Sabtu siang Hida menelepon orang tuanya hendak meminta uang jajan yang kebetulan sudah habis tak bersisa. Siang itu mamahnya yang mengangkat telepon dari Hida, mamah Hida menjawab akan menitipkannya pada kaka sepupu perempuan Hida yang juga kuliah di kampus yang sama. Di sela telepon bapak Hida mengambil alih pembicaraan, ia menyuruh Hida untuk pulang ke esokan harinya.

Sebenarnya jarak rumah Hida dengan koskosan tidak terlalu jauh, hanya perlu satu jam perjalanan menggunakan motor ke arah perbatasan Bogor-Serpong. Namun, sejak semester dua Hida memilih untuk tinggal di sekitaran kampus agar bisa fokus belajar dan ikut berorganisasi.

"Kamu besok pulang dulu ya, ini bapak ada uang sedikit untuk bayar kuliah biar kamu cepat wisuda," bapak Hida meminta anaknya pulang sebentar.

"Yah, maaf pak besok Hida ada kegiatan galang dana buat pendirian taman baca di kampung, besok mau jualan dulu di depan kampus. Nanti mungkin hari senin Hida pulang, habis wawancara ya pak," Hida menjawab telepon dari bapaknya.

"Letak rumah yang tidak jauh terasa jauh saat menghubungi orang tua dan minta uang jajan, seperti perantauan dari luar Pulau saja," gumam Hida dalam hatinya.

Sabtu siang sampai malam tidak ada kegiatan penting yang dilakukan Hida, ia hanya bermalas-malasan dan sesekali membaca buku di koskosannya. Padahal bisa saja Hida pulang terlebih dahulu untuk mengambil uang, lalu malam harinya ia bisa kembali lagi ke koskosan. Ituah Hida meski dekat tapi malas pulang, pernah sekali waktu tiga bulan ia tidak pulang ke rumah. Entah apa yang buat dia nyaman di Ciputat, sampai-sampai malas untuk sejanak pulang ke beranda.

Minggu pagi, 30 April 2019 Hida bersama teman-temannya dari rumah berjualan di depan kampus. Hasil dari jualan itu 100% digunakan untuk pembentukan taman belajar di desanya. Kaka sepupu Hida yang juga ikut berjualan menyerahkan amplop berisi uang kepada Hida. Hida sedikit sumringah, setidaknya makan seminggu ke depan bisa aman.

Pagi itu hasil penjualan terbilang lumayan, karena Hida dan teman-temannya hanya menjual pakain bekas yang didapat dari pemberian  orang lain. Tidak ada modal besar yang dikeluarkan, cuma uang keamanan sebesar lima ribu rupiah yang ditarik oleh pentolan penjaga pasar kaget tempat berjualan.

Usai berjualan Hida dan teman-temannya menyempatkan untuk makan bersama, sambil bercengkrama, becanda, dan memikirkan bagaimana langkah selanjutnya mengumpulkan uang untuk pendirian taman baca. Pukul 11.00 mereka pulang ke rumah dan Hida kembali ke koskosan, mengulang rutinitas membaca buku, ngopi, dan bermalas-malasan sambil menyiapkan diri untuk wawancara di salah satu media daring besok paginya. Nampaknya Hida terlalu percaya diri, tidak ada sama sekali persiapan yang ia lakukan. Ia hanya berharap bisa masuk bekerja dan bisa mandiri bahkan membantu orang tuanya.

"Besok jam 09.00 gua harus udah di kantor buat wawancara, jadi gua harus tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi," Hida mengatakan itu pada dirinya sendiri.

Dengan stelan kemeja dan celana panjang, rambut kelimis, dan tas berisi data diri Hida beranjak dari koskosan menuju Stasiun Pondok Ranji. Tujuannya senin pagi yang cerah dan penuh harapan itu adalah salah satu Kantor di bilangan Pasar Minggu. Pagi itu ia tidak ingin merepotkan teman satu koskosannya untuk mengantarnya pakai motor ke stasiun, Hida memilih naik angkot untuk sampai ke stasiun.

Optimisme membumbung tinggi, hobi yang akan menjadi profesi ada di depan mata. Di dalam angkot yang lengang, Hida sudah menyiapkan semuanya dalam otak jawaban-jawaban yang akan ditanyakan. Sambil sesekali mencari referensi dari Google.

Tiba-tiba notifikasi muncul di grup WhatsApp pemuda di rumah. Isinya ucapan belasungkawa kepada Hida, tapi Hida tidak memerdulikan itu ia berpikir mungkin orang lain yang mirip namanya di situ atau mungkin salah kirim. Hida sampai di Stasiun Pondok Ranji, ia membeli tiket tujuan Pasar Minggu. Beberapa detik sebelum memasuki peron, kaka sepupunya menelepon, isak tangis terdengar. Pikiran Hida langsung menuju ke bapaknya, membenarkan pesan di grup WhatsApp yang sempat ia tampik.

Benar saja, kaka sepupu Hida meminta ia pulang tanpa menyebutkan alasannya. Tapi semua seketika terbongkar saat grup WhatsApp pemuda di desa mulai ramai dengan ucapan belasungkawa. Bahkan di salah satu grup tersebar foto Kartu Tanda Penduduk milik bapak Hida. 

Sambil menahan air mata yang sudah diujung kelopak, Hida bergegas mengalihkan tujuannya ke rumah, ke arah stasiun Cisauk. Semua ingatan masa lalu tentang bapaknya menyergap pikiran Hida, semuanya tiba-tiba menjadi terang kembali, air mata tidak bisa lagi dibendung, menetes ke pipi sambil menguatkan tungkai kaki melangkah keluar stasiun.

Sesampainya di stasiun Cisauk, teman Hida sudah siap menunggu kebetulan saat itu Ridwan sedang ada di sekitaran stasiun. Sambil tetap menjaga air mata tidak tumpah, Hida mencoba untuk ngobrol biasa dengan Ridwan. Seratus meter sebelum sampai rumah, Hida dengan jelas melihat bendera kuning tepasang di pinggir jalan dan orang-orang ramai berdatangan ke rumah Hida.

Turun dari motor, Hida mencoba berjalan tenang dan bukan langsung menuju ke rumah. Ia malah mencari adik perempuan terkecilnya yang waktu itu terlihat dari kejauhan sedang bermain dengan temannya. Entah apa yang ada dipikirannya, ia mengelus dan mencium kepala adiknya lalu membawanya pulang ke rumah. Orang-orang yang bertakziyah tidak ada peduli dengan kedatangan Hida. Di sana lah Hida merasa dirinya amat sangat berdosa tidak memenuhi panggilan bapaknya untuk pulang sebentar.

Jerit tangis dan bunyi ayat-ayat suci kian jelas terdengar, bau kamper dan minyak wangi khas mayat merebak. Hida menghampiri mamahnya, memeluknya dan mencoba menguatkannya. Air mata masih tertahan diujung kelopak mata sampai selesai memandikan jenazah bapaknya. 

Namun air matanya tidak bisa dibendung lagi, saat Hida bersimpuh di depan jenazah bapaknya yang sudah dikafani sembari membacakan Yasin dan do'a. Hida menangis mengingat telepon lusa kemarin adalah perintah terakhir dari bapaknya. Ingatan masa lalu semuanya merangsek masuk dan mengepung kepala Hida.