan subjektif.

Penjelasan yang kedua akan mengatakan demikian: Seorang pengarang memang pertama-tama merupakan “cultural proxy” dari lingkungan di mana dia hidup dan tumbuh. Tetapi, seorang pengarang juga memiliki “subyektivitas”/kemampuan untuk melampaui apa yang diberikan oleh masyarakat.

Ini yang menjelaskan kenapa ada sosok-sosok seperti Ignas Kleden, Goenawan Mohamad dan penulis-penulis lain yang mampu “standing above/beyond”, berdiri di atas dan melampaui dataran sosial. Mereka muncul dengan corak pengungkapan literer yang berbeda.

Pada kasus Geertz, mungkin saja perkembangan bahasa Inggris sudah begitu maju, dan tradisi kepenulisan sudah begitu tinggi, sehingga perkembangan ungkapan literer dengan sendirinya juga makin kompleks. Sementara hal serupa belum kita saksikan dalam kasus bahasa Indonesia.

Sebagai alat ungkap ilmiah maupun naratif, bahasa Indonesia mungkin masih bisa dianggap muda. Sementara itu, tradisi literer atau menulis juga belum berkembang begitu jauh di masyarakat.

Oralitas masih sangat kuat mencirikan masyarakat Indonesia. Dan sialnya, kelisanan atau oralitas ini makin dikuatkan oleh munculnya teknologi baru: internet. Kita menyaksikan bangkitnya kelisanan ini dalam media sosial kita.

Inilah sebabnya kenapa saya menaruh hormat yang setinggi-tingginya kepada individu-individu di Indonesia yang “berjihad” sebisanya melawan kelisanan masyarakat, dan mencoba mencari corak ungkapan ilmiah dan literer yang makin baik, canggih dan indah. Orang-orang dengan subyektivitas yang kuat, tidak tunduk pada hukum besi struktur, tentu bisa naik mengatasi halangan-halangan semacam ini.

Dari merekalah kita berharap lahirnya buku-buku yang “musical”.