Mayoritas orang Indonesia menyukai tempe, bukan? Belum tersaji sudah membuat pikiran konsumen menari-nari memikirkan soal rasa. “Bagi saya, nasi tanpa tempe itu hambar rasanya, bagaikan rasa terhilang.” Rasa yang pernah ada lama tak kunjung jumpa, begitulah tempe lama tidak mencicipnya, rindu terhadap rasa melanda.

Kehidupan Indonesia tidak lepas sorotannya terhadap tempe, seumpama menggulung tikar lama untuk menenun tikar baru. Demikian juga dengan tempe, keberadaannya sering kali dilupakan, namun diingat kembali karena tujuan keegoan diri. Dahulu banyak yang menyepelekan tempe, kini nama tempe diumbar lagi.

Bergulirnya masa ke masa, tempe selalu menjadi garda bagi referensi perdebatan dalam ranah kelompok kecil, sedang, hingga masyarakat luas. Masa terdahulu, saat ini, hingga mendatang, bisa dipastikan tempe akan tetap jadi primadonanya.

“Kita bangsa besar, bukan bangsa tempe,” salah satu kutipan pidato Presiden Soekarno 17 Agustus 1963. Melihat kondisi bangsa saat itu, Soekarno dengan lantang menyuarakan penggalan klausa yang membuat hening. Tidak mau melihat bangsanya menjadi bawahan dan budak, diperalat oleh penjajah, akhirnya lahir kata “tempe” sebagai analogi.

Lembeknya karakter tempe meringankan lidah Bapak Proklamator berpeci hitam menyuguhkan kata "tempe" dalam pidatonya. Apakah memang kata itu mengobarkan semangat juang? Jawabnya telah tersaji realitas waktu sekarang. Kita menikmatinya hari ini dirumah, cafe, kantor, sekolah, lapangan olahraga, dan tempat aktivitas lainnya. Tidak ada lagi pesawat tempur yang lalu-lalang menyapu awan dengan suara-suara saling menyambar angin.

Mungkinkah pahlawan-pahlawan kita kembali bangkit setelah mendengarkan pidato bernuansa tempe? Tak seorang pun yang mengetahuinya. Aktualitasnya, tongkat estafet kemerdekaan telah digenggam oleh masyarakat sekarang tanpa meneteskan darah.

Patutlah kita berlega hati atas warisan-warisan emas; hidangan jalan, gedung-gedung berlangit tinggi adalah representasi nyata tak samar-samar lagi hadir memanjakan mata. Buah tangan satria hanya dengan pembibitan kata ‘tempe’ yang tertanam baik di telinga masyarakat Indonesia waktu itu.

Metamorfosis Generasi Indonesia

Dalam artikel berjudul “Work Values Across Generations”, penulis Hansen dan Leuty (2012) menyebutkan istilah generasi merujuk pada individu yang berkoloni saling berbagi pengalaman kerja atau pengalaman hidup. Goresan pengalaman dilisankan sebagai bagian motif kontribusi nilai-nilai setiap individu yang berperan.

Pada akhirnya, diskusi yang berkobar saat ini adalah presensi empat generasi berbeda dan saling bermutualisme hingga hari ini: Baby-Boomer, Generasi X, generasi Y, dan generasi Z.

Melompat terlebih dahulu dari empat tipe generasi di atas, penjelasan generasi diam (traditionalists) sebagai prolognya. Arsip menyebutkan generasi diam spesifik kepada orang-orang yang lahir antara 1925-1946. Pribadi ini dideskripsikan sebagai generasi yang sangat setia, sering merencanakan agenda kerja organisasi dalam jangka waktu lama. Tambahannya lagi adalah pekerjaan itu dirasakan sebagai tugas dan kewajiban.

Yakinlah bahwa sekeliling kita hari-hari ini, eksistensi generasi traditionalists masih nyata. Benturan-benturan terjadi berkenaan dengan prinsip-prinsip kehidupan. Bisa jadi mereka hanya berpegang pada standar adat istiadatnya tanpa menyicip doktrin modernisasi. Tentunya ini tidak menjadi tembok besar terhadap gaya silahturahmi kita yang bersenjangan generasi.

Setelahnya, tercipta generasi baby-boomer (ledakan bayi), masa ini terjadi fase tumbuh dan berkembang manusia yang pesat. Kelahiran bayi mencapai jumlah maksimal. Informasinya, ledakan natalitas terjadi pasca perang dunia ke-2 hingga ditemukan pil yang mengontrol kehamilan tahun 1964, sehingga mengakhiri fase tumbuh dan berkembang. 

Baby-boomer sebenarnya berasal dari budaya Amerika. Para sosiolog mengerucutkannya pada orang yang lahir antara tahun 1946-1960. Mereka berciri-ciri setia kepada majikan dan berdedikasi. Boomers cenderung individualistis, sinis, dan fokus pada penyebab sosial.

Berkembang lagi generasi X, manusia-manusia yang lahir tahun 1965-1980 berkarakter kerja smart karena berpindah-pindah dalam bekerja, toleransi tinggi, gemar menabung, independen, dan hobi menggunakan barang-barang mahal. 

Setelah itu muncul generasi baru yang dinamakan generasi Y (generasi milenial pertama), lahir tahun 1981-1994. Manusia-manusia yang peduli pendidikan, tidak ingin cepat berumah tangga, tidak kuper teknologi, enterpreneur dan suka menghabiskan uang.

Naluri manusia waktu itu membangkitkan gerakan-gerakan penciptaan teknologi modern. Akarnya adalah kebutuhan hidup yang terus saja mengalami mutasi dan terus saja diikuti perkembangan zaman, sehingga mendobrak akal manusia keluar dari zona generasi X.

Kini hadir generasi baru yang disebut generasi Z, terlahir pertengahan tahun 1990an hingga tahun 2014, dan generasi ini sudah lebih akrab dengan teknologi. Mereka hadir diakui lebih fokus dari generasi milenial, serbabisa, individualistik, global, open minded, cepat terjun dalam dunia kerja, dan didominasi oleh wirausahawan.

Jika dihitung-hitung, saat ini manusia tertua dari generasi Z berusia 22/23 tahun. Mungkin termasuk saudara. Realitasnya bahwa kini mereka mengkolonisasi dan memengaruhi generasi sebelumnya. Regenerasi mereka mentransformasi setiap aspek kehidupan karena kedudukannya sebagai manusia terdidik saat ini. 

Pencapaian pendidikan yang terhitung lebih cepat dari generasi sebelumnya membuat generasi Z lebih familiar dengan teknologi, lebih sigap, dan skill yang lebih berwarna/beranek aragam.

Distribusi generasi Z bisa saja bertindak sebagai limitasi ataupun obat menyembuhkan ketergantungan zaman masyarakat yang ‘nativistik’ (kepribumian). Tidak peduli sudah berapa generasi terlahir di tanah air Indonesia. Yang jelas, ketiga generasi di atas masih ada yang mewakili hingga saat ini.

Jejak generasi Indonesia teropong jelas selama masa pemerintahan, Ir. Soekarno (1945-1966) generasi mewakili Baby-Boomer, Soeharto (1966-1998) generasi X dan Y, Habibie (1998-1999) generasi Y dan ¼ generasi Z, Abdurrahman Wahid (1999-2001) mulai bertumbuhnya generasi Z, Megawati (2001-2004) young generasi Z, Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) generasi Z, Joko Widodo (2015-2019) generasi milenial matang (mature).

Mengapa lagi-lagi kembali pada generasi millenial? Atau mungkin telah kehabisan stok istilah generasi? 

Kembalinya istilah ini kemungkinan reinkarnasi dari generasi-generasi sebelumnya, tidak ada yang mengetahui secara pasti. Awal perkenalan teknologi memang dari generasi Y (generasi pra-milenial). Namun berputarnya waktu, atribut-atribut teknologi mutakhir kembali didewakan, yang hingga hari ini secara perlahan akan menyingkirkan generasi terdahulu.

Tak semusim pun terlewatkan oleh ketidaklahiran teknologi baru. Teknologi robotic telah mengambil alih tugas manusia, hingga menggantikan obat-obat yang ditemukan manusia dekade terakhir. 

Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (Liu et al, 2018) baru saja menemukan tiny, yakni sel berukuran robot yang akan digunakan dalam dunia industri dan pemantauan dalam bidang medis (baca: How to mass produce cell-sized robots). Menjadi kasus serius menyebarnya virus generasi millenial matang.

Tulisan William H. Frey (Januari, 2018) berusaha merekonstruksi kata ‘milenial’. Menurutnya, generasi ini adalah bridge (jembatan) untuk menciptakan demografi yang beragam di masa akan datang. William mencatat terjadinya minoritas ras dan etnis pada pertengahan 2040 lebih dari setengah penduduk di Amerika, dan sensus akan melaporkan tahun 2020 akan terjadi masa-masa post-milenial.

Lalu, di manakah posisi Indonesia dalam siklus generasi? Pertanyaan ini perlu dicari kunci untuk membuka pintu masuk tulisan. Mungkin pembaca sedikit bingung. Wajar saja karena kita sudah masuk yang namanya musim metamorfosis generasi. Dan kini kita harus melebihi kerja robot jika ingin tetap survive

Jack ma, pemilik Alibaba, melontarkan kalimat pedas, “Pendidikan perlu diubah jika mau bersaing dengan robot.” Artinya, orangtua seharusnya mengajarkan sesuatu yang eksklusif (istimewa), sesuatu yang tidak dapat dilakukan dan dirasakan oleh individu robot.

Datangnya musim metamorfosis mengikuti alur turunnya musim kemarau dan hujan yang tidak dapat terbaca kapan mendaratnya. Indonesia adalah museum mini dunia, mewakili dunia menginjak masa pendewasaan aspek-aspek kehidupan. Alamnya, ekonomi, sejarah, dan masih banyak lagi. 

Sebut saja Indonesia adalah partner merancang dan menghidupkan program global. Antusiasme pemerintah Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata, karena berbagai alasan keterlibatan secara persisten di semua aspek.

Lantas apa yang dapat dipetik oleh orang Indonesia itu sendiri? Mungkinkah kita dapat bertindak sebagai mantri bagi dunia yang akan mengobati permasalahan global?

Masa sekarang, generasi Indonesia berada pada musim perubahan. Perspektif mengenai musim perubahan ini terindikasi melalui gejala konsumtif terhadap teknologi. Generasi yang mengedepankan karakter konsumtif terencanakan. Teknologi dijadikan sebagai peta hidup generasi, mengepakkan sayap kreatif seolah tak mampu. Ke mana larinya daya imajinasi generasi Indonesia? 

Telah tersohor lama ‘yang muda yang berkarya’, jejak-jejak generasi X, Y (generasi millenial pertama) masih saja mewarnai dunia kreativitas Indonesia. Ke manakah perginya generasi muda yang telah melewati masa metamorfosis? Mari bersepakat bersama, kita sebut sebagai generasi millenial matang (mature), dewasa teknologinya.

Alih-alih pemimpin Indonesia mendeklarasikan secara terbuka bahwa masa depan ekonomi negara ini berada di kepalan tangan para milenial. Sudahkah kita menjadi seorang yang milenial? Jangan sampai segudang pilihan dan wacana yang sangat membingungkan para generasi ini berimbas meredamnya api semangat berkreativitas dan ending-nya termajinalkan. 

Sebagai generasi milenial matang, seharusnya berikatpinggangkan revolusi gerakan. Salah satu bagiannya adalah kemampuan merevolusi ‘nativistik’ menjadi prototipe bernilai jual internasional. 

Menggaung-gaungkan nativistik tidak berarti kembali pada zaman generasi traditionalists, walaupun memang ada nilai-nilai yang perlu dikombinasikan sebagai bumbu pelengkap. Kadangkala kita mendengar istilah adanya faktor ‘X’, yang bentuk dan keberadaannya tidak ketahui seperti apa faktor X yang dimaksudkan. Asumsi terbesarnya adalah generasi saat ini masih saja setia mempercayai dua faktor X, yaitu ketakutan dan pertimbangan.

Faktor ketakutan dan pertimbangan mendominasi pemikiran tidak lagi terelakkan. Akhirnya terendus generasi transisi, yang mereka sebut sebagai generasi ‘micin’. 

Terdengar lelucon, namun memang keberadaannya nyata. Kelakuan-kelakuan inferior seolah-olah dijadikan sebagai pencapaian identitas diri, dan jejaknya tidak mudah dilupakan oleh kebanyakan orang. Generasi micin ini boleh dipredikatkan sebagai kompetitor generasi milenial, dan bisa juga menjelma menjadi gunting pemutus tali masa depan.

Revolusi generasi perlu dipermantap dengan pendekatan-pendekatan baru. Sebut saja dengan konsep ‘modernisasi nativistik’. Seperti ada peribahasa hitam, hitam kereta api, putih-putih kapur sirih. Tak selamanya yang sederhana/buruk rupa itu kurang harganya. 

Alam pemikiran generasi muda sekarang seutuhnya berkenaan kesempurnaan rencana,bukan mementingkan kematangan. Mengedepankan prototipe dengan rupa dunia, dengan menidurkan sumber-sumber pribumi alami. Sangat disayangkan jika frase pribumi dipersempit, dengan menariknya ke ranah politik. Akhirnya tercipta makna pribumi yang kurang elok kedengarannya. 

Namun, bukan hal itu yang menjadi fokus utamanya. Karena di sini kita akan mencari kunci untuk membuka pintu masuk.

Bersyukur tempe lahir dan besar di Indonesia. Semua orang Indonesia tidak bisa lepas dari namanya tempe. Tempe di Indonesia beraneka macam jenisnya. Mulai dari tempe kedelai, bongkrek, lamtoro, tempe kacang hijau, dan masih banyak nama tempe lainnya sesuai daerah di mana dibuat. Uniknya, terdapat pula tempe setipis ATM yang belum ada namanya. Bisa jadi tempe ATM akan ada jika generasi muda melek imajinasi.

Tempeisme Menengahi Konflik

Saudara dan saya telah mengetahui sejak dahulu, tempe itu salah satu makanan tradisional Indonesia. Bahkan fenomenalnya tempe, banyak negara-negara tetangga tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam lagi. 

Telah diteliti bahwa terciptanya tempe dibantu oleh jamur kapang Rhizopus sp. selama proses fermentasi. Bermanfaat bagi kesehatan, antara lain menurunkan kolesterol, LDL, memiliki aktivitas hepatoprotective, antioksidan, serta dampak positif terhadap imunologi.

Segudang manfaat ini dijadikan senjata oleh segelintir orang untuk membuat inovasi produk tempe. Dunia politik pun tidak bisa jauh dengan tempe, mengindikasikan bahwa tempe berkerabat dekat dengan masyarakat Indonesia. 

Fenomena menarik ini bisa dijadikan sebagai sitasi terciptanya paham ‘tempeisme’, sederhana dan bermanfaat. Sangat kontras dengan makna yang diungkapkan Soekarno. Kedaulatan paham ini akan berposisi sebagai mediasi yang baik terhadap persoalan mindernya menerapkan modernisasi nativistik.

Tempeisme dijadikan payung peneduh pergolakan ego generasi muda yang terlalu jauh memikirkan imajinasi. Kadangkala pemikiran dan pertimbangan yang lama itu akan menimbun kreativitas dari hal-hal yang sederhana tadi. Paham ini dijadikan sebagai analogi positif untuk memupuk kekerdilan pemikiran pribumi yang modern.

Kelahiran tempeisme bukan semata membangun kembali tembok-tembok kepercayaan diri. Lebih dari itu, dasar mental untuk berani berdiri di tengah kilatnya persaingan perdagangan produk.

Harapan akan tumbuh benih-benih generasi gagah berani memperjuangkan kepribumian dengan style yang trendi. Jadi untuk membunuh mitos yang katanya impossible, pergunakanlah etos untuk merevolusinya menjadi nothing impossible. Maka tidak ada keraguan lagi untuk menciptakan produk tempe like ATM (tempe menyerupai ATM).