Telur adalah makanan yang sering kali kita nikmati dan sering kita makan. Telur yang sehari-hari kita nikmati, atau yang seminggu sekali kita makan, adalah sesuatu yang dihasilkan dari alat reproduksi unggas.

Bagi beberapa orang, telur itu enak kalau direbus setengah matang. Kalau saya sih suka makan telur setengah matang, diletakkan di atas gelas, ditemani dengan secangkir kopi hangat di pagi hari.

Di berbagai belahan dunia lainnya, telur setengah matang memang menjadi menu wajib untuk makan pagi. Apalagi di negara Indonesia, kalau merasa lapar, telur rebus matang menjadi solusi pengganjal perut yang baik.

Bagi manusia yang terobsesi dengan gym, telur ayam kampung itu sehat kalau ditelan mentah-mentah dengan tangan kiri, sambil pamer otot tangan kanan. Putih telur adalah konsumsi utama bagi mereka yang melakukan pose sana-sini.

Binaragawan dan binaragawati tidak pernah menghilangkan telur sebagai menu utama mereka dalam memperbesar otot-otot. Menjadi binaraga, ada harga yang harus dibayar: telur.

Bagi pengagum kecantikan dan para sosialita, telur itu bisa jadi masker yang menyehatkan dan melembabkan kulit. Maskara alami. Natural. Kembali ke alam. Telur, katanya, bisa membuat kulit menjadi lebih mengkilap. Entah bagaimana cara kerjanya, atau penjelasan saintifiknya.

Bagi sebagian para penganut agama, telur itu berkait dengan kelinci Easter Bunny Honey Sweety Bum-bum.

Tetapi bagi politisi, telur adalah simbol kengerian. Simbol protes dari seorang yang dianggap ngehek alias semprul dalam meresponi keadaan yag ada di sekitarnyaBagaimana kisahnya? Begini.

Suatu hari yang biasa-biasa saja di New Zealand yang kita kenal dengan Selandia Baru, terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh teroris. Satu per satu orang yang sedang beribadah di masjid ditembaki oleh seorang secara brutal.

Memberondong peluru satu per satu tepat ke arah kerumunan secara sadis. Live streaming. Video sempat menyebar ke segala penjuru dunia.

Aksi ini menewaskan 49 orang di tempat dengan puluhan lainnya luka berat. Peristiwa brutal ini mengundang reaksi keras dari warga dunia.

Semua orang marah. Semua orang mengutuk kejadian itu. Semua pemimpin negara berbelasungkawa terhadap kejadian itu. Beberapa politisi dan caleg di Indonesia juga malah cari angin di atas kejadian brutal itu. Jaka Sembung bawa golok. Gak nyambung, jancuk!

Peristiwa ini pun juga direspons oleh salah seorang senator Australia. Orang ini mengatakan bahwa kesalahan ada pada agama korban. Apa? Benar-benar jauh akal dari otak.

"Keberagaman budaya etnis telah dibiarkan berkembang ke arah yang membahayakan di banyak tempat (di Australia)… Kebanyakan Muslim di Australia yang berusia kerja tidaklah bekerja melainkan tergantung pada tunjangan,” ujar Fraser Anning

Halah. Piye iki? Kok malah salahkan korban? Sebenarnya berbicara mengenai telur, kita harus sadar bahwa telur sudah berevolusi dari komoditas pangan menjadi komoditas politik. Telur itu enak. Telur itu juga tidak enak.

Telur berubah menjadi simbol protes dari seorang warga Australia, Will Connolly. Seorang yang disebut dengan Eggboy.

Si pria telur ini benar-benar mempertontonkan sikap protesnya kepada publik. Memprotes atas aksi dan tindakan dan ucapan intoleran dari seorang senator Australia. Fraser Anning, kepalanya jadi tempat telur itu tumpah dari tangan sang Eggboy.

Pria itu dengan santai menepuk telur yang ada di genggaman tangannya, ke arah kepala Fraser Anning. Walhasil, pria tua itu menengok ke arah anak muda, meninjunya sekali. Meninjunya dua kali. Buk, buk. Kemudian aksi brutal Fraser akhirnya bisa ditahan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Telur itu menjadi saksi bisu bahwa bagaimana sejatinya politisi bisa dibegitukan. Dan layakkah dia dibegitukan? Apakah ini aksi pelanggaran hukum dilakukan oleh Eggboy? Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Dari tindakan Eggboy, tentu hal ini merupakan tindakan yang merendahkan orang lain. Tetapi dari sisi kemanusiaan, tindakan Eggboy adalah bentuk protes. Protes macam apa yang dilakukan? Protes terhadap mulut.

Telur itu tidak layak dimasukkan ke mulut Fraser. Maka telur itu diletakkan dan dipecahkan di atas kepala sang senat yang terhormat itu. Ceplok.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya direndahkan oleh seorang muda. Eggboy ini tentunya berhasil merevolusi peranan telur.

Bentuk protes semacam ini adalah bentuk protes normal dari warga, terhadap kata-kata yang diucapkan oleh politisi. Alangkah indahnya Indonesia jika politik di Indonesia diisi oleh telur-telur.

Tidak bisa dibayangkan mereka-mereka yang asal bicara tentang sesuatu, dihujani oleh telur-telur. Kalau di Indonesia, mungkin melempar telur bisa dianggap sebagai bentuk pemborosan. Mungkin lebih baik telan saja telur itu ketimbang dipakai menimpuk.

Bentuk protes lempar telur mewabah, dan siap menjadi sebuah tren yang akan terjadi. Biasanya, kalau ada orang yang ulang tahun, kita lemparkan telur, kemudian tepung, dan tentunya lengket.

Tetapi untuk politisi, pelemparan telur tidak berarti bahwa mereka ulang tahun. Tetapi dilempari telur adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap mereka.

Bukan hal yang mustahil jika aksi lempar telur ini menjadi aksi yang akan mewabah di Indonesia dan masuk Senayan.

Sebelum Senayan diisi oleh orang-orang baik, mungkin yang kotor-kotor di dalam harus “dibersihkan” dengan telur busuk. Kalau perlu telur yang setengah jadi. Mantap itu, kawan.

Semoga saja dengan membersihkan Senayan dengan telur, kita melihat bagaimana ada revolusi yang terjadi. Kalau tidak pakai telur, bisa saja pakai tepung. Cari yang murah.

Ini bukan pemborosan, tetapi ini adalah “investasi”, gaes. Kalau para pembaca melihat artikel ini sebagai artikel yang provokatif, rasanya tidak salah, tetapi tidak benar-benar banget sih.