Roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar di satu tempat yang sama. Ia selalu bergerak monoton dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas, terus seperti itu. Hanya orang-orang yang tidak mengerti hidupnya-lah yang selalu mengeluh tak bersyukur. Menuntut banyak pada Tuhan dengan begitu mudahnya tanpa mereka mau berpikir panjang lagi, betapa Tuhan telah memberikan segala yang mereka butuhkan.

Dan jika mereka berada pada posisi hidupku, mungkin pesimis telah menjerat kuat batin mereka hingga kemungkinan untuk mengakhiri hidup tebersit sejak lama dalam pikiran mereka. Meski Tuhan merajut takdir seperti ini untukku, aku tak pernah berhenti bersyukur. Setidaknya Tuhan masih menyayangiku dengan memberikan oksigen yang baik, menyuruh jantung berdetak sempurna seperti biasa, serta semuanya yang tidak bisa kusebutkan saking banyaknya cinta kasih Tuhan.

Namaku Sendu, gadis dua puluh empat tahun yang bekerja relawan untuk memberikan inspirasi bagi siapapun tanpa mengharap imbalan. Setiap hari senja menuntunku melakukan aktivitas rutin di taman dekat rumah sakit. Meski hanya duduk diam seperti tidak melakukan apa-apa, tetapi aku memiliki kemampuan yang tidak dimiliki siapapun. Itulah betapa adilnya Tuhan, selalu ada kelebihan di balik kekurangan dalam diri setiap manusia.

Tidak hanya melakukan aktivitas rutin, aku juga punya kebiasaan ketika menginjakkan kaki di taman itu, kebiasaan yang baru dimulai dan kusadari saat senja kesekian kali hadir dalam hidupku. Membuat keyakinan ini semakin berlapis kuat bahwa Tuhan memang menyayangiku, karena Dia juga memberikan sebuah rasa spesial untuk seseorang yang tidak spesial di mata orang lain.

***

Jam dinding berdentang tiga kali memantul hingga sudut kamar. Setelah rapih menyisir rambut, kuraih tas rajut coklat yang masih setia menemaniku hingga saat ini. Tas itu hadiah pemberian mendiang ayah ketika usiaku menginjak sepuluh tahun dengan rambut yang masih dikepang dua. Tak lupa kamera DSLR menjadi kalung penghias di senja ini. Tidak ada yang berubah dari hidupku sejak kecelakaan sembilan tahun silam itu terjadi, dan yang telah merenggut sinar pelangi dalam pandanganku. 

Aku mengunci pintu rumah tanpa kesulitan, lalu melangkah tenang menelusuri jalan setapak menuju taman bunga. Aku terbiasa sendiri, seperti hal itu telah menjadi makanan sehari-hari yang aku butuhkan. Kesendirian bukanlah pilihan yang kuputuskan, tetapi mungkin sudah menjadi jalan cerita yang tuhan rangkai untukku.

Sembilan tahun yang lalu merupakan awal dimulanya hari-hari terberatku. Kecelakaan besar yang membawa ayah pergi selama-lamanya dan pintu masuk menuju kehidupanku saat ini. Ayah adalah keluargaku satu-satunya yang tersisa, ibu beserta kedua kakakku hilang terseret arus tsunami kala itu. Ayah terpuruk tak berdaya, namun segera bangkit begitu menyadari bahwa dia masih memilikiku.

Ya, seperti itulah masa laluku. Aku sempat berontak dan marah besar pada tuhan, tetapi sungguh, sangat tidak pantas aku melakukan hal itu padahal tuhan selalu merentangkan kasih-Nya yang tak terhingga.

Kuraba bangku taman favorit. Aku sangat mengenal seluk-beluk taman bunga ini, termasuk bangku dan letaknya yang kusuka. Posisi bangku ini strategis dengan panorama matahari yang akan terbenam di kaki barat. Kamera DSLR sudah siap bekerja memotret semua keindahan alam di senja gemilang ini.

“Arahnya kurang bergeser sedikit.” sebuah suara membuatku tersentak, menghentikan kegiatanku. Aku terdiam, mencoba mencari di mana suara itu berhenti. Ternyata tepat di sampingku.

“Memotret matahari terbenam. Apa tidak ada inspirasi yang lebih dari benda langit nan panas satu itu?” Tanya suara itu. Aku tidak menjawab, lebih tepatnya terlihat bingung.

“Eroy,” laki-laki itu menjulurkan tangannya, lalu menyadari sesuatu.

“Hebat! Kau buta?” tanyanya tanpa ragu-ragu aku akan tersinggung. Tidak ada jawaban.

“Ini menakjubkan! Ada seseorang yang mencoba hidup selayaknya orang normal padahal dia sangat istimewa!” alisku bertaut, semakin bingung bercampur kaget.

“Eroy!” tanpa canggung laki-laki itu menjabat tanganku gesit. Dari suaranya menandakan ada kebahagiaan yang menelusup dalam dirinya. Aku hanya bisa memberikan senyum kikuk padanya, dia malah tertawa renyah.

“Bagaimana bisa kau menggunakan kamera ini tanpa perlu melihat?” tanyanya antusias.

“eh?”

Dia kembali tertawa.

“Tidak perlu aneh, aku orang baik-baik, kok.” Ucapnya dengan nada tenang, membuatku sedikit percaya dan dapat tersenyum lebih ramah.

“Oh ya, siapa namamu?”

“Sendu.”

“Ya Tuhan, sungguh cantik nama yang orangtuamu berikan. Nama itu cocok sekali dengan kepribadian dan wajahmu yang sendu menawan.” Pipiku bersemu merah.

“Oh ya, kau belum menjawab pertanyaan pertamaku tadi. Bagaimana bisa kau menggunakan kamera itu tanpa perlu melihat?”

“feeling” jawabku seadanya.

“Feeling? Dengan instingmu?” Aku mengangguk ragu, sejujurnya tidak tahu jawaban yang tepatnya. Aku hanya memakai kamera ini seperti orang-orang biasa, membayangkan hal semacam itu.

“Bisa kulihat hasil karyamu?”

Aku memberikan kamera yang sedari tadi menggantung di leherku padanya. Laki-laki itu berdecak.

“Luar biasa! Ini hasil karya yang indah, tidak berbeda jauh dengan para fotografer handal era modern!” pujinya takjub, meski menurutku itu sedikit berlebihan.

Senja semakin tua, matahari tinggal beberapa menit lagi siap mengumpat di tempat peristirahatannya. Kami semakin dekat hanya dalam beberapa jam waktu berjalan.

Eroy, pemuda itu sangat ramah dan lucu. Semangat serta sikap antusiasnya selalu mencairkan suasana yang kadang kala berubah kaku. Dia tidak menganggapku seperti orang buta sama sekali. Itu membuatku merasa nyaman berada bersamanya.

“Kata siapa kau sama seperti semua orang? Kau istimewa, sangat dan sangat istimewa. Lihatlah! Bahkan orang normal sekalipun tidak ada yang bisa memotret dalam keadaan mata tertutup.” Aku tertawa mendengar ocehannya yang tidak berhenti. Eroy pemuda yang amat menyenangkan.

“Senang bertemu denganmu, Sendu menawan!” Aku hanya dapat tersenyum kecil, grogi. Setelah kami berpisah, hariku kembali seperti semula, malam-malam dingin terbalut keheningan tanpa kata. Tapi dia berjanji bahwa esok akan datang berjumpa lagi di tempat dan waktu yang sama. Ah, rasanya tak sabar menunggu hari esok tiba.

***

Sudah lewat sepuluh menit, pemuda menyenangkan itu belum juga menampakkan rupanya. Sedikit gelisah menyergapku saat ini, dengan konsentrasi melayang ke mana-mana, memikirkan apa yang terjadi saat kita bertemu nanti, kata-kata apa yang akan kulontarkan untuknya, atau kejutan apa yang akan dia bawa untuk mengukir kisah di hari ini.

Kakiku tak mau diam, bergerak tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Kamera yang biasa berfungsi menemaniku di setiap senja kini hanya kugenggam pensiun sejenak. Telinga lebih kutajamkan lagi, barangkali pemuda menyenangkan itu telah berada dekat denganku. Aku sudah dapat mengenal suara, wangi khas, serta gerak-geriknya yang selalu tampak bersemangat. Semua itu ciri-ciri khusus yang dia miliki. Aku mengandalkan sisa indera yang masih berfungsi untuk mengenali seseorang sejak pelangi dalam mataku ini redup.

“Ah, aku tidak mengerti sihir apa yang menarikku untuk selalu menginjakkan kaki ke taman!” suara khas itu datang tiba-tiba, meluncur tepat di sampingku. Aku terkejut, namun juga senang begitu orang yang ditunggu akhirnya tiba.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya tanpa canggung. Raut wajahku sedikit bingung.

“Memotret” jawabku dengan volume suara rendah.

“Memotret senja?” aku tidak menjawab, menggeleng pun juga tidak.

Pemuda menyenangkan itu mendekat, aku dapat merasakan aroma tubuhnya yang selalu wangi, sepertinya wajah kami hanya tinggal beberapa senti. Jantungku berdegup cepat di atas normal. Ada perasaan asing berembus menelusup masuk dalam relung hati. Wajahku memerah.

“Kau buta?” pertanyaan itu menghentikan semuanya, berubah dengan cepat menjadi suatu keheranan. Keningku mengerut dalam. Bukankah dia sudah tahu aku buta?

“Hebat! Bahkan orang normal sekalipun belum tentu bisa memotret dalam keadaan mata tertutup!” Dia mengulang kembali ucapannya kemarin. Wajahku masih kaku karena bingung, berpikir keras apa yang sedang terjadi.

“Namaku Eroy!” tangannya terulur ringan, dengan senyum manis yang seharusnya membuatku terpesona, meski aku tidak dapat melihatnya.

“Sendu” jawabku pendek, bahkan suara ini tercekat di kerongkongan saking tidak percayanya dengan kejadian senja kali ini.

“Sendu? Sendu menawan? Seperti kekasih Borno, bujang berhati paling lurus di tepian sungai Kapuas.” Celotehnya seraya tertawa kecil.

Ada apa ini? Batinku.

“K-kau, tidak mengenaliku?” akhirnya sebuah pertanyaan meluncur juga dari mulutku. Pemuda menyenangkan itu terdiam, jika aku bisa melihat, mungkin sekarang dia sedang berwajah bingung.

“Apa kita pernah bertemu?” tanyanya. Bagai petir menyambar cepat di senja riang ini.

“Kemarin, kita baru saja bertemu kemarin di sini.” Jawabku meyakinkannya. Tidak ada reaksi, mungkin pemuda itu tengah menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Entahlah, terkadang hidup ini terlalu rumit untuk dipikirkan.” Hanya itu yang dia katakan.

“Hei, lihat! Matahari mengintip di ujung sana, tinggal hitungan detik dia akan tenggelam sepenuhnya, istirahat dari shift panjang!” Pemuda itu tertawa renyah, tidak peduli dengan kejanggalan tadi atau padaku yang masih terpaku dilanda bingung.

“Huh! Andai kau bisa melihat, aku ingin menunjukkan padamu betapa indah taman bunga ini. Aku paling suka kumpulan anggrek di pojok sana!” langkahnya menjauh, beberapa saat kemudian datang lagi sambil menyodorkan setangkai anggrek padaku. Aku terkesiap, menerima pemberiannya dengan ragu.

“Tidak perlu takut, aku orang baik!” dia kembali mengulangi perkataannya.

Apa pemuda menyenangkan ini sengaja membuatku bingung? Mengerjaiku untuk memberikan surprise tak terduga di penutup senja?

***

To be continue