Dia telah menulis dua artikel berjudul Perempuan Jawa dalam Bayang-Bayang Kebebasan dan Ketika Sarjana Sains Membicarakan Tuhan yang telah dimuat di Qureta, dan dia senang sekali dengannya.

Sebelumnya, aku sarankan kepadanya untuk menulis, sebab toh dia sudah membaca banyak sekali buku-buku soal politik, sosial, pergerakan, feminisme, termasuk juga beberapa novel yang dia sukai, dan kupikir sekarang sudah waktunya dia membagikan ilmunya. Lagipula dia seorang aktivis organisasi HMI di kampusnya dan banyak berkecimpung di dalamnya.

Aku tinggal bersamanya di Jl. Monjali, 52 Yogyakarta di sebuah kamar yang dihuni tiga orang. Hanya aku seorang yang tidak aktif di dalam organisasi apa pun. Teman satunya juga ikut organisasi HMI, tetapi tidak aktif seperti dirinya. 

Setiap malam dia jarang pulang, seringkali nongkrong sampai pagi di warung kopi mahasiswa, entah itu di Blandongan, Kopi Paste, Gandroeng, Mato, dan sekitarnya.

Seperti dia, aku pun seorang penikmat kopi. Dia juga seorang perokok, seperti juga aku. Hanya saja kami bukan perokok berat yang bisa menghabiskan dua lusin rokok dalam sehari atau lebih. Kami merokok hanya sekadarnya saja, sebagai teman kopi saat mengobrol, membaca, atau menulis.

Suatu hari dalam suasana senang dan penuh kebanggaan, dia menunjukkanku sebuah artikel miliknya yang telah dimuat di media online. Aku membaca judulnya dan tersenyum. Kupikir judulnya menarik. Dia bisa menulis judul artikel yang bisa mengundang ketertarikan pembaca untuk membacanya.

“Bagus,” kataku, tanpa bermaksud memuji. “Kau berhasil menuliskannya.”

“Iya, Mas,” ujarnya sembari tersenyum. “Padahal aku tidak berniat menuliskannya. Aku menulis ketika sedang santai, sembari mengobrol di warung kopi bersama kawan HMI semalam.”

“Kalau begitu, itu bisa dibiasakan ya,” balasku. “Nongkrong di warung kopi dan menulis. Bukankah tempatnya nyaman dan menyenangkan? Kupikir kita selalu butuh tempat seperti itu.”

Dia mengangguk, lalu berkata, “Kapan-kapan kita bisa ngopi bareng, Mas di kafe murah itu. Sekarang aku mau tidur dulu. Sudah loyo rasanya. Ngantuk.”

Benar. Kulihat di depanku dia menguap beberapa kali. Dia terbaring lelah, dan dalam beberapa menit saja, dia sudah terlelap. Kupikir kepalanya dipenuhi kata-kata yang berseliweran untuk dia tulis dalam artikel-artikel berikutnya, yang akan menggenjotnya ke dalam dunia literasi yang sebenarnya.

Stephen R. Covey, dalam bukunya berjudul The 8th Habit menyebutkan bahwa saat ini adalah era pekerja pengetahuan atau era infomasi dan selanjutnya adalah era kebijaksanaan. Informasi-informasi beterbangan layaknya debu-debu tertiup angin pada musim kemarau.

Orang-orang merasa haus akan informasi, meskipun banyak informasi yang tersebar hanya berupa kebohongan atau hoax. Namun, orang-orang terus mengejarnya hingga pada titik puncaknya, orang-orang mengalami kesadaran akan kebenaran yang bergaung secara universal dan diakui semua umat manusia di seluruh belahan dunia.

Aku sedang membaca buku tersebut ketika teman sekamarku ini sedang tertidur dan mungkin tengah bermimpi menjadi seorang penulis yang disegani oleh orang-orang. Kupikir dengan tulisannya, dia pun ingin menginspirasi banyak orang. 

Napasnya terdengar agak keras saat dia tertidur. Sementara itu di depanku, segelas kopi, rokok, buku, serta sebuah laptop menemani saat terjagaku.

Di depan layar laptop Acer berwarna biru laut milikku, aku merasa tak berkutik. Rasanya kepalaku mau pecah saja. 

Pikiranku berkicau, “Menulis, menulis, menulis...” tetapi aku tidak tahu akan menulis apa. 

Akhirnya kukirimkan pesan lewat Whatsapp kepada temanku di Madiun. “I need inspiration to write.”

Sita, temanku itu, membacanya, tetapi tidak membalas. “I get it. Yeah!” pesanku lagi.

Sita membalas, “Hahaha. Alhamdulillah.” 

“Yup,” balasku.

Kemarin dia datang dari Jakarta dan mampir ke Yogyakarta untuk menemuiku setelah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Dia salah seorang sahabat terbaikku. Meskipun kami cukup jauh, tetapi kurasakan bahwa kami sangat dekat. Dia seorang ilustrator, pembuat sketsa, dan bermimpi menjadi pelukis.

“Aku ingin tinggal di Yogyakarta,” kata Sita kepadaku. Aku ingat, kata-kata ini entah telah berapa kali dia mengatakannya. “Katamu, asalkan kita punya niat, pasti akan jadi kenyataan.”

Aku tertawa. Aku lupa apakah aku pernah mengatakan hal tersebut kepadanya. Aku lupa. Sungguh. Sungguh aku lupa. 

Kemarin bersama Sita, aku pun bertemu dengan seorang penulis yang bukunya telah terbit. Satu dari beberapa bukunya, Pameran Patah Hati dia berikan kepadaku. Itu terjadi sesaat setelah aku sholat asar, lalu tiba-tiba di depanku tergeletak buku tersebut. Sita memberikannya kepadaku.

“Ini untukmu,” kata Sita sambil menyodorkan buku itu. “Dia membawanya ternyata.”

“Benarkah ini untukku?” Aku masih belum percaya.

“Ya, untukmu. Aku sudah punya.”

“Baiklah. Terima kasih, aku terima bukunya.”

Di sampul belakang buku itu, aku membaca. “Jika kita tidak bisa melupakan mantan, itu bukan karena kita tidak mampu melakukannya, melainkan karena kitalah yang masih berusaha mengingatnya.” 

Itu kalimat yang menarik, aku bilang. Namun, meskipun Sita sudah memiliki buku tersebut sejak lama, dia bilang padaku kalau dia belum membacanya. Katanya, dia terlalu sibuk membuat sketsa.

Di Alun-Alun Utara, saat aku dan Sita makan bersama pada waktu maghrib, sebelum dia kuantar ke Terminal Giwangan untuk pulang ke rumah, menemui ayah, nenek, dan saudara-saudaranya di Madiun, dengan jujur, dia mengaku.

“Dulu, aku masih sering teringat mantan pacarku, seseorang yang sudah tidak lagi bersamaku, dan itu rasanya sakit. Namun, sekarang sudah tidak lagi. Aku merasa hidup sekarang. Bisa menikmati momen saat ini bersamamu, rasanya menyenangkan. Sungguh.”

“Syukurlah,” kataku. “Aku senang kau bisa menikmati saat-saat ini.”

Sementara di depanku sebuah laptop menyala, dan aku tengah menulis dengannya, di sampingku teman sekamarku terbangun. Dia melihatku sedang sibuk menulis.

Dengan suara bass-nya, dia bertanya, “Nulis apa, Mas?”

“Cerpen,” jawabku. “Kau akan membacanya nanti. Lihat saja.” Dia tersenyum.

“Memangnya tentang apa?”

Sebuah pertanyaan klasik. Saat kau menulis apa yang ingin kau tulis, biasanya orang akan bertanya begitu, seakan-akan sebuah tulisan selalu bisa disederhanakan tentang apa. Padahal isi tulisan biasanya selalu kompleks, meski memang seharusnya sebuah tulisan berfokus pada suatu hal secara mendalam.

“Ah, suatu hari, aku bilang, kau akan membacanya.”

Begitulah aku menjawab, menolak memberi tahu cerpen yang sedang kutulis tentang apa.

“Baiklah,” balasnya datar.

“Oh ya, di mana Septo?” tanyaku berpaling padanya. Wajahnya masih tampak mengantuk.

“Septo?”

“Ya, Septo.”

Teman sekamarku yang satu lagi namanya Septo. Seharian aku tidak melihatnya. Padahal aku tahu dia tidak sedang ada kuliah, tidak sedang ada aktivitas organisasi HMI, dan seterusnya. 

Seharusnya dia muncul di depanku. Seharusnya dia makan siang bersamaku, atau sekadar duduk berdua di kamar, bermain kartu Hearts di laptop, atau menonton film, mendengarkan musik, atau tidur.

“Seperti biasanya, kurasa dia sedang bersama Dita, pacarnya.”

“Ya,” balasku. “Kurasa itu hal yang paling menyenangkan.”

“Tentu saja. Siapa sih yang tidak suka saat-saat bersama orang yang dicintainya?”

“Ya,” jawabku, dan dengan begitu, aku pun telah selesai menuliskannya.