Saya tidak bisa memastikan kapan polemik identitas agama di Indonesia mula-mula menyeruak. Namun, jika mengira kapan momen itu diberi panggung, saya dapat dengan mudah mengingat tanggal 4 November 2016, sewaktu ribuan orang datang dari berbagai wilayah untuk satu alasan, yaitu mempidanakan Ahok atas tuduhan penodaan agama.

Ribuan orang itu jelas mendaku diri sebagai muslim, serempak menggunakan atribut serbaputih, dengan sebagian besar di antaranya secara tegas menyatakan bahwa Ahok telah menistakan agama Islam. 

Lebih-lebih menyatakan bahwa Islam sebagai agama, begitu pula penganutnya telah cukup sering mendapat ketidakadilan (baca: dizalimi) di negeri ini: terlepas bahwa pernyataan Ahok terbukti disunting secara sengaja oleh seseorang (yang kini telah terbukti bersalah atas tindakan manipulasi video Ahok), dan terlepas pula dari fakta bahwa justru identitas Islam-lah yang telah dan masih menjadi “primadona” di negeri dengan sejuta budaya ini.

Untuk mengelaborasi asumsi tersebut, saya tidak akan berbicara banyak tentang teori. Tulisan saya juga bukan berasal dari hasil riset mendalam, melainkan berdasarkan pengalaman dan perasaan pribadi sebagai warga negara biasa, yang tumbuh berkembang di Indonesia serta terpapar budaya populer hingga kemudian pelan-pelan bertanya dalam diri, “sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Atas pengaruh budaya populer tersebut, maka apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini sangat dipengaruhi oleh apa yang terlihat dari televisi.

Mengapa saya bisa menyatakan bahwa identitas Islam tengah menjadi “primadona” –dan bukannya terzalimi?

Lihatlah televisi Indonesia masa kini, utamanya pada tayangan sinetron/FTV. Bagi generasi 90-an yang masa mudanya rajin melihat TV, dengan masa dewasa sesekali mengintip TV untuk bernostalgia, pasti menyadari bahwasanya sinetron bernuansa religi yang dulu hadir sewaktu bulan Ramadhan saja, kini seperti dapat kita jumpai dalam berbagai sajian sinetron/drama produksi dalam negeri di beberapa saluran TV, seperti RCTI, Indosiar, SCTV, dan lain-lain.

Nuansa religi yang cenderung islami tersebut dapat dengan mudah teridentifikasi melalui penggunaan atribut-atribut islami seperti kerudung, peci, sajadah, dan lain sebagainya; sematan “haji” yang dibubuhkan ke lakon-lakon penting; maupun dialog-dialog berciri islami yang khas dengan mengutip ayat Alquran, sunnah Nabi, atau melafalkan interjeksi-interjeksi berbahasa Arab semacam “Allahu Akbar”, “Astagfirullohaladzim”, “Subhanallah”, dan lain sebagainya.

Beberapa rumah produksi yang bekerja sama dengan suatu stasiun televisi seakan mandeg kreativitas, kalau tidak ingin hanya dikata “cari aman” untuk mendapatkan keuntungan dalam hal materi ataupun non-materi (reputasi). 

“Cari aman” ini mewujud dalam praktik yang hanya memproduksi tontonan-tontonan yang sesuai dengan budaya mayoritas masyarakat Indonesia (yang beragama mayoritas Islam), agar kiranya lebih mampu menggaet banyak penonton, mempertahankan rating, dan dengan begitu, mendatangkan banyaknya iklan untuk memperoleh laba yang besar. Itu hipotesis saya.

Sebagai contohnya, kita bisa mencatut dua sinema yang pernah menduduki rating cukup tinggi di Indonesia dan masih tayang ketika tulisan ini diketik. Sinetron pertama bertajuk “Anak Langit” yang ditampilkan di SCTV dan sinetron kedua berjudul “Jodoh Wasiat Bapak” yang tayang di ANTV. Keduanya tampil pada rentang waktu utama (primetime).

Meskipun tema kedua sinetron ini berbeda, yang satu berkutat pada problema cinta dan geng motor, sedangkan yang satunya lagi berkelindan tentang azab-azab kepada manusia akibat kesalahannya, namun sisi-sisi religius para tokoh utama seakan tidak pernah absen menyertai dialog maupun latar cerita. Seakan-akan dunia yang direpresentasikan oleh sinetron-sinetron tersebut tidak memberi ruang pada keberagaman untuk juga tampil dan berkembang.

Melihatnya seperti hanya ada hitam dan putih. Tidak ada warna lain, agama lain, budaya lain. Lakon utama nyaris selalu dicirikan dengan properti islami, sedangkan lawannya, kalau tidak diceritakan “musyrik”, ya tidak teridentifikasi—agamanya (bisa dibuktikan sendiri dengan melihat sinetron-sinetron tersebut ketika luang).

Rasa-rasanya belum pernah saya menonton sinetron yang latarnya mengambil lokasi di gereja atau minimal pemainnya membuka percakapan dengan salam “om swastiastu”. Malahan yang sering ditampilkan adalah adegan menangis atau bertaubat sambil salat; bercakap-cakap dengan menyelipkan ayat Alquran, hingga tak ada bedanya dengan sedang ceramah.

Serta ironisnya telah mulai merambah pada stereotip penampilan, seperti pemakaian kerudung yang identik dengan tokoh perempuan berkarakter baik dan kerap dizalimi, sedang perempuan berkarakter tidak baik lekat dengan rambut terurai dan pakaian yang terbuka.

Dari hasil pengamatan tersebut, apakah pernyataan saya bahwa Islam sedang menjadi primadona di Indonesia, utamanya di kancah pertelevisian, terkesan mengada-ada? Saya memahami bahwa jangkauan Indonesia begitu luas dan tidak dapat serta-merta diwakilkan oleh TV semata. Akan tetapi, kita juga tidak dapat mengesampingkan dampak televisi kepada para penontonnya, yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia.

Menurut survei Nielsen (lembaga riset rating), jumlah penonton TV di 11 kota besar di Indonesia rata-rata berjumlah 5,9 juta orang per hari1. Meski tidak terdapat data spesifik yang menunjukkan jumlah penonton sinetron dari 5,9 juta orang tersebut, rating Nielsen mengenai program televisi hampir tidak pernah luput dari sinetron. Peringkat tiga besar rerata selalu ditempati oleh sinetron.

Yang dikhawatirkan, penonton sinetron ini memaklumi bahwa budaya sinetron yang mereka tonton adalah budaya Indonesia yang sebenar-benarnya, hingga mereka lupa bahwa saudara sebangsanya tidak hanya orang berwajah Melayu yang pergi ke masjid untuk beribadah, tetapi juga orang-orang bermata sipit atau berkulit hitam, yang pergi ke klenteng, gereja, kuil, vihara, bahkan kepada hutan yang tersisa untuk bergulat dengan spiritualitasnya, dan lain sebagainya.

Saya menulis ini karena tidak ingin televisi terus-menerus menyoroti satu golongan saja, sedang yang lain dianggap tidak lebih penting hingga merasa terkucilkan. 

Jangan sampai penonton yang terbiasa melihat “satu warna” di TV begitu mudah terjangkit geger budaya saat bertemu dengan ras/budaya/adat yang berbeda. Jangan sampai ada yang merasa bahwa mereka yang paling utama di Indonesia, hingga jika berbuat tidak setara pada yang tidak sama, lama-lama teranggap biasa saja. #dukungtayanganbhineka!