Jumat siang, seorang teman saya mengirim pesan WhatsApp. Dia menyatakan meninggalkan Jumatan karena khotbahnya berisi kebencian.

Gue Islam, loe Islam, kita masih diajari menyayangi semua makhluk Allah,” ujarnya membuka voice note satu setengah menit itu.  

Dia menceritakan bahwa sesi Jumatan itu—yang berlokasi di basement mall Pacific Place SCBD Jakarta—membahas mayoritas-minoritas dalam bahasa yang tidak menyenangkan.

“Itu khatib seolah-olah membenarkan kita yang mayoritas menindas minoritas,” terangnya.

Teman saya menceritakan isi khotbah itu terlalu politis. Tentu saja soal Pilkada Jakarta, soal calon gubernur yang tidak se-agama. Yang membuatnya kesal adalah dia terganggu dengan khatib yang mengungkapkan pilihan politiknya di ruang masjid, terlebih itu adalah mimbar Jumat yang agung.

Dia menyaksikan sejumlah jemaat lain merasa tidak nyaman dengan isi khotbah itu. Sebagian jemaat beralih memainkan ponsel dan mengobrol, berusaha tidak memperhatikan.

Bagi teman saya, Jumatan kali ini tidak memenuhi kebutuhan rohaninya. Ini adalah khotbah yang tidak sehat.

Gue berharapnya gue dapat pandangan agama, ceramah, dan pandangan baru. Ini malah kebencian,” tambahnya.

Akhirnya, sambil mengetahui bahwa khotbah Jumat hampir tidak bisa diinterupsi, dia memilih sikap yang lebih berani. Teman saya berdiri, keluar basement, menuju lift, dan kembali ke kantornya di lantai atas—langkah yang menurut saya tepat.

Sebelum bergerak lebih lanjut, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak akan membicarakan konsep dosa-pahala. Sebab itu merupakan hak prerogatif Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Saya juga bukan malaikat Raqib dan Atib yang bertugas mencatat amalan manusia. Selain itu, saya percaya bahwa dosa bukanlah matematika, serta Tuhan melihat niat bukan tindakan semata.

Yang jadi titik tekan di sini adalah mimbar agama kita terlalu sering digunakan untuk membicarakan politik praktis seperti Pilkada, yang sering kali diperparah dengan penyebaran kebencian dan permusuhan. 

Ketika para khatib menggunakan bahasa yang memecah belah seperti “kami” versus “mereka”. Ketika para pemuka agama menggunakan perspektif yang mengabaikan dan menegasikan keberagaman. Bayangkan ada berapa banyak masjid yang kini seperti demikian? Bayangkan berapa banyak benih kebencian yang telah ditanamkan?

Selalu ada kelompok yang menjelek-jelekkan kelompok lain di depan umat, baik itu saat Pilkada atau bukan. Pesan-pesan perpecahan seperti ini—dilakukan oleh siapa pun dan dialamatkan kepada siapa pun—tetap kontraproduktif bagi persatuan kita sebagai bangsa.

Hal ini sangatlah berbahaya. Buktinya? Ingat berapa kali Rizieq Shihab dan sejumlah ulama lain menggunakan kata “bunuh” dalam demo penjarakan Ahok? Lalu masih baru-baru ini sebuah bom molotov dilemparkan ke gereja di Samarinda dan menewaskan Intan Olivia? Ingat, kata-kata ulama adalah inspirasi umat.

Ketika kuliah di UNIKOM Bandung dulu, masjid di kampus saya dikelola oleh Lembaga Dakwah Kampus yang pro-khilafah. Konsekuensinya, banyak konten khotbah yang menghujat demokrasi—dan di saat yang sama menggunakan kebebasan berbicara yang dijamin dalam demokrasi itu sendiri. 

Kalau tidak setuju dengan sistem demokrasi, saya pikir, silakan kemukakan gagasan dengan santun, bukan dengan hinaan.

Akhirnya saya lebih sering mengendarai motor saya ke Masjid Salman ITB atau Masjid Istiqomah Bandung. Di kedua masjid itu saya mendapatkan pandangan yang lebih segar dan kadang dilengkapi referensi ilmiah. 

Saya ingat sekali khotbah di Salman menjelang Idulfitri 2010 mengenai sistem hisab dan penjelasannya secara astronomi. Khotbah itu berhasil membuat saya melihat masjid secara baru.

Saya membayangkan mimbar Jumat kembali ke posisinya yang istimewa. Tempat iman diajarkan tanpa menegasikan kebinekaan. Tempat yang membuat semua orang nyaman. Sebuah tempat di mana kita memuja Tuhan, tanpa perlu mencederai ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.