Menjadi mahasiswa baru memang terasa berat bagi Rendi dan Ojon. Segala hayalan tentang masa mahasiswa pasti sudah terbayang seakurat mungkin. Harapan-harapan kedepan, dimana mereka menaruh harapan pada sebuah eksistensi dari kekuasaan dan nama yang melambung jelas sudah terpikirkan sejak bangku SMA. Karena mereka berdua dulunya seorang aktivis kantin garda terpojok. Dari sanalah perbincangan hangat dari dua pemikiran yang saling bersetubuh dilontarkan dibalik kepulan asap rokok.

Setelah memasuki bangku perkuliahan. Perbedaan jurusan serta kampus tak memisahkan persetubuhan kedua pemikiran mereka. Dalam satu kota, mereka masih sering menyempatkan waktu untuk sekedar melepas hasrat pikiran seperti sperma dalam kantung penis yang ingin segera dikeluarkan jika birahi sudah memuncak.

Malam ini seperti biasa, mereka seharusnya ngopi bareng di kedai kopi langganannya. Tapi ada yang beda pada malam ini. Rendi tak bisa turut serta dalam peribadatan sakral mereka berdua di kedai kopi. Ojon merasa kecewa malam itu. pasalnya, ia sudah tiba di kedai kopi dengan memaksakan hujan yang menjamahi relung tubuhnya itu dan Rendi baru saja memberi kabar bahwa ia tak bisa berangkat ke kedai karena ia menjadi orang penting dalam lembaga dakwah kampusnya.

"Buset... gila apa si Rendi, ia yang dulunya selalu mencaci teman yang belajar berkhotbah di kelas. sekarang kok malah dia ikut lembaga dakwah. Memiliki peran penting pula. ah asu memang"

Dalam batin Ojon dengan pikiran yang tak habis pikir. Karena seorang Rendi yang sejak dulunya menjadi oposisi terhadap pimpinan SMAnya serta teman-teman organisasi di sekolahnya dulu yang selali ia kritik atas kinerja yang berdasarkan ajang cari muka.

Tetapi Ojon dan Rendi juga pernah berjanji disaat mereka melalui tahapan ospek bagi mahasiswa baru atau sebuah perpeloncoan masal terhadap domba-domba berduit, kata si Ojon. Kala itu mereka berjanji bahwa mereka berlomba-lomba untuk mencari eksistensi dan coba buktikan pada teman-temannya dulu jika duo bangsat bisa menjadi pemikat kininya.

Seiring empat bulan bangku perkuliahan berjalan. Rendi dan Ojon mulai menemukan jalan sunyi pada ramainya euforia para pencari ideologi. Rendi diam-diam mengikuti lembaga dakwah di kampusnya. Sedangkan Ojon masih belum mengikuti apapun, tak lebih ia sedang berada pada fase mahasiswa kupu-kupu guna mengobservasi segala organisasi yang akan diikutinya agar ia dapat mendapat eksistensi di dalamnya. Hal ini tak sesuai dengan perjanjian mereka jika ingin mengikuti organisasi pada semester ketiga.

Setelah lama ia terdiam diambang kegelisahan akibat ulah Rendi yang melanggar tata tertib persetubuhan pemikiran mereka berdua. Ojon segera bergegas menuju kasir untuk memesan secangkir kopi. Setelah memesan, ia melihat seorang ukhti berwajah manis dengan pipinya kemerah-merahan. Didatanginya ukhti tersebut agar malam ini ia tak sia-sia datang ke kedai itu.

"Boleh nimbrung sama sampean mbak?"

Sapaan dingin tanpa salam itu sontak mengejutkan ukhti yang tampaknya sedang melamun penuh penyesalan itu.

"eemmm.. si..si..lahkan mas"

Sedikit terbata-bata ukhti itu menjawab. Ojon duduk di depannya sembari mencoba memperkenalkan diri dihadapan ukhti itu.Tak lupa ia juga menguraikan kegelisahannya terhadap Rendi yang tak tiba-tiba alpha pada peribadatan sakral yang sudah mereka istiqomahkan selama beberapa bulan ini. Tatapan mata ukhti yang tajam dan dahinya yang sedikit mengerut menunjukkan sebuah kebingungan. Tanpa ditanya, tanpa sempat ia bicara, Ojon bercerita panjang lebar seperti pastur yang membacakan bibel di Vatikan.

"Kok kayaknya sampean merasa terpukul banget sih mas. padahal kan itu perihal sepele.  lagipula perteman juga gak harus memaksakan"

Belum sempat selesai ukhti itu bicara, Ojon memotong pembicaraan itu dengan nada sedikit tinggi. Ojon merasa bahwa ia dan Rendi sudah menyatu dalam pikiran dan meyatu dalam memaknai kehidupan. Tetapi ada perubahan pada Rendi yang secara diam-diam mendahului start. Belum lagi rumor yang beredar kalau Rendi katanya kini sudah mulai sok alim dan selalu mengatasnamakan kitab suci jika ada yang tak sesuai dengan pandangan agamanya.

"Itu bukan hal sepele mbak, bagiku itu sebuah pengkhianatan Soeharto pada Soekarno dengan Supersemarnya"

"Ya maaf mas, nggak bermaksud untuk merendahkan atau gimana ya.. Tapi emang sih, teman mas itu berubah banget. Kalo itu temenku mah udah ku blokir WA nya mas hehehe"

Ojon sedikit tersenyum melihat ukhti itu ikut terbawa perasaan. Senyumnya yang merekah diantara keramaian kedai seperti memberikan pancaran sinyal wifi yang kuat. Disumetlah sebatang rokok oleh Ojon.

"Boleh minta rokoknya sebatang mas?"

Ojon terkejut bukan kepalang. Seperti dijatuhi vonis surat pernyataan panggilan orang tua semasa di sekolah dulu. Ia agak takut melihat wanita sekelas ukhti itu merokok. Mungkin karena norma etik di daerahnya masih memandang bahwa wanita perokok itu tabu. Bahkan kalo si Rendi tahu pasti langsung keluarlah dalil - dalil dari bacotnya. 

Rokoknya pun diambil sebatang oleh si ukhti. Hisapan demi hisapan itu ternyata mempercantik wajahnya. 

"Jangan kaget sama saya ya mas. Saya gini karena muak dengan kemunafikan atas nama Tuhan."

Ojon mulai memahami. Hal semacam ini memang pernah terbesit pada ritual ngopi Ojon dan Rendi beberapa bulan silam. Mereka berdua membicarakan kemunafikan-kemunafikan. Bahkan kemunafikan orang sufi. 

"Iya mbak, maaf..  Tapi faktanya sekarang banyak yang menjadi Tuhan. Bahkan temanku sendiri yang dulunya sama-sama menjadi setan sepertiku kini sedang berlatih menjadi Tuhan. Asu tenan"

Dengan gaya bicara khas orang jawa timur, Ojon masih saja belum bisa meredakan kekecewaan serta kegelisahannya terhadap Rendi. 

"Aku balik dulu ya mas, hujannya udah reda nih. Makasih lo rokoknya""Iya mbak, sama-sama. Lain waktu bisa ngobrol lagi ya. Lagian mbak juga belum memperkenalkan tetek bengek sampean hehehe""Hihihi temui saja saya disini minggu depan dengan jam yang sama. Nanti kuperkenalkan siapa sebenarnya aku"

 Ukhti misterius tadi undurkan diri. Ojon kini sendiri dan kembali merenung sepi atau barangkali menggelar puisi. Waktu semakin malam juga pikiran yang makin mencekam menandakan bahwa sudah saatnya ia membeli sebotol ciu lalu membawanya ke kos Rendi. Karena sudah dua bulan ini ia tak menikmati air surga itu. Dengan itu ia mencoba kembali mengajak rendi ke jalan yang benar. Barangkali ia berubah haluan dari ketersesatannya menuju kebenaran yang tersesat menurut Ojon.