Sebelumnya, saya tertarik membahas ini karena melihat tulisan di media sosial tertentu yang membahas persoalan handphone dan pesawat. Mereka memperdebatkan apakah telepon genggam adalah penyebab kecelakaan pesawat tertentu. 

Tentu saja, saya sebagai mahasiswa Teknik Fisika merasa tertarik dan tertantang untuk menjabarkan ini secara sederhana. Semoga wawasan yang saya sampaikan bisa menjadi bahan pikiran untuk kembali dikritisi atau dijalani oleh para pembaca sekalian.

Telepon genggam—biasa kita kenal sebagai HP—telah menjadi teman baik hampir bagi semua orang. Ia sangat susah ditinggalkan apalagi dalam perjalanan berjam-jam yang membosankan di angkasa hanya ditemani oleh kapas-kapas putih melayang. 

Karena hal tersebut, kalimat “non-aktifkan barang-barang elektronik Anda” selalu menjadi kemurungan bagi mayoritas orang saat berada di pesawat. 

Lalu, yang menjadi pertanyaan, apakah itu benar? Apakah menghidupkan dan tidak menghidupkan barang elektronik ada dampaknya? Bagaimana dengan airplane mode? Ayo, coba kita ulik bersama.

Peraturan pemerintah soal pelarangan barang elektronik pada penerbangan komersil pertama kali disahkan secara hukum di Amerika pada tahun 1991. Penyebabnya adalah ketakutan dari pihak pemerintah yang merasa bisa terjadi interferensi gelombang antara barang elektronik dengan komponen elektronik pesawat—bahkan yang tidak mentransmisi data sekalipun seperti DVD player. 

Ini semakin diperkuat dengan indikasi adanya deteksi yang salah terhadap orientasi pesawat pada tahun 1999 karena gawai, DVD player, dari salah satu penumpang—klaim dari NASA melalui ASRS dan kejadian ini tidak menimbulkan kecelakaan. Tentu saja ini semakin memunculkan keyakinan akan adanya hubungan destruktif antara gelombang yang dihasilkan oleh barang elektronik dan dari menara kontrol (ATC).

Namun, hal ini berubah seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Avionics (barang elektronik di aviasi) telah dibuat sedemikian rupa sehingga semakin sulit untuk memungkin terjadinya interferensi. Selain itu, jaringan komunikasi dari telepon genggam juga telah ditentukan di frekuensi khusus yang dijamin tidak akan menggangu lalu lintas gelombang lainnya. 

Oleh karena itu, akhirnya pada 2013, Amerika sebagai salah satu negara paling pertama yang mengatur soal gawai elektronik pada aviasi mengizinkan pemakaian barang elektronik dengan mode pesawat. Di saat yang sama, Eropa bahkan mengizinkan penggunaan telepon genggam tanpa mode pesawat asal tidak melakukan panggilan yang didasari oleh keinginan untuk menjamin kenyamanan penumpang lain dari polusi suara.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita tahu bahwa belum ada maskapai di Indonesia yang secara eksplisit memberikan izin untuk menggunakan telepon genggam walau dalam mode pesawat. Hal ini wajar karena memang ada undang-undang yang menjamin hal tersebut, yaitu UU No 1 tahun 2009 tentang penerbangan. 

Maka timbul pertanyaan, kenapa kalau di luar sudah diganti, sedang kita belum? Ini bisa terjadi karena 2 hal.

Pertama, bisa jadi pesawat Indonesia kurang canggih. Namun, seperti yang kita ketahui, pesawat di Indonesia tidaklah kalah maju dengan asing. Kita juga punya Boeing 737 Max 8, Boeing 777–300ER, dan pesawat lain yang avionics-nya jelas sudah bagus. 

Ini menunjukkan bahwa seharusnya kita sudah bisa memiliki regulasi yang sama dengan mereka. Bahkan menurut pengakuan beberapa pegawai, pilot di Indonesia juga menggunakan gawai jenis tablet untuk membantu menentukan posisi yang lebih presisi.

Berikutnya, yang kedua, ini mungkin terjadi karena regulatornya tidak merasa kebijakan ini menguntungkan bagi pihak atau kepentingan yang membawa dampak bagi popularitasnya. Mungkin, ini juga tanda bahwa kita butuh banyak orang yang punya kegelisahan soal teknologi dan kenyamanannya sebagai seorang pembuat hukum atau penentu keputusan. 

Selain itu, sebenarnya juga ada masalah sosial yang ditakutkan bisa terjadi di dalam pesawat, seperti penggunaan telepon yang bisa menggangu penumpang lain, lalu merusak fokus mereka saat mendengarkan safety induction. Ini belum termasuk saat pesawat ada dalam keadaan darurat yang memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap sekitar.

Jadi yang bisa kita tuntut di sini adalah kejelasan, sebenarnya apa alasan kita tidak bisa bermain handphone di angkasa bersama burung besi. 

Karena akan sangat tidak benar, menurut saya terkhususnya, jika masyarakat dibohongi apalagi menggunakan sains sebagai perisainya. Sebab, sudah seharusnya, sains disajikan dengan integritas dan kejujuran yang dijunjung tinggi demi kesamaan pengetahuan antar-insan.

Sekian berbagi wawasan kali ini. Semoga bisa bermanfaat agar kita semakin bukannya takut dengan ilmu sains, melainkan haus akannya dan terus ingin belajar. Karena kesalahpahaman di zaman sekarang sering berujung ke pelimpahan kesalahan kepada Ilahi daripada intropeksi diri sendiri.

Salam sains untuk Indonesia!