Ia melihat sebongkah batu tergeletak di pucuk bukit itu
Tanpa sebuah alasan yang jelas.
Tak ada seorang pematung pun yang datang
Menaburkan bentuk, warna,
Atau rupa yang membangkitkan pana.
Mereka di sana, terhampar begitu saja,
Tak risau oleh keperawanan yang nir-rupa.
Ia sendiri tak memikirkan sebuah alasan,
Kenapa bebatuan itu bersamayam-sunyi, mungkin dalam meditasi
Di bukit itu. Ia kemudian mendengar suara sayup,
“Aku datang tanpa sebab,
Aku akan musnah tanpa tangis dan sembab.”

Ia, di depan tamasya yang tanpa penjelasan itu,
Hanya ingin tenggelam dalam ketiadaan purba,
Sebelum manusia menciptakan bahasa,
Sebelum mata mengiris-iris matahari
Menjadi semburat warna-warni pelangi.

Sebelum orang-orang mencipta klasifikasi.

Ia tenggelam saja dalam waktu,
Ia tak ingin mencari sebuah alasan, kenapa batu membukit-sunyi
Kenapa daun-daun menderai.
Sebab ia juga tak tahu, kenapa dirinya tersesat
Di bukit tak bernama itu.
Ia menyerahkan dirinya, tanpa sangkal, tanpa sesal
Kepada waktu yang mengalir, menuju hilir.

Di pucuk bukit itu, ia termangu-ragu
Antara bebatuan yang sunyi
Dan gerak angin yang menolak prediksi.
Kadang ia merasakan hasrat
Untuk menata bebukitan itu dalam perspektif,
Atau komposisi. Tetapi ia tampaknya merasa lebih senang
Jika bebatuan dan pepohonan itu terhampar saja
Tanpa pertolongan peramu warna, atau rupa.

Di pucuk bukit itu, dia merasa-diri sebagai Adam
Sebelum menggigit puting dara,
Sebelum ketelanjangan menjadi sebuah lema.